Bagi banyak orang, September hanyalah salah satu bulan dalam satu tahun. Tiada yang istimewa. Namun, bagi mereka yang dahaga akan ilmu pengetahuan dan intelektualisasi, September adalah bulan kedambaan. Selama tiga tahun ke belakang (2024–2026), pada bulan itulah Endgame Town Hall diadakan: sebuah perhelatan akbar gagasan siniar Endgame yang dipandu oleh pendidik, pengusaha, dan Menteri Perdagangan Republik Indonesia (2011–2014), Gita Wirjawan.
Pada Sabtu, 19 September 2026 lalu, sekitar 2.000 orang memenuhi Kartika Expo, Balai Kartini dari pukul sembilan pagi hingga sepuluh malam. Pelajar, guru, dosen, profesional, hingga pembuat kebijakan dan seniman berkumpul untuk belajar bersama di Endgame Town Hall 2026 dengan tema “Cosmos of Knowledge”. Dukungan pun datang dari Paragon Corp, Indosat Ooredoo Hutchison, Periplus, dan masih banyak lagi.
Selama tiga belas jam, para pembelajar (re: peserta) yang hadir diperkaya oleh topik dan bidang ilmu yang beragam. Karena itulah, Endgame mengusung tema “Cosmos of Knowledge” sebagai sebuah cerminan konstelasi pengetahuan yang disajikan hari itu dalam tiga babak: Semesta, Kemanusiaan, dan Diri.
Babak ‘Universe’ (Semesta) membuka hari dengan pertanyaan-pertanyaan besar tentang jagat raya dan ruang angkasa dari sisi sains, filsafat, kebudayaan, politik, dan juga industri. Tiga sesi pada babak ini mengingatkan kita tentang posisi manusia sebagai entitas yang hidup di kemahaluasan alam semesta. Tujuh sesi pada Babak ‘Humanity’ (Kemanusiaan) mengupas tuntas aspek-aspek manusia sebagai makhluk organisatoris dalam bernegara, berbangsa, dan berperadaban. Ditutup secara reflektif-filosofis pada Babak ‘Self’ (Diri), dua sesinya membahas pengendalian diri dari perspektif spiritualisme, serta hakikat manusia dan konsekuensinya dalam berkehidupan.
Pemikiran dan kebijaksanaan dalam Endgame Town Hall 2026 dibagikan oleh tokoh-tokoh ternama seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Marty Natalegawa, Dino Patti Djalal, Karlina Supelli, Premana Premadi, Reza Rahadian, Asisi Suhariyanto, Kiki Nasution, Bagus Muljadi, Connie Rahakundini Bakrie, Adi Rahman Adiwoso, Slamet Rahardjo, Leila S. Chudori, Baskara “Hindia” Putra, Andini Effendi, Harman Subakat, Hendra Kwee, Sari Chairunnisa, Irsyad Sahroni, Sastia Putri, Habib Husein Ja’far Al-Hadar, Fahruddin Faiz, Iyas Lawrence, Dian Sastrowardoyo, Bhima Yudhistira, Bivitri Susanti, dan Rocky Gerung. Acara ini semakin semarak dengan menghadirkan grup paduan suara Svara Nusantara.
“Ini (Endgame Town Hall) adalah maraton intelektual,” tutur Gita Wirjawan beberapa kali dalam sesi yang ia pandu hari itu.
Di Balik Layar: Paragon Corp dan Indosat Mengenai STEM
Paragon Corp kembali mendampingi Endgame Town Hall setelah kolaborasi sukses pada tahun 2025. Sari Chairunnisa (Deputy CEO and Chief R&D Officer, ParagonCorp) dan Harman Subakat (Group CEO, ParagonCorp) membawakan salah satu topik yang terpenting pada babak ‘Humanity’, yaitu pentingnya rasa ingin tahu, pendidikan, dan pemberdayaan guru dalam melahirkan inovasi. Seratus guru dan dosen yang dibina Paragon lewat Wardah Inspiring Teacher (WIT) dan Inspiring Lecture Program (ILP) turut duduk di bangku peserta - menjadi contoh nyata bahwa belajar adalah kegiatan sepanjang hayat, termasuk bagi para pengajar. Mereka dan para peserta juga menikmati brand experience Paragon di area pameran Endgame Town Hall 2026.
"Adab, Ilmu, Amal, Manfaat. InsyaAllah kita akan perbaiki peradaban bersama-sama," kata Harman Subakat ketika beliau menjelaskan bagaimana individu bisa mengubah realitas menjadi lebih baik lewat rantai keterkaitan self-humanity-metaverse-God.
Dalam sesi yang lain, Irsyad Sahroni selaku HR Director dari Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) memperkaya pembahasan tentang peradaban ke level sistem. Beliau berpendapat bahwa sains, teknologi, enjinering, dan matematika (STEM), termasuk penyerapan kecerdasan artifisial dalam industri—adalah salah satu komponen utama penggerak kemajuan. Irsyad memaparkan bagaimana IOH menerapkan gagasan tersebut ke dalam praktik nyata, mencakup tantangan dan peluang kerja sama industri-perguruan tinggi.
“[S]kala industri bisa naik dulu sehingga itu membawa nilai ekonomi untuk bisa mendorong lahirnya lebih banyak talenta yang memang bisa berpikir ke arah sains, teknologi, dan yang lain,” ujar Irsyad Sahroni ketika Gita Wirjawan menanyakan tentang bagaimana Indonesia bisa meningkatkan talenta STEM.