Tidak Hanya Kesehatan Mata, Pandji Juga Peduli terhadap Pendidikan

Kiprah sosial Pandji Wisaksana tidak hanya berpusat pada kesehatan mata. Ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan yang mendukung perkembangan pendidikan di Indonesia.

Salah satu bidang yang mendapat perhatiannya adalah pengembangan perguruan tinggi. Pandji turut berperan dalam kegiatan Yayasan Trisakti, termasuk membantu upaya penggalangan dana ketika institusi tersebut menghadapi kesulitan keuangan pada awal 1980-an.

Ia juga mendukung pengembangan pendidikan melalui gagasan dan jaringan yang dimilikinya. Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa kepeduliannya tidak terbatas pada bantuan yang bersifat langsung, tetapi juga mencakup dukungan terhadap institusi yang berperan dalam meningkatkan kesempatan belajar masyarakat.

Dalam konteks ini, Pandji memanfaatkan pengalaman dan relasi yang dibangunnya selama berkarier di dunia usaha untuk mendukung kegiatan sosial dan pendidikan.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu karakter penting dalam perjalanan hidupnya. Keberhasilan ekonomi tidak dipandang semata-mata sebagai pencapaian pribadi, melainkan sebagai sumber daya yang dapat digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Baca Juga: Menguatnya Peran Perempuan dalam Kegiatan Filantropi dan Kemanusiaan

Warisan Pandji Wisaksana yang Terus Berlanjut

Pandji Wisaksana meninggal dunia pada 24 Februari 2022 dalam usia 96 tahun. Meski telah tiada, namanya masih lekat dengan perkembangan industri plastik Indonesia dan kegiatan sosial yang berfokus pada kesehatan mata.

Warisan tersebut tidak hanya terlihat melalui nama Pralon yang dikenal luas, tetapi juga melalui keberlanjutan gerakan kemanusiaan yang ia rintis.

Pada 2026, ketika Pandji seharusnya genap berusia 101 tahun, Gerakan MataHati kembali menjalankan program operasi katarak gratis. Program tersebut menjadi salah satu bentuk kelanjutan dari kepeduliannya terhadap masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan mata.

Keberlanjutan kegiatan ini memperlihatkan bahwa gerakan sosial dapat melampaui masa hidup penggagasnya ketika didukung oleh komitmen bersama dan kerja sama berbagai pihak.

Bagi Pandji, kepedulian terhadap sesama berangkat dari pengalaman yang dekat dengan kehidupannya sendiri. Kondisi ayahnya yang mengalami kebutaan menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan dapat membawa dampak besar terhadap kehidupan seseorang dan keluarganya.

Dari pengalaman itu, ia membangun kepedulian yang kemudian diwujudkan melalui berbagai kegiatan sosial selama puluhan tahun.

Dengan begitu, kisah Pandji Wisaksana memberikan gambaran bahwa perjalanan seorang pengusaha tidak harus berhenti pada pencapaian bisnis. Ia dapat memperluas perannya dengan memanfaatkan sumber daya, pengalaman, dan jaringan yang dimiliki untuk menjawab persoalan di masyarakat.