Generasi Z ternyata punya cara tersendiri saat berbelanja online. Bukan sekadar memasukkan barang ke keranjang lalu checkout, konsumen muda ini cenderung lebih aktif mencari kombinasi promo dan penawaran untuk mendapatkan nilai terbaik.
Temuan tersebut terungkap dalam The 2026 ECommerce Savvy Shopper Report: Southeast Asia yang disusun Lazada bersama perusahaan eCommerce intelligence Cube. Studi terhadap 6.000 konsumen online berusia 18–61 tahun di enam negara Asia Tenggara itu menunjukkan bahwa Gen Z termasuk kelompok yang aktif mengoptimalkan nilai belanja.
Salah satu caranya terlihat dari kebiasaan memanfaatkan paket bundling dan promo. Sebanyak 65% konsumen Gen Z mengisi keranjang belanja dengan bundling dan promo untuk mendapatkan nilai terbaik.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan konsumen Gen X yang berada di angka 37%.
Baca Juga: Askrindo Dorong Gen Z ‘USU’ Melek Proteksi Finansial
Perbedaan ini menunjukkan adanya perubahan cara konsumen muda dalam mengambil keputusan belanja. Bagi Gen Z, mendapatkan harga atau nilai terbaik tidak selalu berarti memilih produk dengan harga paling murah, tetapi juga memanfaatkan kombinasi penawaran yang tersedia.
Kebiasaan tersebut sejalan dengan karakter Konsumen Cerdas atau Savvy Shoppers yang dalam laporan ini dinilai berdasarkan empat aspek, yakni kemampuan memverifikasi produk dan penjual, mengoptimalkan nilai belanja, memastikan rasa yakin dan keamanan saat bertransaksi, serta kecakapan memanfaatkan teknologi digital.
Di Indonesia sendiri, sekitar 28% konsumen online masuk kategori Konsumen Cerdas. Mereka tercatat mengeluarkan 19% lebih banyak setiap bulan untuk berbelanja di eCommerce dibandingkan Konsumen Biasa.
Namun, pengeluaran yang lebih tinggi tersebut bukan semata-mata karena konsumen lebih mudah tergoda promo. Konsumen Cerdas justru cenderung mempertimbangkan nilai yang diperoleh dari setiap transaksi.
Sebanyak 34% Konsumen Cerdas di Indonesia bersedia membayar lebih untuk mendapatkan diskon yang lebih besar. Selain itu, 30% rela meluangkan waktu lebih lama untuk membandingkan berbagai penawaran demi memperoleh nilai terbaik.
Mereka juga tidak selalu mengejar pengiriman tercepat. Sebanyak 39% Konsumen Cerdas bersedia menunggu lebih lama apabila pilihan pengiriman tersebut menawarkan nilai yang lebih baik.
Baca Juga: Tak Cukup Hanya Wariskan Harta, Studi Sun Life Asia: Kesiapan Generasi Penerus Jadi Perhatian Utama
Dari sisi keamanan, konsumen Cerdas juga menunjukkan kecenderungan untuk tidak mengorbankan perlindungan demi harga murah. Sebanyak 49% bersedia membayar lebih untuk meningkatkan perlindungan saat berbelanja, dibandingkan 27% pada Konsumen Biasa.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa perilaku belanja online kini semakin bergeser. Konsumen, khususnya generasi muda, tidak hanya mempertimbangkan nominal harga, tetapi juga membandingkan promo, bundling, perlindungan, keaslian produk, hingga manfaat yang diperoleh dari sebuah transaksi.
Simon Torring, Co-Founder Cube, mengatakan kecerdasan konsumen menjadi salah satu indikator kematangan pasar eCommerce karena konsumen semakin mampu memastikan keaslian produk, menimbang nilai belanja, mengelola risiko, dan memanfaatkan teknologi.
“Studi tahun ini menunjukkan bahwa kecerdasan konsumen menjadi indikator utama kematangan pasar. Ini dikarenakan konsumen cerdas mampu memastikan keaslian produk, menimbang nilai belanja, mengelola risiko, dan memanfaatkan teknologi secara optimal. Kesimpulan yang paling menarik adalah belanja cerdas bukan semata-mata tentang sensitivitas harga, melainkan juga tentang perilaku konsumen yang lebih terarah, mengambil keputusan berdasarkan informasi, dan merasa percaya diri dalam memanfaatkan ekosistem eCommerce,” ujar Simon.
Dengan kebiasaan memanfaatkan bundling dan promo, Gen Z pun menjadi salah satu kelompok yang ikut membentuk pola baru dalam belanja online. Bagi mereka, promo bukan sekadar potongan harga, tetapi bagian dari strategi untuk mendapatkan nilai lebih dari setiap pembelian.