Produser MBK Productions, Rendy Gunawan, mengungkapkan alasan di balik keputusannya menggandeng sutradara muda Damar Rizal Marzuki, dalam produksi film Kembar Tak Sama.

Menurut Rendy, pemilihan sutradara muda dan keterlibatan talenta baru merupakan bagian dari konsep kolaborasi yang sejak awal dirancang untuk memadukan perspektif segar dengan pengalaman para sineas senior.

Rendy mengatakan, produksi film Kembar Tak Sama tidak hanya berorientasi pada hasil akhir berupa film berkualitas, tetapi juga menjadi ruang bagi para kreator muda untuk mengeksplorasi ide, mencoba pendekatan baru, dan terlibat aktif dalam proses kreatif maupun produksi.

“Untuk formasi ini, memang sejak awal kerja sama antara MBK dan IKJ dimulai, konsepnya mau seperti ini, yaitu memadukan talenta-talenta muda dengan pengalaman yang sudah dimiliki para seniman,” beber Rendy, saat Press Conference & Syukuran FilmKembar Tak Sama yang digelar di Auditorium Gedung Rektorat IKJ, Jakarta, Senin (26/10/2026).

Rendy menilai, sutradara muda memiliki keberanian untuk mencoba hal baru yang dapat memberikan warna berbeda dalam sebuah produksi. Ia pun melihat potensi tersebut pada Damar, yang sebelumnya pernah bekerja sama dengan MBK Productions dalam sebuah proyek drama musikal.

Pengalaman kolaborasi sebelumnya menjadi salah satu pertimbangan untuk kembali mempercayakan proyek kepada putra aktor senior, Almarhum Epy Kusnandar, itu. Setelah melihat kiprahnya dalam produksi drama musikal, Rendy dan tim kemudian menawarkan tantangan baru berupa penyutradaraan film Kembar Tak Sama.

“Kami suka bekerja sama dengan para sutradara muda karena mereka mau mencoba. Biasanya, orang yang mau mencoba dan baru melakukan sesuatu punya rasa ownership yang berbeda dibandingkan kalau kita hanya bekerja dalam pola industri saja,” kata Rendy.

Dijelaskan Rendy, rasa memiliki terhadap sebuah proyek menjadi modal penting bagi para kreator untuk memberikan kontribusi maksimal. Keterlibatan talenta muda diharapkan tidak hanya memperkaya jajaran pemain dan kru, tetapi juga membawa pandangan baru dalam keseluruhan proses produksi.

“Harapannya, dengan adanya talenta-talenta muda ini, seluruh proses produksi dan cara produksi juga mendapatkan pandangan-pandangan baru dari mereka,” tuturnya.

Meski memberikan ruang besar bagi generasi muda, Rendy menegaskan bahwa produksi film Kembar Tak Sama tetap melibatkan seniman dan praktisi berpengalaman.

Bagi Rendy, perpaduan antara energi kreatif generasi muda dan pengalaman para senior merupakan pendekatan penting untuk menghasilkan film yang kuat. Talenta muda dapat menghadirkan perspektif baru, sementara para seniman senior memberikan arahan dan pengalaman yang dibutuhkan selama proses produksi.

“Kami optimistis proses ini bisa berjalan lancar, tetapi tetap mengakar dan memiliki jangkar dari para seniman senior,” tukasnya.

Optimisme tersebut juga didukung oleh proses pengembangan proyek yang telah berlangsung selama kurang lebih satu tahun. Rendy mengenang bahwa gagasan film Kembar Tak Sama mulai dibicarakan dalam sebuah pertemuan pada tahun sebelumnya. Setelah melalui berbagai diskusi, tahap pengembangan cerita, hingga persiapan produksi, proyek tersebut akhirnya memasuki tahap produksi.

Baca Juga: Film ‘Kembar Tak Sama’ Bawa Pesan tentang Keluarga, Sutradara: Tak Harus Sempurna untuk Melangkah Bersama

Ia pun lantas mengungkapkan rasa syukur atas proses panjang yang telah dilalui bersama seluruh pihak yang terlibat. Menurutnya, keberhasilan melewati tahapan pengembangan dan praproduksi menjadi modal penting untuk melanjutkan proyek ke tahap berikutnya.

Rendy juga mengapresiasi kolaborasi dengan IKJ, yang dinilainya memiliki talenta-talenta dengan kemampuan dan pengalaman di industri kreatif. Kerja sama ini merupakan kelanjutan dari kemitraan yang sebelumnya diwujudkan melalui proyek drama musikal.

Produksi drama musikal tersebut mendapat respons positif dari penonton. Pengalaman itu menjadi landasan untuk memperkuat kerja sama dalam proyek berikutnya, sekaligus membuka peluang untuk menghadirkan karya yang lebih baik.

“Kami bersyukur karena drama musikal sebelumnya mendapatkan respons positif dari para penonton. Harapannya, bukan hanya kerja sama pertama yang sukses, tetapi kerja sama kedua ini bisa lebih baik lagi,” kata Rendy.

Ia pun berharap, pengalaman dari proyek terdahulu dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas produksi film Kembar Tak Sama, baik dari sisi proses kerja, koordinasi tim, maupun hasil akhir yang akan disuguhkan kepada penonton.

Lebih jauh, Rendy menilai kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri komersial memiliki keunikan tersendiri. Kedua pihak datang dari lingkungan dengan karakter, pengalaman, dan pendekatan kerja yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut justru dapat menjadi kekuatan apabila seluruh pihak memiliki tujuan yang sama.

Melalui film Kembar Tak Sama, Rendy berharap, kolaborasi lintas generasi dan lintas institusi dapat terus berkembang serta melahirkan karya-karya baru di industri perfilman Indonesia.

Baginya, keberhasilan sebuah produksi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh kesediaan seluruh tim untuk saling mendukung dan menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.

Dan, menjelang dimulainya proses produksi, ia pun berpesan agar seluruh kru dan pemain menjaga kesehatan, membangun komunikasi yang baik, serta segera menyelesaikan kendala yang muncul di lapangan.

“Semoga seluruh proses produksi berjalan lancar. Kita juga harus sama-sama menjaga kesehatan dan, kalau ada masalah, bisa langsung diselesaikan bersama,” pungkas Rendy.

Baca Juga: Rektor IKJ: Kolaborasi Pendidikan dan Industri Jadi Kunci Kemajuan Perfilman Indonesia