Ketua Dewan Pembina Partai Ummat Amien Rais kembali menyerang Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Dia mengatakan selama menjadi kepala negara dua periode, eks Gubernur DKI Jakarta sama sekali tak membawa negara ini ke arah yang lebih baik. Bagi Amien Rais, terpilihnya Jokowi menjadi presiden selama satu dekade adalah sebuah kecelakaan politik.
Amien menegaskan, di balik penampilan yang sederhana dan terkesan merakyat, Jokowi justru menjadi orang yang sangat berbahaya. Ia sama sekali tak rela kehilangan kekuasaannya. Buktinya setelah purnarugas, Jokowi kerap melakukan blusukan ke berbagai wilayah untuk memoles citranya demi keberlanjutan karier politiknya. Padahal sebelum meletakan jabatannya, Jokowi berulang kali mengatakan bakal kembali ke kampung halamannya di Solo dan hidup sebagai rakyat biasa.
“Jokowi adalah seorang yang berwatak narsis, walaupun penampilannya itu klemar-klemer sambil cengengesan. Dia itu manusia lumayan berbahaya. Nah kehebatan bapaknya Gibran ini antara lain, kalau sedang menipu raut mukanya seolah jujur. Misalnya, ketika lengser mau pulang ke Solo untuk pensiun dan momong cucu ternyata masih main 'presiden-presidenan',” kata Amien dalam video berjudul JOKOWI THE MOST INCONSISTENT MAN yang tayang di saluran Youtubenya dilansir Olenka.id Rabu (21/10/2026).
Selain menyoroti aktivitas politik Jokowi pasca purnatugas, Amien juga menyoal sejumlah hal yang dilakukan Jokowi selama masih aktif menjabat kepala negara salah satunya adalah soal pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Dalam perjalanan pembangunan IKN, Jokowi yang ketika itu masih menjadi kepala negara lanjut Amien selaku koar-koar bilang investor lokal dan asing sudah mengantre sehingga mega proyek itu sama sekali tak menyentuh anggaran negara. Namun buktinya itu hanya sekadar kalaim, pembangunan IKN terus menguras Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
“Narasi masuknya modal asing dalam skala besar itu murni tidak sesuai fakta dan tidak masuk akal dari kalkulasi logis,” tegasnya.
Tidak berhenti pada persoalan IKN, Amien juga membedah rapor pengelolaan lingkungan hidup dan ekologi selama sepuluh tahun masa jabatan Jokowi.
Ia menilai terdapat kontradiksi mencolok antara klaim komitmen pelestarian lingkungan dan laju deforestasi yang terus meluas di berbagai daerah.
“Dampak kerusakan ekologis serta maraknya kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah strategis seperti Sumatra dan Kalimantan menjadi warisan beban lingkungan yang cukup berat bagi pemerintahan penerus saat ini,” pungkasnya.