Growthmates, demam atau peningkatan suhu tubuh kerap membuat orang langsung mencari obat penurun panas. Salah satu yang umum digunakan adalah paracetamol. Namun, apakah setiap kondisi demam perlu segera diatasi dengan paracetamol?

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik, Prof. Dr. Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM, FINASIM, menjelaskan bahwa demam perlu dilihat dari kondisi yang menyertainya.

Pasalnya, badan panas dapat menjadi tanda dari berbagai kondisi atau penyakit sehingga tidak selalu cukup hanya dengan mengonsumsi obat penurun panas.

“Yang pertama harus tahu dulu demam itu apa. Demam atau panas badan itu kalau lebih dari 37,2, apalagi kalau 37,8, itu perlu pengobatan hati-hati. Nanti tahu-tahu radang paru, tahu-tahu typhoid fever, tahu-tahu demam berdarah, jadi kemungkinan badan panas itu banyak macam,” jelas Prof. Zubairi, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Selasa (22/9/2026).

Prof. Zubairi melanjutkan, paracetamol tetap dapat dikonsumsi apabila demam atau rasa tidak nyaman yang muncul cukup mengganggu. Namun, masyarakat perlu memperhatikan perkembangan kondisi tubuh pada hari-hari berikutnya.

“Apakah boleh pada hari panas itu langsung minum paracetamol? Kalau mengganggu sekali ya boleh. Namun, kalau pada hari-hari berikutnya tidak sembuh, masih tetap panas atau badan makin lemah, ada mual muntah atau timbul bintik-bintik di kulit, maka harus ke dokter,” katanya.

Baca Juga: Dokter Ungkap Manfaat Turunkan Berat Badan 10 Kg, Risiko Kematian Bisa Turun 20–50 Persen

Prof. Zubairi lantas menuturkan, gejala yang menyertai demam dapat membantu dokter menentukan kemungkinan penyebabnya.

Misalnya, munculnya bintik-bintik pada kulit dapat menjadi salah satu tanda yang membuat dokter mempertimbangkan demam berdarah dengue (DBD), sementara gangguan atau keluhan pada perut yang disertai demam tinggi dapat mengarah pada pemeriksaan untuk kemungkinan demam tifoid.

“Dokter memerlukan kadang-kadang pemeriksaan tambahan. Kalau ada bintik-bintik atau nyeri otot berat, itu ada yang takut pada penyakit demam berdarah misalnya. Kalau ada gangguan di perut, jangan-jangan ada typhoid fever, artinya sakit di perut, kemudian badan panas tinggi,” jelasnya.

Untuk memastikan penyebab demam, pemeriksaan lebih lanjut dapat diperlukan. Prof. Zubairi mengatakan, pemeriksaan laboratorium dapat membantu dokter memastikan kondisi yang mendasari keluhan tersebut.

“Dengan tes laboratorium bisa dipastikan. Namun, jangan lupa ada penyakit yang banyak sekali ditemukan di Indonesia yang membahayakan jiwa, namun orang tidak terlalu waspada. Itu apa? TBC,” ujar Prof. Zubairi.

Tuberkulosis atau TBC, lanjut dia, juga perlu diperhatikan ketika seseorang mengalami demam yang berlangsung cukup lama. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis ini tidak selalu diawali dengan gejala yang selama ini banyak dikenal masyarakat, seperti batuk darah.

“Jadi sakit paru akibat TBC itu bisa gawat, bisa menyebabkan kematian. Bisa saja kelihatannya awalnya berupa panas. Jadi TBC tidak selalu dimulai keluhannya dengan batuk darah,” katanya.

Karena itu, pada pasien yang mengalami demam berkepanjangan, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk pemeriksaan darah dan rontgen dada, sesuai dengan kondisi dan hasil pemeriksaan awal.

“Beberapa pasien panas yang lama, jadi kadang-kadang dokter selain periksa darah juga minta pemeriksaan rontgen dada,” tutup Prof. Zubairi.

Baca Juga: Tidur 8 Jam tapi Bangun Tetap Lelah? Dokter Ungkap 6 Penyebab yang Jarang Disadari