Growthmates, mendengkur keras saat tidur kerap dianggap sebagai hal biasa. Padahal, kebiasaan tersebut, terutama jika disertai henti napas atau terbangun tiba-tiba karena sesak, bisa menjadi tanda obstructive sleep apnea (OSA), yakni gangguan tidur akibat penyempitan atau sumbatan jalan napas bagian atas.
Kondisi ini tidak boleh diabaikan karena dapat mengganggu kualitas tidur dan berpotensi meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular jika tidak ditangani dengan baik.
Dokter Spesialis Jantung Konsultan Kardiologi Intervensi di RS Hermina Depok, dr. Bobby Arfhan Anwar, SpJP(K), mengingatkan bahwa dampak OSA terhadap kesehatan jantung memang tidak selalu terasa secara langsung.
Namun, kata dia, gangguan pernapasan yang berulang selama tidur dapat memicu berbagai masalah kesehatan dalam jangka panjang.
“Ini enggak boleh dibiarkan, teman-teman, karena bisa bikin masalah jantung di kemudian hari,” tutur dr. Bobby, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram pribadinya dr.bobbyjantung, Rabu (7/10/2026).
Pada penderita OSA, kata dr. Bobby, otot-otot di sekitar saluran napas menjadi lebih rileks ketika tidur. Akibatnya, jalan napas bagian atas dapat menyempit atau kolaps sehingga aliran udara berkurang, bahkan berhenti sementara, meskipun tubuh tetap berusaha bernapas.
Gangguan ini bisa terjadi berulang kali sepanjang malam. Ketika kadar oksigen menurun, otak akan memicu respons singkat yang membuat seseorang terbangun sebagian agar jalan napas kembali terbuka.
Siklus tersebut pun dapat berlangsung berkali-kali tanpa disadari penderitanya, sehingga tidur menjadi terfragmentasi dan tubuh mengalami stres berulang.
Menurut dr. Bobby, dampak OSA terhadap kesehatan dapat berkembang secara bertahap. Gangguan tidur ini berpotensi meningkatkan tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol, serta berkaitan dengan peningkatan berat badan.
JIka faktor-faktor risiko tersebut tidak dikendalikan, risiko mengalami penyakit jantung serius, termasuk serangan jantung dan gagal jantung, juga dapat meningkat.
“Efeknya memang tidak langsung, tapi gangguan tidur seperti ini berpotensi meningkatkan tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan berat badan. Pada akhirnya, jika tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut bisa menyebabkan masalah jantung serius di kemudian hari, seperti serangan jantung atau gagal jantung,” jelasnya.
Baca Juga: Terbangun Karena Sesak Napas Saat Tidur? Kenali 6 Tanda Sleep Apnea
Karena itu, lanjut dr. Bobby, penting untuk mengenali tanda-tanda OSA sejak dini. Selain mendengkur keras, gejala yang perlu diwaspadai meliputi napas yang tampak berhenti saat tidur, terbangun karena tersedak atau megap-megap, mengantuk berlebihan pada siang hari, serta bangun tidur dalam kondisi tidak segar.
Sebagian penderita juga dapat mengalami sakit kepala pada pagi hari dan kesulitan berkonsentrasi akibat kualitas tidur yang terganggu.
Risiko OSA dapat meningkat pada orang dengan obesitas, pembesaran amandel, atau kelainan anatomi saluran napas. Konsumsi alkohol dan penggunaan obat penenang tertentu juga dapat memperburuk gangguan pernapasan saat tidur.
Lebih jauh, dr. Bobby menyarankan agar orang yang mengalami gejala tersebut segera berkonsultasi dengan dokter. Pemeriksaan dapat membantu mengidentifikasi penyebab gangguan pernapasan sekaligus menentukan penanganan yang sesuai.
Menurutnya, dokter spesialis THT dapat dilibatkan untuk mengevaluasi kondisi dan struktur saluran napas, sedangkan pemeriksaan tidur mungkin diperlukan untuk memastikan diagnosis OSA.
“Kalau ada anggota keluarga kita yang seperti ini, pastikan konsultasi ke dokter. Khususnya ke dokter THT, mungkin dilakukan pemeriksaan jalan napasnya dulu,” sarannya.
Terakhir, dr. Bobby pun menegaskan, tidur yang berkualitas merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan tubuh, termasuk jantung. Oleh sebab itu, kebiasaan mendengkur keras yang disertai gangguan pernapasan sebaiknya tidak dianggap sepele, terlebih jika terjadi berulang kali.
Tidur yang cukup dan berkualitas, disertai pengenalan gejala serta penanganan gangguan tidur yang tepat, dapat menjadi bagian dari langkah menjaga kesehatan dalam jangka panjang.
“Tidur berkualitas merupakan salah satu kunci agar kita tetap sehat, kuat, dan insyaallah berumur panjang,” tutup dr. Bobby.
Baca Juga: Sering Ngos-ngosan dan Kaki Bengkak? Waspadai Dampak Obesitas pada Jantung