Konten kreator, aktivis, sekaligus pemengaruh media sosial, Ferry Irwandi, menyoroti kondisi Kalimantan yang menurutnya masih belum pulih dari dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meski hujan sesekali turun, kualitas udara dan kondisi masyarakat di sejumlah wilayah masih memerlukan perhatian serius, sehingga penanganan tidak boleh berhenti pada upaya pemadaman api.

Ferry mengatakan, berdasarkan informasi dari rekan-rekannya yang masih berada di lapangan, kondisi di Kalimantan belum menunjukkan perbaikan yang dapat dipastikan. Dampak kebakaran juga dirasakan masyarakat, mulai dari gangguan kesehatan hingga terganggunya pendidikan anak-anak.

“Bulan lalu saya ke Kalimantan dan kondisinya masih tidak baik-baik saja. Kualitas udara juga buruk dari pembaruan teman-teman yang masih di sana. Memang terkadang ada hujan, tetapi kita belum bisa mengatakan kondisinya sudah membaik,” kata Ferry, saat ditemui awak media di rangkaian acara WCCE 2026, yang digelar di SCBD Weekland, Jakarta, Sabtu (24/10/2026).

Menurutnya, situasi tersebut membutuhkan penanganan menyeluruh dengan keterlibatan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan berbagai pihak terkait. Ia berharap kebakaran segera mereda agar masyarakat yang terdampak dapat kembali menjalani aktivitas secara normal.

“Sudah banyak sekali masyarakat yang sakit dan anak-anak yang pendidikannya terganggu. Artinya, dibutuhkan penanganan yang benar-benar totalitas untuk Kalimantan, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah,” lanjutnya.

Ferry juga mengaku, dirinya berencana kembali ke Kalimantan Tengah pada awal November 2026, setelah sebelumnya mengunjungi sejumlah wilayah di bagian barat hingga selatan Kalimantan. Selain itu, ia berencana memperluas kegiatan peninjauan dan bantuan ke Sumatera untuk melihat kebutuhan masyarakat terdampak secara langsung.

Rencana tersebut berkaitan dengan inisiatif penggalangan dana yang digerakkan bersama masyarakat. Ferry menyebut, dana yang terkumpul telah mencapai Rp13,5 miliar dari sekitar 159.000 orang yang berpartisipasi.

Besarnya dukungan tersebut, menurut Ferry, menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap persoalan kebakaran hutan dan dampaknya bagi warga. Karena itu, ia berupaya memastikan dana yang dihimpun digunakan sesuai kebutuhan di lapangan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada para donatur.

“Sekarang sudah mencapai Rp13,5 miliar dari 159.000 orang yang ikut berpartisipasi. Saya berusaha memastikan donasi itu bisa digunakan sesuai kebutuhan dan semuanya bisa dipertanggungjawabkan,” paparnya.

Ferry menjelaskan, penggunaan dana saat ini diprioritaskan untuk penanganan kebakaran dan membantu masyarakat terdampak. Bantuan tersebut mencakup alat pelindung diri (APD), logistik, obat-obatan, serta peralatan pendukung pemadaman, termasuk perlengkapan penyaluran air dan mesin pompa.

Setelah penanganan darurat, ia menilai perlu ada langkah lanjutan berupa restorasi kawasan terdampak dan penguatan mitigasi agar kebakaran serupa tidak terus berulang. Dengan demikian, penanganan karhutla tidak hanya berorientasi pada memadamkan api, tetapi juga memulihkan lingkungan dan mencegah munculnya titik kebakaran baru.

“Kalau sekarang, fokus utama dana yang tersedia adalah untuk membeli alat pelindung diri, logistik, obat-obatan bagi masyarakat terdampak, dan peralatan pemadaman. Setelah itu, kita juga harus memikirkan restorasi dan bagaimana mitigasinya bisa lebih baik ke depan,” ungkap Ferry.

Ia menuturkan, dukungan yang diberikan tidak terbatas pada kebutuhan dasar masyarakat dan petugas di lapangan. Upaya konservasi serta kerja sama untuk mendukung kegiatan pemantauan dan penanganan di lapangan juga menjadi bagian dari rangkaian inisiatif tersebut.

Ferry mengatakan, informasi mengenai penggunaan dana dan daftar bantuan dapat diakses melalui akun Instagram pihak-pihak yang terlibat, surat elektronik yang dikirimkan kepada donatur, serta laman informasi khusus. Transparansi tersebut dinilai penting agar masyarakat yang telah menyumbangkan dana dapat mengetahui perkembangan penyaluran bantuan.

