Temuan awal dari uji coba tersebut menunjukkan bahwa efektivitas wawancara tidak ditentukan oleh banyaknya pertanyaan yang diajukan, melainkan oleh ketepatan pertanyaan dan kemampuan menggali informasi lebih lanjut.
Analisis terhadap transkrip wawancara memperlihatkan bahwa pendekatan yang efektif cenderung ditandai dengan pertanyaan yang terarah, tindak lanjut yang relevan, serta kemampuan beradaptasi ketika informasi baru muncul, bukan sekadar mengikuti daftar pertanyaan yang telah disiapkan.
Hasil awal ini memperlihatkan potensi AI generatif dalam pendidikan bisnis yang melampaui fungsi pencarian informasi atau penyedia jawaban instan. Melalui simulasi interaktif, mahasiswa dapat berlatih menghadapi situasi yang menyerupai dinamika dunia kerja, ketika keputusan harus dibuat berdasarkan informasi yang terbatas, perbedaan kepentingan, dan ketidakpastian.
NUS Business School juga melihat peluang untuk memperluas metode ini ke berbagai disiplin ilmu bisnis lainnya. Simulasi AI dapat digunakan untuk melatih mahasiswa menguji argumen para pemangku kepentingan, menegosiasikan kepentingan yang saling bertentangan, serta mengambil keputusan dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan.
Dengan pendekatan tersebut, studi kasus yang sebelumnya bersifat statis dapat berkembang menjadi pengalaman belajar yang lebih dinamis dan menuntut keterlibatan aktif mahasiswa.
Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya NUS Business School mengintegrasikan AI ke dalam pendidikan tanpa mengesampingkan peran manusia dalam proses pembelajaran. Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan berpikir kritis, mempertajam pertimbangan, dan membangun adaptabilitas yang dibutuhkan calon pemimpin dalam lingkungan kerja yang semakin terdigitalisasi.
Kebutuhan tersebut semakin relevan seiring meningkatnya adopsi AI oleh perusahaan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di tengah semakin luasnya penggunaan teknologi ini dalam berbagai lini operasional, pemimpin bisnis perlu memiliki kemampuan untuk mempertanyakan, memverifikasi, dan menilai informasi yang dihasilkan AI sebelum menjadikannya dasar pengambilan keputusan.
Potensi ekonominya pun cukup besar. Studi Kearney dan EDBI pada 2020 memproyeksikan bahwa pemanfaatan AI dapat memberikan tambahan hingga US$366 miliar terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2030, setara dengan sekitar 12% dari proyeksi PDB negara tersebut.
Proyeksi ini menggambarkan besarnya peluang ekonomi yang dapat didorong oleh AI sekaligus pentingnya kesiapan sumber daya manusia dalam memanfaatkannya secara efektif.
Melalui pendekatan pembelajaran berbasis simulasi, NUS Business School menekankan bahwa kemampuan memimpin di era AI bukan hanya tentang memahami teknologi atau memperoleh jawaban dengan cepat. Kemampuan menggali informasi, menguji asumsi, mempertimbangkan beragam perspektif, dan menentukan langkah yang tepat tetap menjadi bekal penting bagi pemimpin bisnis untuk menghadapi tantangan yang terus berkembang.
Baca Juga: Trehaus School Asal Singapura Resmi Hadir di Jakarta