Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi salah satu tantangan lingkungan yang sulit ditangani di Indonesia, terutama di wilayah Kalimantan dan Sumatera. Selain dipengaruhi cuaca kering dan aktivitas manusia, karakteristik lahan gambut membuat api dapat bertahan di bawah permukaan tanah, bahkan ketika kobaran api di permukaan telah berhasil dipadamkan.
Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla tidak cukup dilakukan dengan menyiram api menggunakan air. Petugas juga harus memastikan tidak ada bara yang tersisa di dalam tanah agar kebakaran tidak kembali muncul.
Menurut Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Bambang Hero Saharjo, karakteristik gambut yang mudah mengering dan mampu menyimpan bara di bawah permukaan menjadi salah satu faktor utama sulitnya memadamkan karhutla. Hal ini juga relevan dengan wilayah bergambut di Kalimantan dan Sumatera.
Selain itu, apa saja faktor yang membuat karhutla di kedua pulau tersebut sulit dipadamkan? Simak penjabarannya berikut ini:
1. Api Dapat Menjalar di Bawah Permukaan Tanah
Salah satu penyebab utama sulitnya pemadaman karhutla adalah kebakaran yang terjadi di lahan gambut. Berbeda dengan kebakaran vegetasi biasa yang kobaran apinya terlihat jelas, api di lahan gambut dapat membara di bawah permukaan tanah.
Gambut terbentuk dari tumpukan sisa sisa tumbuhan yang mengalami pelapukan tidak sempurna selama waktu yang panjang. Ketika kondisinya tetap basah, gambut memiliki kelembapan yang membantu menekan risiko kebakaran. Namun, saat mengering, material organik tersebut menjadi bahan bakar yang mudah terbakar.
Api kemudian dapat merambat melalui lapisan gambut dan meninggalkan bara yang sulit diketahui dari permukaan. Akibatnya, meskipun api yang terlihat sudah padam, proses pembakaran di bawah tanah masih bisa berlangsung.
Bara tersebut berpotensi kembali memicu kebakaran ketika bertemu dengan kondisi yang mendukung, seperti udara kering dan ketersediaan material yang mudah terbakar. Inilah yang membuat pemadaman karhutla membutuhkan proses pendinginan dan pemantauan berulang.
Baca Juga: Kenapa Asap Karhutla di Kalimantan Bisa Sampai Jakarta?
2. Lahan Gambut yang Kering Membuat Api Bertahan Lebih Lama
Kondisi lahan gambut sangat menentukan tingkat kesulitan pemadaman. Ketika muka air tanah turun, lapisan gambut kehilangan kelembapannya dan menjadi lebih rentan terbakar.
Pengeringan gambut dapat terjadi akibat perubahan tata air, termasuk pembangunan kanal yang mengalirkan air keluar dari kawasan gambut. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut membuat gambut lebih mudah mengering, terutama saat musim kemarau.
Persoalan ini menjadi perhatian penting di Kalimantan dan Sumatera karena kedua pulau tersebut memiliki kawasan gambut yang luas. Ketika kebakaran terjadi di lahan yang sudah mengering, api dapat menjalar ke lapisan tanah dan membutuhkan penanganan yang lebih kompleks.
Karena itu, upaya mengatasi karhutla tidak hanya bergantung pada pemadaman, tetapi juga pada pemulihan tata air dan upaya menjaga gambut tetap basah.
3. Musim Kemarau dan Cuaca Kering Mempercepat Penyebaran Api
Faktor cuaca turut memperbesar tantangan dalam penanganan karhutla. Curah hujan yang rendah membuat vegetasi dan tanah kehilangan kelembapan sehingga lebih mudah terbakar.
Fenomena iklim seperti El Nino juga dapat memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah Indonesia. Dalam kondisi tersebut, kebakaran yang awalnya terbatas pada satu titik berisiko meluas karena bahan bakar alami di sekitarnya semakin kering.
Minimnya hujan juga menyulitkan proses pemadaman karena air yang tersedia di lingkungan sekitar dapat berkurang. Di sisi lain, petugas membutuhkan pasokan air yang cukup untuk memadamkan api sekaligus mendinginkan area yang telah terbakar.
Berdasarkan keterangan BNPB pada September 2026, penanganan karhutla di sejumlah provinsi prioritas menghadapi kendala berupa kondisi cuaca, terbatasnya pertumbuhan awan hujan, sulitnya akses menuju lokasi, serta jauhnya sumber air.
4. Lokasi Kebakaran Sulit Dijangkau dan Membutuhkan Banyak Air
Karhutla tidak selalu terjadi di lokasi yang mudah dijangkau kendaraan pemadam. Sebagian kebakaran berlangsung di kawasan hutan, lahan gambut, atau wilayah dengan akses terbatas.
Kondisi tersebut membuat petugas harus menghadapi tantangan dalam membawa peralatan dan air menuju titik api. Ketika sumber air berada jauh dari lokasi kebakaran, proses pemadaman dapat berlangsung lebih lama.
Untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses melalui jalur darat, pemerintah dapat mengerahkan helikopter untuk melakukan water bombing atau pengeboman air. Namun, metode ini tidak selalu mampu menyelesaikan kebakaran secara menyeluruh, terutama apabila bara masih tersimpan di bawah permukaan tanah.
Oleh sebab itu, pemadaman dari udara perlu disertai upaya darat, termasuk pemeriksaan titik api, pendinginan lahan, dan pemantauan untuk mendeteksi kemungkinan munculnya kembali api.
5. Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar Memicu Risiko Kebakaran
Selain faktor alam, aktivitas manusia turut berperan dalam terjadinya karhutla. Pembakaran kerap digunakan sebagai cara membuka atau membersihkan lahan karena dianggap lebih murah dan praktis dibandingkan metode lainnya.
Namun, api yang digunakan untuk membuka lahan dapat menyebar di luar area yang direncanakan, terlebih ketika vegetasi mengering dan angin membantu penyebarannya. Kebakaran juga dapat terjadi akibat kelalaian manusia yang tidak memastikan api benar benar padam.
Pembakaran lahan untuk kegiatan pertanian menjadi salah satu persoalan yang berkontribusi terhadap kebakaran dan kabut asap di kawasan gambut Indonesia.
Karena itu, pencegahan karhutla memerlukan pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan, edukasi kepada masyarakat, serta penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pelanggaran.
Sulitnya memadamkan karhutla di Kalimantan dan Sumatera menunjukkan bahwa penanganan kebakaran tidak bisa hanya mengandalkan upaya setelah api muncul. Pencegahan perlu dilakukan sejak sebelum musim kemarau, terutama di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Salah satu langkah penting adalah menjaga kelembapan lahan gambut melalui pengelolaan tata air yang tepat. Selain itu, deteksi dini perlu diperkuat agar kebakaran dapat diketahui ketika masih berada pada tahap awal dan belum meluas.
Pemerintah juga perlu memastikan kesiapan personel, peralatan pemadam, serta ketersediaan sumber air di wilayah rawan kebakaran. Di saat yang sama, pengawasan terhadap pembukaan lahan dan penegakan hukum harus berjalan beriringan.