dr. Paskah menyebut, lebih dari 90 persen obat-obatan gagal jantung mutakhir telah tersedia di Indonesia. Tantangannya, menurut dia, adalah bagaimana terapi tersebut dapat dioptimalkan sehingga pasien tidak terlambat mendapatkan penanganan.
“90 persen lebih obat-obatan gagal jantung mutakhir itu sudah ada di Indonesia. Tinggal bagaimana kita mengoptimalkan sebelum pasien ini jatuh ke stadium gagal jantung lanjut,” kata dr. Paskah.
Sekitar 10 persen pasien gagal jantung diperkirakan akan berkembang menjadi gagal jantung lanjut. Sementara itu, data publikasi dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk menunjukkan proporsi pasien dengan kondisi tersebut juga cukup signifikan.
Dikatakan dr. Paskah, ketika pasien sudah memasuki fase gagal jantung lanjut, pilihan terapi menjadi semakin terbatas. Obat-obatan atau intervensi sederhana tidak lagi selalu mampu memberikan hasil yang memadai. Dalam kondisi tertentu, pasien dapat membutuhkan transplantasi jantung atau dukungan mekanis seperti LVAD.
“Pasien sudah masuk gagal jantung lanjut tidak bisa ditolong dengan obat-obatan atau intervensi sederhana lagi. Sehingga harus menunggu transplantasi jantung dan sekarang puji Tuhan kita sudah punya opsi lain, yaitu LVAD,” tutur dr. Paskah.
Dipaparkan dr. Paskah, kehadiran LVAD menjadi relevan karena selama ini pasien gagal jantung lanjut di Indonesia yang tidak dapat menjalani transplantasi jantung memiliki pilihan yang sangat terbatas. Terapi paliatif dapat diberikan untuk menjaga kenyamanan pasien, tetapi tidak ditujukan untuk memperpanjang usia secara signifikan.
“Karena tanpa dua hal ini, selama ini pasien gagal jantung lanjut di Indonesia hanya bisa diterapi secara paliatif. Paliatif itu artinya hanya membuat mereka nyaman, tapi harapan hidupnya sangat pendek,” jelasnya.
Menurut dr. Paskah, kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri ketika dialami pasien yang masih berada pada usia produktif. Ia memberikan gambaran bahwa pendekatan paliatif tentu memiliki konteks yang berbeda pada pasien lanjut usia dibandingkan pasien yang masih relatif muda.
“Bisa dibayangkan kalau pasien gagal jantung lanjut ini umurnya 40 tahun dan kita hanya menerapi, hanya let them go, hanya membuat mereka nyaman tapi tidak bisa memperpanjang usia. Ini tentunya sangat miris,” ujarnya.
Sementara itu, pada pasien berusia lanjut, pendekatan paliatif dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai dengan kondisi dan tujuan perawatan masing-masing pasien.
“Tapi kalau pasien gagal jantung lanjut ini umurnya sudah 70–80 tahun, that's fine, paliatif masuk akal,” lanjutnya.
Persoalan lain yang turut menjadi perhatian adalah ketertinggalan Indonesia dalam penerapan teknologi LVAD dibandingkan sejumlah negara di kawasan. Menurut dr. Paskah, Singapura telah memasang LVAD sejak 2009, disusul Malaysia pada 2010 dan Filipina pada 2017.
Karena itu, kehadiran LVAD di Indonesia tidak hanya berbicara tentang teknologi baru, tetapi juga tentang perluasan pilihan terapi bagi pasien yang telah mencapai gagal jantung lanjut.
Di sisi lain, penguatan deteksi dini dan optimalisasi pengobatan sejak tahap awal tetap menjadi bagian penting untuk mencegah pasien berkembang ke kondisi yang lebih berat.
Dengan semakin tersedianya pilihan terapi, pasien gagal jantung lanjut kini memiliki alternatif selain menunggu transplantasi jantung. Namun, pemilihan LVAD maupun terapi lainnya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi medis, usia, tingkat keparahan penyakit, serta evaluasi tim dokter yang menangani pasien.
Baca Juga: Catat Sejarah Baru, Siloam Hospitals Kebon Jeruk Hadirkan Teknologi LVAD untuk Pasien Gagal Jantung