Jika ada sastrawan perempuan Indonesia yang layak disebut sebagai pelopor penting dalam sastra feminis, maka Nh. Dini adalah sosoknya.
Bagi banyak pembaca, ia menjadi suara perempuan yang paling jujur dan konsisten menyuarakan pergulatan hidup dengan keberanian, ketulusan, dan ‘kebawelan yang panjang’, sebagaimana dijuluki oleh Putu Wijaya.
Lahir di Semarang pada 29 Februari 1936, selama lebih dari enam dekade berkarier, Nh. Dini telah menulis lebih dari 40 buku, ratusan cerpen, puisi, hingga naskah drama. Karakter-karakter perempuannya tampil kukuh, kritis, penuh emosi, dan mencerminkan kompleksitas pengalaman perempuan dari masa ke masa.
Lantas, siapa sebenarnya Nh. Dini, dan bagaimana perjalanan hidup serta karya-karyanya membentuk wajah sastra Indonesia? Berikut ulasan Olenka mengenai profil dan kiprah sang sastrawan legendaris, yang dirangkum dari berbagai sumber pada Rabu (26/11/2025).
Latar Belakang Keluarga dan Masa Kecil
Dikutip dari Detik, Nh. Dini merupakan anak bungsu dari lima bersaudara, putri pasangan Salyowijiyo, pegawai perusahaan kereta api, dan Kusaminah, seorang pembatik yang piawai bercerita. Ia juga memiliki darah Bugis dari garis ibunya.
Dini punya empat orang kakak, yaitu Heratih, Mohamad Nugroho, Siti Maryam, danTeguh Asmar. Dari keempat saudaranya itu yang paling akrab dengan Dini adalah Teguh Asmar karena keduanya sama-sama seniman.
Nh Dini juga dekat dengan ayahnya yang telah membimbingnya dalam mencintai seni. Ayahnya pernah berpesan agar Dini belajar menari dan memukul gamelan yang tujuannya untuk mendidiknya supaya Dini memahami kelembutan dalam kehidupan.
Dalam buku Langit dan Bumi Sahabat Kami (1994), Dini mengenang ayahnya sebagai orang pertama yang percaya pada bakat menulisnya. Arahan sang ayah agar ia belajar menari dan gamelan juga membentuk sensibilitas estetiknya sejak kecil. Dini pun tumbuh jadi sosok lembut, kontemplatif, namun teguh memegang prinsip.
Awal Ketertarikan Menulis
Minat menulis Nh. Dini sudah terlihat sejak duduk di bangku sekolah dasar. Dikutip dari laman Gramedia, ia mulai menuliskan isi pikirannya di buku-buku pelajaran, lalu semakin aktif menulis di majalah dinding saat SMA. Pada usia 15 tahun, ia telah membacakan sajak-sajaknya di RRI Semarang dalam program Tunas Mekar.
Dikutip dari Kompas.com, karya-karyanya mulai dimuat di majalah Budaja dan Gadjah Mada pada 1952. Pada 1956, kumpulan cerpen pertamanya, Dua Dunia, terbit dan memperkuat pijakannya di dunia sastra.
Kehidupan Pribadi
Setelah lulus SMA, dikutip dari CNN Indonesia, Nh. Dini bekerja sebagai pramugari Garuda Indonesia Airways (1956–1960), sembari belajar di Atase Kebudayaan Prancis.
Tahun 1960, dikutip dari laman Identitas Unhas, ia menikah dengan diplomat Prancis Yves Coffin. Pernikahan ini membawa Dini menetap di berbagai negara seperti Jepang, Kamboja, dan Prancis.
Dari pernikahan ini, lahir dua anak, yaitu Marie-Claire Lintang, dan Pierre-Louis Padang Coffin, yang dikenal dunia sebagai kreator karakter Minions.
Namun, kehidupan rumah tangga Dini berakhir pada 1984. Tahun yang sama, Dini kembali ke Indonesia dalam kondisi sakit kanker, tetapi kemudian pulih dan bangkit menulis kembali.
Usai bercerai, Nh. Dini pun pernah tinggal sendiri di Semarang sebelum akhirnya memutuskan pindah ke Panti Werdha di Ungaran dan aktif membina anak-anak melalui Pondok Baca Sekayu.
Dikutip dari Tempo, ia memilih hidup sederhana, melukis Chinese painting, menulis, mengisi teka-teki silang berbahasa Prancis, dan tetap produktif. Ia tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Baginya, perempuan harus mampu berdiri sendiri.
Puncak Karier dan Karya Legendaris
Meski menulis sejak 1950-an, karya besarnya baru hadir pada 1972. Dikutip dari Kompas.id, novel Pada Sebuah Kapal menjadi tonggak sastra feminis Indonesia, dicetak 5.000 eksemplar dan terus dicetak ulang.
Beberapa karya penting lainnya mencakup La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), Orang-Orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Dari Parangakik ke Kampuchea (2003), dan Gunung Ungaran (2018), ditulis saat tinggal di panti wreda dan menjadi novel terakhirnya.
Karakter-karakter dalam karya Dini sering menghadapi perselingkuhan, konflik rumah tangga, penindasan sosial, hingga pencarian jati diri. Kesemua karyanya pun diceritakan dengan sudut pandang perempuan yang jujur dan rawan.