Saham Apple menjadi salah satu perusahaan teknologi yang mencatat perjalanan luar biasa selama kepemimpinan Tim Cook.

Kini, setelah John Ternus ditunjuk untuk mengambil alih posisi CEO, perhatian investor beralih pada satu pertanyaan besar, apakah saham produsen iPhone tersebut mampu mempertahankan kinerja impresifnya?

Saham Apple, yang juga pernah menjadi salah satu investasi favorit Warren Buffett, telah memberikan imbal hasil sekitar 42% dalam setahun terakhir. Namun, pergantian pucuk pimpinan membuat investor kembali mencermati prospek perusahaan dan kemampuan Ternus dalam melanjutkan pertumbuhan Apple.

Tim Cook sendiri menghadapi tantangan besar ketika menggantikan Steve Jobs sebagai CEO Apple pada Agustus 2011. Saat itu, banyak pihak mempertanyakan apakah Cook mampu meneruskan kesuksesan pendiri Apple tersebut.

Namun, perjalanan lebih dari satu dekade menunjukkan hasil yang berbeda. Menurut pakar valuasi Aswath Damodaran, Steve Jobs memberikan 'dorongan fundamental' kepada Apple dengan imbal hasil tahunan majemuk sebesar 47,19%.

Sementara itu, Cook berhasil menambahkan nilai pasar yang sangat besar, mencapai sekitar US$3,64 triliun. Dan, kini, giliran Ternus yang harus membuktikan kemampuannya.

John Ternus Harus Menemukan Jalannya Sendiri

Damodaran menilai, Ternus tidak harus mencoba menjadi Steve Jobs ataupun Tim Cook. CEO baru Apple perlu menemukan pendekatannya sendiri sesuai dengan kondisi perusahaan saat ini.

Apple, menurut Damodaran, telah berubah menjadi perusahaan yang lebih matang, lebih berorientasi pada pengembalian kas kepada pemegang saham, sekaligus lebih berhati-hati dalam menjalankan bisnis.

"Meskipun mungkin tidak akan pernah ada film Hollywood tentang 'pragmatisme operasional' Tim Cook, warisan sikap kehati-hatiannya merupakan kualitas manajemen yang layak mendapatkan apresiasi tersendiri," demikian pandangan Damodaran.

Pernyataan tersebut menggambarkan tantangan yang kini dihadapi Ternus. Ia tidak hanya perlu mempertahankan bisnis Apple yang sudah sangat besar, tetapi juga harus menemukan mesin pertumbuhan baru tanpa mengorbankan disiplin operasional yang telah dibangun selama era Cook.

Seberapa Besar Potensi Saham Apple di Era Ternus?

Selama kepemimpinan Tim Cook, saham Apple melonjak lebih dari 2.300%. Kini, investor tentu ingin mengetahui apakah Ternus dapat membawa perusahaan mencatatkan perjalanan serupa.

Chris Brigati, Chief Investment Officer di SWBC, menilai Ternus akan mewarisi standar yang sangat tinggi.

"Steve Jobs meninggalkan standar yang sangat tinggi untuk dilampaui, namun Cook juga meninggalkan warisan besar—meskipun dengan karakteristik berbeda—mengingat pendekatannya yang sangat berbeda dalam memperluas mesin pertumbuhan perusahaan," demikian dikutip Bloomberg.

Brigati menilai kinerja Cook selama memimpin Apple tidak bisa dianggap remeh.

"Ia tentu telah melakukan hal-hal luar biasa sebagai CEO, dan setiap pemegang saham telah memperoleh keuntungan, mungkin lebih besar dari yang diperkirakan saat ia pertama kali mengambil alih," tambahnya.

Kinerja tersebut bahkan terlihat lebih impresif jika dividen diperhitungkan. Menurut laporan Bloomberg, saham Apple melonjak sekitar 2.736% selama masa jabatan Cook berdasarkan total imbal hasil (total return).

Sebagai pembanding, indeks S&P 500 mencatat kenaikan sekitar 769%, termasuk dividen, sementara indeks Nasdaq 100 yang didominasi saham teknologi melonjak sekitar 1.512% dalam periode yang sama.

Angka tersebut menunjukkan betapa besar nilai yang berhasil diciptakan Apple bagi pemegang saham selama era Cook.

Baca Juga: Tim Cook Resmi Tinggalkan Kursi CEO Apple

Apple, Saham Andalan Warren Buffett

Perjalanan Apple juga tidak bisa dilepaskan dari Warren Buffett. Perusahaan yang dipimpin Buffett, Berkshire Hathaway, menjadikan Apple sebagai salah satu investasi saham terbesarnya.

Buffett bahkan pernah berseloroh bahwa Tim Cook telah menghasilkan lebih banyak keuntungan bagi pemegang saham Berkshire Hathaway dibandingkan keuntungan yang pernah ia hasilkan sendiri sebagai CEO Apple.

Berkshire mulai mengakumulasi saham Apple dengan nilai sekitar US$35 miliar sepanjang 2016 hingga 2018. Investasi tersebut kemudian berkembang menjadi sekitar US$185 miliar sebelum pajak, termasuk dividen dan keuntungan investasi, menurut pernyataan Buffett yang dikutip Business Insider.

"Dan saya sama sekali tidak perlu melakukan apa pun," kata Buffett.

Keberhasilan investasi tersebut menjadi salah satu contoh paling menonjol dari strategi Buffett dalam memilih perusahaan dengan bisnis kuat, merek yang solid, serta kemampuan menghasilkan arus kas dalam jangka panjang.

Tantangan Besar Menanti CEO Baru

Meski warisan Cook sangat besar, Ternus mengambil alih Apple pada situasi yang berbeda. Perusahaan kini berada dalam fase yang lebih matang dibandingkan ketika Cook pertama kali menjadi CEO.

Artinya, mempertahankan pertumbuhan tidak cukup hanya dengan mengandalkan keberhasilan produk-produk yang sudah ada. Apple perlu terus menciptakan sumber pertumbuhan baru, sembari menjaga margin, arus kas, dan loyalitas pengguna.

Bagi investor, pergantian CEO juga menghadirkan ketidakpastian sekaligus peluang. Ternus akan dinilai bukan hanya dari kemampuannya menjaga kinerja Apple, tetapi juga dari bagaimana ia membawa perusahaan menghadapi persaingan teknologi yang semakin ketat.

Warisan Cook memang tinggi. Namun, tantangan terbesar bagi Ternus bukan sekadar mengulangi pencapaian pendahulunya. Ia harus membuktikan bahwa Apple masih mampu menciptakan babak pertumbuhan berikutnya.

Dengan sejarah kenaikan saham yang luar biasa selama era Cook dan posisi Apple sebagai salah satu perusahaan paling bernilai di dunia, perjalanan Ternus sebagai CEO baru dipastikan menjadi salah satu hal yang paling diperhatikan investor global.

Baca Juga: Pelajaran Kepemimpinan dari Steve Jobs dan Tim Cook yang Membawa Apple ke Puncak