Baca Juga: WCCE 2026 Satukan Kreativitas Indonesia Lewat Kolaborasi dan 88 Brand Lokal

Lebih lanjut, Ferry menegaskan bahwa gerakan tersebut bukanlah upaya individu semata, melainkan hasil partisipasi masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap persoalan lingkungan. Banyaknya orang yang ikut berdonasi, lanjutnya, menunjukkan bahwa penanganan karhutla menjadi perhatian bersama dan perlu ditindaklanjuti melalui perbaikan kebijakan.

“Ini bukan gerakan saya sendiri, melainkan gerakan kolektif masyarakat. Banyak orang yang menyisihkan uangnya karena mereka peduli. Saya berharap semua pihak bisa belajar dari kejadian ini agar penanganan kebakaran hutan dan lahan ke depannya jauh lebih baik,” bebernya.

Di sisi lain, Ferry menyoroti perlunya evaluasi terhadap pemanfaatan lahan yang sebelumnya terbakar. Ia menyayangkan apabila area yang masih berkaitan dengan kebakaran justru kembali ditanami sebelum ada kejelasan mengenai penanganan dan tindak lanjut atas peristiwa tersebut.

Dikatakan Ferry, pemerintah perlu mempertimbangkan aturan yang lebih tegas mengenai pemanfaatan lahan bekas kebakaran. Salah satu usulan yang ia sampaikan adalah pelarangan penanaman di lahan bekas terbakar, yang menurutnya dapat menjadi bagian dari upaya mencegah pembakaran lahan untuk kepentingan pembukaan area tanam.

“Bahkan kita tidak perlu bicara soal etik terlebih dahulu. Apinya belum padam, tetapi kita sudah melihat ada area yang kembali ditanami. Itu yang saya sayangkan,” imbuhnya.

Ferry menilai, jika lahan yang terbakar dapat kembali dimanfaatkan untuk kegiatan penanaman tanpa tindak lanjut yang memadai, upaya pembakaran berpotensi terus berulang.

Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk mengkaji kebijakan yang dapat mencegah pihak-pihak tertentu memperoleh keuntungan dari pembukaan lahan melalui pembakaran.

“Desakan saya kepada pemerintah adalah soal pelarangan pemanfaatan lahan bekas kebakaran untuk ditanami. Dengan aturan seperti itu, kita bisa mencegah korporasi ataupun perorangan yang sengaja membakar lahan untuk kebutuhan penanaman,” katanya.

Ia berharap usulan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam memperkuat kebijakan pencegahan karhutla. Kata dia, penanganan yang konsisten diperlukan agar kebakaran tidak menjadi persoalan yang terus berulang setiap tahun, sementara masyarakat dan lingkungan harus kembali menanggung dampaknya.

Ferry juga mengingatkan bahwa dampak kebakaran hutan tidak hanya dirasakan masyarakat saat ini, tetapi dapat memengaruhi generasi berikutnya. Anak-anak di Kalimantan dan Sumatera, kata dia, berisiko terus menghadapi gangguan kesehatan dan pendidikan apabila tidak ada langkah nyata untuk memperbaiki penanganan kebakaran.

“Sayang sekali kalau tidak ada tindak lanjut dan akhirnya dibiarkan begitu saja. Anak-anak di Kalimantan dan Sumatera yang nantinya akan merasakan dampaknya,” tukasnya.

Selain menyoroti persoalan lingkungan, Ferry juga menanggapi penyelenggaraan World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 yang digelar hari ini. Ia mengapresiasi ruang dialog yang terbuka bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan masukan.

Menurutnya, komunikasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat perlu terus diperkuat, termasuk dalam mendukung pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Ferry menilai, UMKM memiliki peran penting dalam menciptakan lapangan kerja dan memperkuat perekonomian. Ia berharap para pelaku usaha dapat terus berkembang, memperluas kesempatan kerja, serta bertransformasi dari sektor informal ke sektor formal agar memiliki peluang pertumbuhan yang lebih besar.

“Terima kasih juga kepada Mbak Irene yang sudah mau terbuka menerima masukan. Semoga UMKM yang ada di sini bisa terus berkembang dan membuka banyak lapangan pekerjaan. Kita berharap usaha-usaha itu bisa beralih dari sektor informal menjadi formal karena akan bagus sekali buat ekonomi,” pungkas Ferry.

Baca Juga: Ferry Irwandi Serukan Patungan untuk Hutan Kalimantan, Ini Alasannya