Menjelang penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib bagi siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) kelas III–VI mulai Juli 2027, British Council bersama Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah, Kementerian Agama Republik Indonesia meluncurkan program Strengthening the Teaching of English in Primary Schools through Communities of Practice (STEPS-CoP) pada Rabu (14/10) lalu.

Program ini akan dimulai dengan Training of Trainers (ToT) yang dilakukan kepada 68 Community of Practice (CoP) Leaders yang nantinya akan memberikan pelatihan kepada 6.000 guru Bahasa Inggris dan guru kelas MI di 34 kota/kabupaten. Summer Xia, Country Director Indonesia dan Director Southeast Asia British Council, mengatakan bahwa kolaborasi dengan Direktorat GTK Madrasah menjadi kesempatan penting untuk mendukung upaya Pemerintah Indonesia memperkuat pendidikan bahasa Inggris sejak jenjang dasar.

Baca Juga: Bukan Cuma Soal Suksesi, Ini 7 Pelajaran Kepemimpinan dari Warren Buffett

“Mempersiapkan penerapan wajib bahasa Inggris di madrasah bukan sekadar perubahan kurikulum. Lebih dari itu, ini adalah upaya membekali para guru agar dapat membuka lebih banyak peluang bagi jutaan anak di seluruh Indonesia. Melalui STEPS-CoP, kami memadukan keahlian global British Council dengan pengetahuan dan pengalaman para pendidik Indonesia untuk membangun model pengembangan profesional yang dapat diperluas dan berkelanjutan,” ujar Summer Xia.

Bagi siswa MI, pembelajaran sejak dini diharapkan menjadi fondasi agar mereka semakin siap tumbuh dan berpartisipasi di dunia yang semakin terhubung. Salah satu pembeda STEPS-CoP adalah pendekatan pengembangan profesional berbasis komunitas. Alih-alih menempatkan pelatihan sebagai kegiatan yang selesai ketika sesi berakhir, program ini mendorong guru terus belajar bersama, mendiskusikan persoalan yang mereka temui di kelas, saling bertukar pengalaman, serta mengembangkan praktik baik bersama rekan sejawat.

Sebanyak 68 CoP Leaders akan dipersiapkan melalui Training of Trainers untuk menjadi fasilitator dan penggerak komunitas belajar di 34 kota/kabupaten. Mereka akan mendukung pengembangan 6.000 guru sekaligus membantu menjaga agar proses pembelajaran profesional dapat terus berjalan melalui komunitas. Selain itu, EnglishScore British Council dan Self-Assessment Tool (SAT) digunakan untuk membantu memetakan kompetensi bahasa Inggris dan pedagogi guru.

Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA menegaskan bahwa penerapan bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah perlu ditempatkan dalam visi pendidikan madrasah yang lebih luas. “Penerapan Bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah bukan semata-mata penambahan mata pelajaran, tetapi bagian dari ikhtiar mempersiapkan generasi madrasah agar memiliki kemampuan untuk mengakses ilmu pengetahuan dan berinteraksi dengan dunia yang semakin terbuka, tanpa kehilangan akar nilai dan karakter mereka,” ujarnya.

Menurut Menteri Agama, kesiapan guru menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan perubahan tersebut. “Guru harus diberikan kesempatan untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan saling menguatkan. Kolaborasi ini kami harapkan dapatmembangun budaya pengembangan profesional yang berkelanjutan,sehingga perubahan kebijakan pada 2027 benar-benar menghadirkan pengalaman belajar yang semakin berkualitas bagi siswa madrasah di seluruh Indonesia,” lanjutnya.