Putri Amien Rais, Hanum Salsabiela Rais menyebut Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sedang putar otak melakukan berbagai upaya demi menghindari paket C setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan orang nomor 2 di RI itu tidak memiliki ijazah SMA/SLTA. 

Menurut Hanum, Gibran saat ini sedang berupaya mendaftarkan dokumen Advanced Diploma dari MDIS miliknya ke kementerian terkait agar dokumen ini disetarakan dengan jenjang SMA. 

Baca Juga: Gibran Mau Pamer Ijazah SMA, tapi Nggak Tahu Kapan, Tunggu Aja!

Perlu diketahui Advanced Diploma lebih dekat atau umum disetarakan dengan D3 (Diploma 3), namun dalam beberapa sistem pendidikan internasional (seperti Australia atau kerangka kualifikasi tertentu), tingkatannya berada di atas D3 tetapi belum penuh setara dengan S1 (Bachelor's Degree).

"Guys, ada bocoran bahwa Fufufafa meminta timnya untuk mendaftarkan advance diploma mdis nya untuk penyetaraan ke Kementrian, sebagai “ralat” suket SMA dr UTS Insearch," kata Hanum di akun X miliknya dilansir Selasa (13/10/2026).

"Karena masih jadi orang nomor 2, semua penyelenggara gercep," tambah Hanum.

Hanum mengatakan, langkah yang ditempuh Gibran benar-benar diluar akal sehat manusia, sebab ia memaksakan hal-hal yang tampak mustahil menjadi sebuah kenyataan demi menutupi boroknya. 

"Jadi walopun diploma justru akan disetarakan ke jenjang bawahnya: SLTA. Sehingga si tukang bully ini tdk perlu ikut paket C yg memakan waktu 3 thn dan pasti akan menimbulkan pengawasan baru dr masyarakat. Gila edan ngga sih,"  ujarnya. 

Pamer Ijazah

Sementara itu Ketua Umum Relawan Militan Gibran 08 Nusantara, Andi Azwan memastikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bakal memamerkan ijazah SMA miliknya setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan putra sulung Joko Widodo (Jokowi) tak memiliki ijazah SLTA/setara yang menjadi syarat utama pendaftaran dirinya sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2024 lalu. 

Andi mengatakan, Gibran memiliki sertifikat A Level atau Advanced Diploma yang diklaim dapat menjadi bukti pemenuhan pendidikan setara sekolah menengah atas.

"Sertifikat A level atau Advanced Diploma itu pun akan diperlihatkan oleh Mas Gibran," kata Andi setelah berkunjung ke kediaman Jokowi di Solo, Jawa Tengah dilansir Selasa (13/10/2026).

Kendati menjamin Gibran bakal pamer seluruh dokumen pendidikannya, namun dipertegas kapan ijazah itu bakal dipublikasikan, Andi hanya memberi jawaban diplomatis. 

"Yang jelas as soon as possible (sesegera mungkin) nanti akan diperlihatkan oleh Mas Gibran. Jadi tunggu tanggal mainnya," ujarnya.

Andi kemudian memaparkan riwayat pendidikan Gibran di luar negeri. Menurutnya, setelah lulus dari SMP Negeri 1 Surakarta, Gibran melanjutkan pendidikan di Orchid Park Secondary School, Singapura, hingga memperoleh Certificate O Level.

"O level itu setara kelas 10 atau kelas 11 belum ke kelas 12 ya. Nah setelah itu masuk ke Pathway," ujarnya.

Setelah menempuh pendidikan tersebut, Gibran disebut mengikuti program Pathway. Andi menjelaskan, program itu menghasilkan certificate of attendance atau sertifikat kehadiran yang dapat digunakan untuk mendaftar program diploma maupun bachelor di MDIS.

"Di certificate attendance itu mengatakan bahwa ini adalah telah menempuh pathway. Memang itu bukan sertifikat kelulusan. Tapi dia tidak bisa masuk ke diploma atau D3, dia tidak bisa masuk ke S1 kalau tidak mempunyai sertifikat model attendance itu," ungkap Andi.

Ia juga berpendapat bahwa Gibran tidak mungkin menyelesaikan pendidikan sarjana tanpa memperoleh sertifikat A Level atau Advanced Diploma. Namun, dokumen yang dijanjikan akan diperlihatkan itulah yang kini menjadi perhatian dalam polemik persyaratan pendidikan sang Wakil Presiden.

Baca Juga: DPR Jangan Diem-Diem Aja soal Ijazah Gibran Anaknya Jokowi!

Di sisi lain, Andi menilai perkara hukum terkait ijazah Gibran telah selesai. Ia mengklaim MK menolak petitum para penggugat karena mereka tidak memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU), lantaran bukan pasangan calon.

"Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan sebetulnya, karena ini prosesnya politik yang digoreng-goreng oleh mereka untuk membangun opini publik,"  tambah Andi.