PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkuat transformasi bisnis dari perusahaan pialang tradisional (traditional brokerage) menjadi penyedia layanan wealth management terpadu. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan menangkap peluang pertumbuhan kelas menengah dan kelompok high net worth di Indonesia.

Transformasi ini ditegaskan dalam acara Media Day bertajuk “Turning Market Momentum Into Long-Term Wealth” yang digelar di Discovery SCBD, Jakarta, pada Selasa (18/08/2026). 

Director Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Tomi Taufan, mengatakan Indonesia masih memiliki prospek pertumbuhan yang positif. Menurutnya, perkembangan consuming class dan segmen high net worth turut membuka peluang besar bagi bisnis wealth management.

Baca Juga: Mirae Asset Sekuritas Lihat Peluang Pasar Ditopang Valuasi dan Status MSCI

In terms of business, saya tetap optimis bahwa Indonesia akan makin tumbuh ke depannya. Dari traditional brokerage, di sini ada potensi tumbuh yang cukup signifikan. Kita sedang transformasi dari traditional brokerage to wealth management business,” ujar Tomi.

Untuk mendukung transformasi tersebut, Mirae Asset memperkuat lima pilar utama, yakni service, product, access, global network, dan technology.

Perusahaan juga menyiapkan investasi teknologi hingga Rp100 miliar dalam tiga tahun ke depan. Investasi tersebut akan diarahkan untuk pengembangan super apps serta integrasi sistem berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) guna meningkatkan kualitas layanan dan pengelolaan portofolio nasabah.

Baca Juga: Investment Grade Indonesia Masih Aman, Mirae Asset Sekuritas Ingatkan Risiko Pertumbuhan Ekonomi

Selain memperkuat layanan, Mirae Asset juga memperluas pilihan instrumen investasi bagi masyarakat melalui Exchange Traded Fund (ETF) Emas yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Head of Business Development Mirae Asset Sekuritas, Simon Gunawan, menjelaskan ETF Emas merupakan produk reksa dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK) yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa. Aset dasar produk tersebut berupa emas fisik dalam bentuk Electronic Gold Receipt (EGR).

Menurut Simon, ETF Emas menawarkan sejumlah keunggulan bagi investor. Selain dapat menjadi instrumen diversifikasi dan lindung nilai terhadap inflasi serta risiko pasar, investor tidak perlu menyimpan emas secara fisik karena aset tersebut disimpan oleh pengelola kustodian.

Baca Juga: Mirae Asset Sekuritas: Koreksi Pasar Bisa Jadi Peluang Investasi

Instrumen ini juga dapat diperdagangkan secara real-time di bursa layaknya saham sehingga memberikan fleksibilitas bagi investor dalam melakukan transaksi.

“ETF Emas ini mekanismenya sama seperti saham di bursa, untuk saat ini transaksinya masih satu arah (long) dan ditujukan untuk pembentukan wealth jangka panjang,” kata Simon.

Sebagai Dealer Partisipan, Mirae Asset Sekuritas turut berperan dalam menjaga likuiditas ETF Emas serta memfasilitasi proses pembentukan dan pencairan unit (creation and redemption) di pasar.

Untuk mendorong pemanfaatan ETF Emas, Mirae Asset akan mengembangkan strategi edukasi pasar secara berkala sekaligus memperluas distribusi melalui kanal digital. Produk tersebut menyasar berbagai segmen investor, mulai dari ritel, affluent, hingga institusi.

Baca Juga: PDB Lampaui Ekspektasi, Mirae Asset: Rupiah Jadi Kunci Arah IHSG

Di sisi lain, Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menyoroti kondisi ekonomi makro yang turut memengaruhi pergerakan pasar keuangan domestik.

Rully mengatakan keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas ekonomi (balancing growth and stability) menjadi hal penting di tengah dinamika ekonomi global.

Menanggapi pertanyaan mengenai target nilai tukar rupiah pemerintah di level Rp17.500 per dolar AS, Rully menilai pergerakan rupiah masih sangat dipengaruhi faktor eksternal.

Baca Juga: Konsumsi Rumah Tangga Makin Defensif, Mirae Asset Sekuritas Tunjuk Sektor Ini sebagai Peluang

“Untuk rupiah bisa menguat, faktor globalnya jauh lebih dominan dibandingkan dengan faktor domestik. Perlu kestabilan global dan tingkat yield yang memadai untuk menjaga ketahanan mata uang kita,” jelas Rully.

Sementara itu, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nurcholish Syafruddin menyoroti perkembangan sektor perbankan nasional. Ia mengatakan pertumbuhan kredit yang relatif cepat perlu dilihat bersamaan dengan kondisi likuiditas dan rasio intermediasi perbankan untuk memastikan fundamental ekonomi tetap terjaga.

Melalui transformasi menuju bisnis wealth management, penguatan teknologi, serta pengembangan instrumen investasi seperti ETF Emas, Mirae Asset Sekuritas menargetkan dapat memperluas perannya dalam membantu masyarakat mengelola dan mengembangkan kekayaan secara berkelanjutan.