Gubernur DKI Pramono Anung dengan tegas melarang pemasangan atribut partai politik baik spanduk maupun bendera di seluruh jalan layang atau flyover Jakarta.
Pemasangan atribut partai politik kerap kali dilakukan di jembatan dan beberapa fasilitas publik lainnya ketika sebuah Partai Politik menggelar hajatan, selain mengganggu lalu lintas keberadaan atribut partai politik itu juga menjadi sampah visual yang bikin polusi estetika kota.
Baca Juga: Putar Otak Atasi Banjir, Pramono Normalisasi Ciliwung yang Mangkrak Sejak Era Anies Baswedan
"Saya benar-benar pengen menertibkan, enggak ada lagi di Jakarta yang namanya flyover itu kalau partai ada acara kemudian masang di flyover. Itu mengganggu banget lalu lintas yang ada di Jakarta dan itu akan kami lakukan," ujar Pramono di kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat dilansir Rabu (4/3/2026).
Politisi PDI Perjuangan ini mengaku larangan pemasangan atribut Partai Politik itu selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya memang telah melarang hal tersebut. Pemprov DKI Jakarta kata Pramono menindaklanjuti arahan itu secara serius.
"Tentu apa yang menjadi arahan Bapak Presiden untuk di Jakarta kami tindak lanjuti," lanjutnya.
Dalam kesempatan tersebut, Pramono juga menyinggung soal pemanfaatan trotoar. Ia meminta agar trotoar yang telah dibangun tidak kembali digunakan oleh pedagang kaki lima, namun dimanfaatkan untuk para pejalan kaki.
"Saya meminta semua trotoar yang sekarang sedang dibangun di Jakarta, jangan trotoarnya selesai kemudian pedagang kaki lima dibiarkan untuk memanfaatkan trotoar itu. Yang seperti itu pasti akan saya tertibkan," ujar Pram.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto meminta pemerintah daerah untuk menertibkan spanduk iklan berukuran besar di sepanjang jalan sebagai bagian dari dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah).
"Terus terang saja saya minta kepada pemerintah tolong tertibkan iklan-iklan, spanduk-spanduk, terlalu banyak," ujar Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center, Bogor, Senin (2/2/2026).
"Kalau saya ke Balikpapan dan saya ke Banjarmasin hampir nggak berbeda. Spanduk-spanduk, spanduk-spanduk, kalau saya naik ke Hambalang, spanduk, spanduk, spanduk," sambung Prabowo.
Presiden RI tersebut memberi contoh spanduk iklan ayam goreng. Ia mempertanyakan alasan spanduk perlu dipasang dengan ukuran besar. Ia menilai, turis atau wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah tidak ingin melihat spanduk-spanduk tersebut.
"Ayam goreng pesen satu dapat 1 free. Kenapa harus besar-besar sih? Turis datang nggak mau lihat spanduk," katanya.
Adapun, Prabowo meminta pemerintah daerah maupun pengusaha untuk menertibkan spanduk iklan serta menyarankan untuk tidak dibuat berlebihan.