Dua orang dapat memiliki kulit yang sama-sama berminyak, tetapi menghadapi kondisi dan kebutuhan perawatan yang berbeda. Salah satunya mungkin memiliki kulit sensitif yang rentan mengalami iritasi, sementara yang lain memiliki karakteristik kulit yang lebih resisten. Hal ini menunjukkan bahwa mengategorikan kulit hanya berdasarkan kondisi kering atau berminyak belum tentu memberikan gambaran lengkap mengenai kebutuhan kulit seseorang.
Untuk memahami keragaman tersebut, LABORÉ bersama PERDOSKI dan para dermatolog dari FKUI-RSCM mengembangkan dan menguji Baumann Skin Type Indicator (BSTI) versi Indonesia. Melibatkan 150 orang dewasa di Indonesia, riset ini mengkaji karakteristik kulit melalui empat dimensi, yaitu Dry/Oily, Sensitive/Resistant, Pigmented/Non-Pigmented, serta Tight/Wrinkled. Kombinasi keempat dimensi tersebut menghasilkan 16 profil kulit, yang memungkinkan karakteristik kulit dipahami secara lebih spesifik.
Baca Juga: SOS untuk Skin Barrier, Kenali Tanda Kulit Butuh Perawatan atau Istirahat
Salah satu temuan yang menonjol adalah 3 dari 4 orang dewasa yang diteliti memiliki karakteristik kulit sensitif, baik pada kelompok dengan kondisi kulit kering maupun berminyak. Temuan ini memperlihatkan bahwa sensitivitas bukan karakteristik yang terbatas pada satu tipe kulit. Karena itu, memahami apakah kulit seseorang kering atau berminyak saja belum tentu cukup untuk menggambarkan kebutuhan perawatannya.
“Selama ini, tipe kulit sering kali dipahami melalui karakteristik yang paling terlihat, seperti kering atau berminyak. Namun, karakteristik tersebut tidak selalu menggambarkan kondisi kulit secara menyeluruh. Dengan melihat empat dimensi kulit secara bersamaan, BSTI membantu memberikan gambaran yang lebih spesifik, termasuk membedakan karakteristik sensitivitas pada individu dengan tipe kulit yang berbeda. Pendekatan ini penting agar pemahaman terhadap kulit tidak berhenti pada kategorisasi dasar, tetapi juga mempertimbangkan keragaman karakteristik setiap individu,” ujar dr. Irwan Saputra Batubara, MSc., Sp.DVE, yang mempresentasikan penelitian tersebut melalui poster ilmiah di 35th European Academy of Dermatology and Venereology (EADV) Congress 2026 yang berlangsung pada 30 September–3 Oktober 2026 di Vienna, Austria.
Pendekatan multidimensional ini juga mempertimbangkan bahwa karakteristik kulit dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk lingkungan, gaya hidup, perubahan hormonal, penggunaan obat, dan kondisi geografis. Dengan demikian, dua orang dengan kategori dasar kulit yang sama belum tentu memiliki karakteristik yang identik. Pemahaman tersebut menjadi relevan dalam mengembangkan pendekatan perawatan yang mempertimbangkan kondisi kulit secara lebih menyeluruh.
Untuk memastikan kesesuaiannya dengan populasi Indonesia, BSTI melalui proses penerjemahan dan adaptasi lintas budaya sebelum diuji pada 150 orang dewasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BSTI versi Indonesia memiliki validitas dan reliabilitas yang dapat diterima untuk mengidentifikasi karakteristik tipe kulit pada populasi dewasa Indonesia. Penelitian ini juga melibatkan Dr. Leslie S. Baumann, FAAD, dermatolog asal Amerika Serikat sekaligus pencipta BSTI, yang telah digunakan untuk mengevaluasi karakteristik kulit lebih dari 200.000 orang di berbagai negara.
Melalui keikutsertaan di EADV Congress 2026, LABORÉ membawa perspektif penelitian mengenai kulit masyarakat Indonesia ke dalam percakapan dermatologi global. Forum ini menjadi ruang untuk mempertemukan temuan dari Indonesia dengan perkembangan ilmu dermatologi internasional, sekaligus memperluas diskusi mengenai keragaman karakteristik kulit dalam konteks populasi yang berbeda.