Presiden Prabowo Subianto diminta tak lagi terlalu mengistimewakan Joko Widodo (Jokowi), terutama jika mantan Presiden ke-7 RI itu mulai mengubah sikap politiknya terhadap keberlanjutan pemerintahan Prabowo-Gibran. Situasi ini dinilai tak perlu membuat Prabowo merasa terancam, meski sebelumnya Jokowi sempat terang-terangan menyatakan dukungan untuk dua periode.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, menilai sikap Prabowo yang tidak ikut menanggapi polemik persyaratan pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sudah tepat. Menurutnya, Presiden tidak perlu terlalu memusingkan perubahan pernyataan kolega politiknya mengenai dukungan untuk Pilpres 2029.

"Tentu sikap presiden sudah benar," kata Dedi, dikutip Rabu (14/10/2026).

Baca Juga: Dear Pak Prabowo... Sudah Cukup Ngasuh Geng Solo 2 Tahun

Sebelumnya, Jokowi sempat menyatakan dukungan agar Prabowo-Gibran melanjutkan pemerintahan hingga dua periode. Namun, ketika kembali ditanya mengenai dukungan tersebut, Jokowi belakangan hanya menjawab bahwa pelaksanaan pemilu masih jauh.

Perubahan pernyataan itu dinilai Dedi bisa menjadi sinyal adanya pergeseran sikap politik Jokowi. Ia menduga kekecewaan terhadap respons Prabowo dalam polemik yang menyeret nama Gibran berpotensi memengaruhi dukungan politik mantan Presiden tersebut menjelang Pilpres 2029.

"Kekecewaan Jokowi berimbas pada sikap politiknya, termasuk menarik dukungan ke Prabowo di Pilpres 2029," ungkap Dedi.

Meski begitu, Dedi menilai Prabowo tidak perlu menganggap perubahan sikap Jokowi sebagai ancaman besar. Pasalnya, menurut dia, Jokowi tidak memiliki kekuatan politik yang cukup untuk menentukan arah kontestasi Pilpres 2029 seorang diri.

Baca Juga: Amien Rais Minta Gibran Mundur: Yakinkan Jokowi, Mas Prabowo...

Dedi juga menyoroti keterbatasan dukungan Jokowi di parlemen yang dinilainya tidak cukup kuat untuk mengubah peta politik. Karena itu, ia berpandangan bahwa Prabowo tidak perlu terus memberikan perlakuan istimewa kepada mantan Presiden tersebut hanya karena riwayat kedekatan politik mereka.

"Membuat Prabowo merasa perlu untuk tidak lagi mengistimewakan Jokowi dan hasrat kekuasaannya," serunya.

Pandangan Dedi ini menempatkan hubungan politik Prabowo dan Jokowi sebagai salah satu hal yang patut dicermati menjelang Pilpres 2029. Namun, dugaan perubahan dukungan tersebut belum menjadi kepastian bahwa Jokowi benar-benar akan menarik dukungannya dari Prabowo.