Bank Indonesia (BI) menilai bahwa intermediasi perbankan tetap kuat hingga kuartal ketiga tahun 2026. Hal tersebut juga diikuti dengan ketahanan perbankan yang relatif terjaga.

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa pertumbuhan kredit perbankan pada September 2026 tercatat tinggi sebesar 13,26% (yoy). Kredit investasi hingga konsumsi menjadi kontributor utama bagi pertumbuhan kredit perbankan.

Baca Juga: Sikap BI atas Ancaman MSCI Downgrade Pasar Modal RI: Fokus Tarik Modal Asing Kembali ke Indonesia!

"Pertumbuhan tersebut didukung oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi yang masing-masing tumbuh sebesar 23,20% (yoy), 11,89% (yoy), dan 4,86% (yoy)," sebut Destry Damayanti dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Destry menambahkan, kredit ke korporasi yang tidak terkait dengan program Pemerintah juga meningkat. BI menilai bahwa potensi kenaikan kredit masih tinggi sejalan masih besarnya fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang tercatat Rp2.562,57 triliun atau 21,70% dari plafon kredit yang tersedia. Sementara itu, pertumbuhan DPK tercatat lebih rendah yakni 8,22% (yoy) sehingga perlu terus didorong guna menopang pertumbuhan kredit.

Baca Juga: Gubernur BI Buka-Bukaan 3 Faktor Kunci yang Bikin Rupiah Melemah hingga Sentuh Rp18.000 per Dolar AS

"Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 dalam kisaran 8-12%," lanjutnya.

Dari sisi ketahanan perbankan, Destry menyebut hal tersebut secara umum tetap kuat, dengan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada Agustus 2026 tercatat tinggi sebesar 24,10%. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) perbankan secara agregat rendah di level 2,11% (bruto) dan 0,84% (neto) pada Agustus 2026. Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) tercatat meningkat dari 23,04% pada Agustus 2026 menjadi 24,08% pada September 2026.