Growthmates, persaingan mendapatkan pekerjaan di Indonesia kini semakin ketat. Dalam hitungan jam setelah lowongan dibuka, jumlah pelamar bisa mencapai ratusan ribu orang.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pencari kerja tidak hanya bersaing dengan puluhan kandidat, tetapi dengan jumlah yang sangat besar untuk memperebutkan posisi yang terbatas.

Psikolog HRD Senior sekaligus Pendiri dan Direktur EXPERD Consultant, Eileen Rachman, mengungkapkan, fenomena tersebut saat membahas dinamika rekrutmen di Indonesia.

Menurutnya, tingginya jumlah pelamar menjadi gambaran nyata betapa kompetitifnya pasar tenaga kerja saat ini.

"Satu jabatan yang baru dibuka, misalnya di Bank Indonesia atau di EXPERD, kita membuka satu jabatan jam 12 malam. Jam 3 pagi sudah ada 200 ribu pelamar," ungkap Eileen, dalam sebuah video sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram DAAI TV, Kamis (30/7/2026).

Eileen memaparkan, jumlah tersebut sangat kontras dengan kebutuhan perusahaan. Dari ratusan ribu pelamar yang masuk hanya dalam waktu tiga jam, kata dia, posisi yang tersedia hanya sekitar 50 orang.

"Untuk jabatan itu berapa orang yang akan diterima? Lima puluh orang. Dalam tiga jam sudah ada 200 ribu orang yang mendaftar untuk 50 posisi," katanya.

Baca Juga: Jangan Jadikan Kisah Pengusaha Sukses yang Putus Kuliah sebagai Patokan Karier

Menurut Eileen, fakta tersebut menjadi cerminan nyata tingkat persaingan yang harus dihadapi para pencari kerja di Indonesia.

Peluang untuk diterima tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademis, tetapi juga kesiapan individu untuk terus meningkatkan kompetensi dan memberikan nilai tambah dibanding kandidat lainnya.

"Itu adalah persaingan Anda," tegasnya.

Eileen juga menyoroti bahwa kondisi dunia kerja saat ini menuntut lebih dari sekadar mengandalkan konsep work smart.

Di tengah persaingan yang semakin ketat, lanjut dia, setiap individu perlu memiliki kesiapan, disiplin, serta kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi agar tetap relevan dengan kebutuhan industri.

"Tidak ada yang namanya work smart. Kalau sebelumnya, kita tidak harus," tutup Eileen.

Baca Juga: Ingin Karier Tetap Aman? Ini Strategi Bertahan di Tengah Ekonomi Tak Pasti