Sutradara, Damar Rizal Marzuki, menghadapi tantangan baru dalam perjalanan kariernya melalui film Kembar Tak Sama. Untuk pertama kalinya, ia dipercaya mengarahkan sebuah film layar lebar setelah sebelumnya lebih banyak berkecimpung di dunia teater sebagai aktor dan sutradara, serta bekerja di industri film sebagai aktor dan acting coach.

Pengalaman lintas bidang tersebut menjadi bekal bagi Damar untuk menghadirkan pendekatan berbeda dalam menggarap Kembar Tak Sama, sebuah film komedi keluarga yang berupaya memadukan humor, dinamika hubungan antartokoh, dan emosi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Ini pertama kalinya saya sebagai sutradara film. Dan, ini salah satu tantangan yang lumayan berat, karena sebelumnya saya lebih banyak berada di dunia teater, menjadi aktor teater dan sutradara teater. Di film, saya biasanya menjadi aktor dan acting coach,” ungkap Damar, saat Press Conference & Syukuran FilmKembar Tak Sama yang digelar di Auditorium Gedung Rektorat IKJ, Jakarta, Senin (26/10/2026).

Menurut putra aktor senior, Almarhum Epy Kusnandar itu, tantangan terbesar bukan sekadar membuat penonton tertawa, melainkan menghadirkan komedi yang memiliki karakter kuat di tengah maraknya film komedi Indonesia. Ia menyadari genre tersebut telah digarap oleh banyak sineas berpengalaman maupun komika yang memiliki latar belakang berbeda.

Karena itu, Damar ingin menemukan pendekatan yang mampu membedakan Kembar Tak Sama dari film komedi lainnya. Ia memilih untuk tidak hanya mengandalkan dialog lucu atau permainan kata, tetapi juga membangun humor melalui situasi absurd yang dapat ditemukan dalam realitas sehari-hari.

“Challenge-nya, ini film komedi keluarga. Bagaimana saya bisa menghasilkan atau menciptakan sebuah film yang tetap bisa menghibur di tengah banyaknya film komedi di Indonesia? Semoga saya bisa masuk dengan halus, pelan-pelan, dan film ini juga bisa menghibur penonton,” katanya.

Bagi Damar, komedi dalam Kembar Tak Sama harus tetap berpijak pada hubungan antarkarakter dan dinamika keluarga. Humor, kata dia, tidak boleh berdiri sendiri hingga menghilangkan sisi emosional yang menjadi fondasi cerita.

Ia ingin penonton menikmati kelucuan yang muncul secara alami dari situasi, karakter, dan interaksi antartokoh. Dengan pendekatan tersebut, komedi diharapkan terasa lebih dekat dengan pengalaman penonton, bukan sekadar rangkaian lelucon yang dibuat untuk memancing tawa.

“Yang ingin kita pertahankan dalam film komedi ini adalah situasi keluarganya, hubungan antartokohnya, dan emosi dari setiap anggota keluarganya. Jadi, komedinya tidak hanya sekadar lucu-lucuan, tetapi muncul dari situasi, bukan hanya permainan dialog atau kata-kata,” tutur Damar.

Damar mengaku, dirinya melihat banyak peristiwa absurd yang terjadi di sekitar masyarakat dan justru terasa wajar karena menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Situasi semacam itulah yang ingin diolah menjadi sumber humor dalam filmnya.

“Banyak situasi absurd yang terjadi di sekitar kita dan itu sudah sangat sehari-hari. Harapannya, film ini tidak hanya menjadi tontonan yang lucu, tetapi juga benar-benar dekat bagi siapa pun yang menontonnya,” imbuhnya.

Baca Juga: Film 'Kembar Tak Sama' Mulai Diproduksi, Angkat Krisis Identitas Lewat Komedi Keluarga

Selain membangun cerita yang kuat, Damar juga memberikan perhatian khusus pada chemistry para pemain. Film ini mempertemukan aktor-aktor senior dengan sejumlah pendatang baru, sehingga diperlukan ruang bagi mereka untuk saling mengenal dan membangun interaksi yang meyakinkan di depan kamera.

Dalam proses persiapan, ia tidak hanya mengandalkan pembacaan naskah. Damar memilih membuka ruang interaksi yang lebih cair agar para pemain dapat berbincang, merespons satu sama lain secara spontan, dan membangun kedekatan sebelum proses produksi berlangsung.

“Dalam proses persiapan, saya membuka ruang yang terbuka, tidak hanya sekadar membaca naskah. Setiap aktor dibiarkan ngobrol supaya muncul reaksi yang natural,” katanya.

Menurut Damar, para pemain yang terlibat memiliki kemampuan yang sangat baik. Karena itu, ia memberikan kesempatan kepada mereka untuk berbaur secara alami tanpa terlalu banyak membatasi interaksi sejak awal.

Pendekatan tersebut kemudian memunculkan kedekatan dan dinamika kelompok yang berkembang dengan sendirinya. Ia bahkan melihat terbentuknya kelompok-kelompok pertemanan di antara para pemain, mulai dari kelompok yang bercanda dengan gaya senioritas hingga interaksi yang menyerupai hubungan antarkaryawan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi Damar, kedekatan semacam itu menjadi modal penting untuk menghadirkan hubungan antarkarakter yang terasa hidup. Dikatakannya, ketika para pemain mampu membangun kenyamanan satu sama lain, interaksi di layar diharapkan tidak terlihat dibuat-buat.

Menariknya, gagasan tentang perbedaan juga menjadi salah satu elemen yang ingin ia tonjolkan dalam film ini. Damar menyoroti bagaimana sebuah keluarga tidak selalu harus terlihat serupa, baik dari segi karakter maupun penampilan, untuk dapat membangun kebersamaan.

Ia pun menceritakan pengamatannya terhadap para pemain yang memerankan keluarga dalam film tersebut. Pada awalnya, ia melihat mereka tidak memiliki kemiripan yang kuat. Namun, semakin memperhatikan mereka, justru semakin terlihat bahwa perbedaan itu dapat menjadi sumber kelucuan sekaligus bagian dari identitas cerita.

Pengalaman tersebut pun membantunya menemukan gagasan yang merangkum pesan utama film Kembar Tak Sama, yakni kebersamaan tidak harus mensyaratkan keseragaman.

“Tidak perlu sama untuk melangkah bersama, dan tidak perlu sempurna untuk disebut sebagai keluarga,” pungkas Damar.

Baca Juga: Endy Arfian Ungkap Tantangan Perankan Dua Karakter Sekaligus di Film 'Kembar Tak Sama'