Bisnis kedai kopi di Indonesia terus berkembang seiring bermunculannya berbagai merek baru dan ekspansi jaringan gerai di berbagai daerah. Meski persaingan semakin ketat, kondisi tersebut dinilai belum menjadi tanda bahwa pasar kopi nasional telah mencapai titik jenuh.
Founder dan CEO Janji Jiwa, Billy Kurniawan, menilai industri kopi Indonesia masih memiliki peluang pertumbuhan yang besar.
Salah satu indikatornya adalah tingkat konsumsi kopi per kapita masyarakat Indonesia yang dinilainya masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara lain.
Billy menyebut, Indonesia berada di sekitar peringkat ke-23 dunia dalam konsumsi kopi per kapita.
Menurutnya, kondisi ini memperlihatkan adanya ruang untuk meningkatkan konsumsi kopi masyarakat, meskipun jumlah kedai dan merek kopi di Tanah Air sudah berkembang pesat.
“Memang kita itu banyak coffee shop-nya, tapi per hari itu minumnya masih sedikit. Walaupun industri ini banyak brand-nya, banyak jumlahnya, tapi masih ada namanya opportunity,” tutur Billy, saat press conference Janji Jiwa ‘A Twist of Japan’ di Janji Jiwa Culture Pejaten, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Lebih jauh, Billy menuturkan, tingginya jumlah kedai kopi di Indonesia berjalan beriringan dengan semakin akrabnya masyarakat terhadap produk kopi.
Kebiasaan menikmati kopi pun telah menjadi bagian dari keseharian sebagian konsumen, sehingga memberikan landasan bagi pertumbuhan industri dalam jangka panjang.
Namun, bagi pelaku usaha, besarnya potensi pasar saja tidak cukup untuk menjamin keberlangsungan bisnis. Persaingan yang semakin ramai menuntut setiap merek memiliki strategi yang tepat untuk mempertahankan pelanggan sekaligus menjangkau konsumen baru.
Baca Juga: Janji Jiwa Eksplorasi Rasa Jepang Lewat 2 Toast Baru Bareng Chef Ray Janson
Billy mengatakan, salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah mendorong pembelian berulang atau repeat purchase, sekaligus menghadirkan kolaborasi dan inovasi produk.
Strategi tersebut dinilai penting agar merek kopi tidak hanya mengandalkan penambahan gerai, tetapi juga mampu menjaga relevansi dengan kebutuhan konsumen.
“Selain melihat addressable market-nya yang masih besar, kita juga melihat bukan hanya dari meningkatkan repeat purchase, tapi juga kolaborasi dengan inovasi,” jelasnya.
Menurut Billy, sebagai merek lokal, Janji Jiwa memiliki keunggulan dalam memahami karakter konsumen Indonesia.
Kedekatan dengan pasar domestik dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan produk yang sesuai dengan preferensi masyarakat, mulai dari karakter rasa hingga pengalaman menikmati kopi.
Keunggulan tersebut juga menjadi modal bagi merek lokal untuk bersaing dengan pemain internasional yang ingin memasuki pasar Indonesia.
Billy juga mengatakan, pemahaman terhadap selera konsumen dan kebiasaan lokal dinilai dapat membantu merek membangun hubungan yang lebih dekat dengan pelanggan.
“Kita merasa sebagai local brand, kita punya advantage-advantage seperti itu. Kita bisa bersaing dalam hal itu untuk memberikan familiaritas dari produk, dari juga taste profile yang bisa kita siapkan untuk customer-customer kita,” pungkas Billy.
Baca Juga: Dari KSJ Locator hingga Low Sugar Drink, Ini Strategi JIWA Group di 2026