Pebisnis sekaligus mantan Direktur utama surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group Dahlan Iskan, punya cara sendiri dalam menghadapi berbagai rintangan hidup termasuk dalam menyikapi masalah kerugian triliunan rupiah yang tengah mendekapnya dalam dua tahun belakangan. Nilai kerugiannya ditaksir tembus Rp2 triliun imbas kenaikan batu bara. 

Meski kerugian besar menjeratnya, namun Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) periode 2011–2014 seakan memilih menikmati itu dalam senyap, ia tak gembar-gembor  penderitaannya, Dahlan Iskan bahkan memilih membebaskan pikirannya dari belenggu tersebut seraya memikirkan skenario terbaik untuk bangkit lagi. 

Baca Juga: Kisah Dahlan Iskan Survive dari Kanker Hati Stadium IV

“Saya minta maaf, sekarang ini lagi jatuh, tapi apakah anda melihat saya lagi sangat bersedih? Ya saya sangat bersedih di dalam hati, tetapi tidak boleh saya tampakkan. Saya dalam 2 tahun ini rugi, saya mengalami kerugian 2 triliun rupiah. Seharusnya saya sudah stroke memikirkan itu,” kata Dahlan Iskan dalam sebuah kesempatan dilansir Olenka.id Kamis (5/6/2026). 

Bagi Dahlan Iskan, menderita kerugian besar adalah risiko dari sebuah keputusan, rugi itu barang biasa, itu adalah bagian dari perjalan dunia usaha. Sebagai pengusaha tulen, kerugian tidak diterjemahkan sebagai pukulan telak yang bikin ambruk. 

Kerugian bukan batas akhir sebuah perjalanan, Dahlan Iskan memandangnya sebagai guru yang mengajarkannya cara untuk bangkit berdiri. 

“Alhamdulillah minggu lalu tanda-tanda bangkit itu sudah sangat kelihatan. Alhamdulillah. Tapi ketika lagi jatuh yang luar biasa itu, apakah ada keinginan mengatakan ya sudah takdir saya? Tidak ada,” ucapnya.

Dari Kacamata pengusaha, kerugian bukan takdir, itu murni kekeliruan kalkulasi, jagi menurut Dahlan Iskan, jatuh dihantam kerugian tak pantas membuat menyerah, kerugian mesti dihadapi dengan hebat, pilihannya hanya satu bangkit lagi kendati tertatih. 

Baca Juga: Tentang Kegagalan, Penyesalan, dan Jalan Bangkit Dahlan Iskan

“Ada orang yang jatuh tidak mau bangkit dengan mengatakan sudah takdir saya. Ada orang yang jatuh bangkit ikhtiar. Itu bedanya pengusaha dan bukan pengusaha,” tambahnya memungkasi.