Akademisi Indonesia Prof. Sulfikar Amir mengatakan hubungan Presiden Prabowo Subianto dengan Joko Widodo (Jokowi) sudah benar-benar berantakan. Keduanya mulai berjarak karena berbagai alasan kendati hingga kini tak ada satu pun dari mereka yang berbicara terang-terangan mengenai hubungan mereka.
Menurut akademisi yang sedang berkarir di Singapura itu, Jokowi saat ini sedang menunggu momen yang pas untuk melancarkan serangan terbuka terhadap Prabowo. Dia mengatakan Jokowi bakal dengan sangat berani mengkritik berbagai kebijakan Prabowo termasuk program andalan Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Akan ada satu masa di mana Jokowi akan menyerang Prabowo secara terbuka,” ujar Sulfikar dilansir Selasa (20/10/2026).
Menurut Sulfikar, Jokowi sebetulnya tak sepenuhnya sepakat dengan program MBG, selain menjadi sumber berbagai masalah, program ini juga dinilai sebagai lahan basah buat korupsi. MBG dinilai sebagai program bakar-bakar duit.
“Program MBG itu sangat tidak realistis, korupsi itu buang-buang duit dan sebagainya gitu,” tuturnya.
Tak hanya menyasar program-program unggulan Prabowo, Jokowi juga diperkirakan bakal dengan berani mengatakan bahwa Pemerintahan Prabowo gagal, di bawah kekuasaan Prabowo negara ini justru menghadapi berbagai masalah.
“Oh iya, akan ada akan ada satu masa di mana dia akan mengatakan bahwa kepemimpinan Prabowo itu cuma menghasilkan masalah,” ujarnya.
Walau Jokowi atau Prabowo belum menyatakan secara terbuka mengenai hubungan mereka yang renggang belakangan, namun dari sejumlah gestur dan bahasa tubuh yang ditunjukan di berbagai kesempatan, keduanya tampak sedang tidak baik-baik saja.
Sulfikar lantas menyinggung gestur Prabowo dan Jokowi dalam sebuah acara peringatan Hari Ulang Tahun TNI beberapa waktu lalu dimana Prabowo tidak menjabat tangan Jokowi, justru sebaliknya Prabowo tampak menyalami Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan mengobrol dengannya tepat di depan Jokowi.
“Memang itu kan Pak Prabowo sudah hard feeling tuh kalau menurut saya. Oh iya saya kira itu adalah gesture yang bersifat universal ya kan,” imbuhnya.
Ia kemudian menjelaskan pandangannya mengenai makna gestur tersebut.
“Menolak untuk berjabat tangan itu kan sebuah indikasi ada kondisi yang sedang tidak nyaman di antara dua orang ini gitu,” jelasnya.
Penafsiran itu tetap merupakan pandangan Sulfikar. Gestur dalam satu acara saja tidak cukup untuk memastikan kondisi hubungan politik kedua tokoh tanpa informasi pendukung lainnya.
Masyarakat Diminta Tidak Terjebak Konflik Dua Tokoh
Meski menyoroti potensi keretakan hubungan Jokowi dan Prabowo, Sulfikar mengingatkan agar publik tidak menjadikan dinamika kedua tokoh sebagai satu-satunya pusat perhatian.
Menurutnya, persoalan bangsa jauh lebih luas daripada hubungan personal maupun persaingan politik para elite.
“Tapi sebenarnya, kita harus keluar dari obrolan tentang dua orang ini. Enggak boleh kita terjebak, ya biarin aja. Kalau misalnya dua-duanya tidak mau jabat tangan ya biarin aja gitu,” ucapnya.
Sulfikar mendorong masyarakat untuk lebih memperhatikan pihak-pihak yang bersedia membangun komunikasi dan bekerja sama dalam menyelesaikan berbagai persoalan nasional.
“Kita cari orang yang mau berjabat tangan, mau bekerja sama, mau berdiskusi dengan baik gitu. Karena masalah bangsa ini begitu banyak gitu,” pungkasnya.