Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai mengutuk keras Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) yang membawa simbol salib merah dalam aksi unjuk rasa yang digelar di Jakarta pada Rabu (30/10/2026). Baginya salib adalah simbol sakral yang tak boleh dipolitisasi untuk kepentingan politik pihak tertentu.
Natalius lantas menyinggung beberapa jebolan PMKRI yang akhirnya tersandung kasus besar di negara ini lantaran tak sungguh-sungguh memikul salibnya seperti eks Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny Gerard Plate dan Roy Rening pengacara kawakan yang juga dijebloskan ke penjara dalam kasus Lukas Enembe.
Salib kata Natalius adalah simbol yang seharusnya dipakai membela kaum papa dan lemah, jika itu disalahgunakan, maka celakalah mereka sebagaimana dua jebolan PMKRI yang ia sebut tadi.
“Waktu mereka pimpin kalian jadi apa? Jadi masuk kotak sampah (J Plate dan Roy Rening). Sekarang kalian ikut mereka lagi. Mikirr ade2 Salib itu berat. Jangan sombong dan arogan mainkan salib Kristus. Nasihat dari kk,” kata Natalius dilansir Olenka.id Jumat (30/10/2026).
Ketimbang mempolitisasi simbol keagamaan, Natalius mengajak mahasiswa PMKRI untuk meneladani dirinya, bekerja dengan tulus untuk mereka yang lemah dan tertindas.
“Ikuti apa yang saya contohkan selama ini yaitu membela kemanusiaan, membela orang miskin dan kaum papa, hasilnya saya menjadi Menteri di bulan Rosario 21 Oktober 2024,” ujarnya.
Natalius mengatakan, simbol keagamaan tak boleh dibawa-bawa dalam ranah politik. Dia menyebut penggunaan salib merah dalam aksi tersebut sama sekali tidak bisa dibenarkan. Natalius bahkan bahkan mengutuk mahasiswa yang membawa simbol sakral itu tak bakal menjadi apa-apa di negeri ini.
"Demi Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria sebagai senior, saya yakin kalian (siapapun yunior2 dimana saja) tidak akan jadi apa2 di negeri,” ujarnya.
Penggunaan salib dalam aksi unjuk rasa itu kata Natalius justru dibaca sebagai gerakan politik yang menentang berbagai program pemerintah yang digagas untuk membantu masyarakat miskin di negeri ini. Hal ini bertentangan dengan esensi dari salib itu sendiri yang seharusnya dipakai membela yang lemah dan yang miskin.
Baca Juga: Profil Natalius Pigai, Menteri HAM yang Meniti Karier dari Juru Parkir hingga Kabinet Merah Putih
“Salib yang dipukul untuk itu seperti sedang menentang “Sekolah Rakyat, Makan Gratis, Koperasi Merah Putih, Cek Kesehatan Gratis, Kampung Nelayan, dan Rumah Rakyat yang merupakan perintah gereja “option for the poor”. Membela dan memihak pada orang miskin dan kaum papa," pungkasnya.