Growthmates, pernahkah Anda merasa berat menghapus foto lama, percakapan chat, screenshot, email, atau dokumen yang sebenarnya sudah tidak dibutuhkan? Kebiasaan menyimpan berbagai data digital secara berlebihan dan sulit melepaskannya bisa menjadi tanda digital hoarding.

Dosen Program Studi Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) IPB University, Agung Minto Wahyu, S.Psi., M.Si., menuturkan, digital hoarding bukan semata-mata persoalan seberapa banyak file yang tersimpan di perangkat. Hal yang lebih penting adalah hubungan psikologis seseorang dengan data digital yang dimilikinya.

“Masalahnya bukan pada jumlah file yang kita miliki, tetapi pada seberapa besar kendali yang kita rasakan atas data digital kita sendiri,” tutur Agung.

Menurut Agung, menyimpan foto sebagai kenangan, mengunduh artikel untuk dibaca kemudian, atau menyimpan dokumen yang masih diperlukan merupakan kebiasaan yang wajar.

Persoalan mulai muncul ketika seseorang menyadari sebuah file sudah tidak lagi berguna, tetapi tetap merasa tidak mampu menghapusnya hingga mengganggu produktivitas dan aktivitas sehari-hari.

“Digital hoarding terjadi ketika seseorang terus-menerus menyimpan file digital hingga tidak lagi mampu membedakan mana yang benar-benar penting dan mana yang sebenarnya sudah tidak diperlukan. Akibatnya, alih-alih memberikan rasa aman, tumpukan data justru memunculkan stres dan perasaan kewalahan,” kata dia.

Ada sejumlah alasan psikologis yang dapat membuat seseorang sulit menghapus data digital. Salah satunya adalah pola pikir “siapa tahu berguna nanti”. Kelekatan emosional juga dapat muncul pada foto, chat, video, atau rekaman tertentu karena dianggap sebagai bagian dari kenangan maupun identitas diri.

Selain itu, sebagian orang menyimpan email, screenshot, dan percakapan digital sebagai bukti pekerjaan atau komunikasi. Ketika jumlah file terus bertambah, proses memilah dan menentukan mana yang perlu dipertahankan juga membutuhkan energi mental. Akibatnya, aktivitas tersebut sering kali ditunda.

Ketersediaan layanan penyimpanan digital dengan kapasitas besar dan harga yang semakin terjangkau turut membuat seseorang merasa tidak memiliki urgensi untuk menghapus file. Kondisi ini pada akhirnya dapat menciptakan kesan seolah-olah ruang penyimpanan tidak akan pernah habis.

Baca Juga: Studi Terbaru Ungkap Dampak WFH terhadap Kesehatan Mental

Agung mengatakan, digital hoarding juga berkaitan dengan kecemasan atau anxiety, fear of missing out (FOMO), serta kebutuhan untuk mendapatkan rasa aman melalui kepemilikan informasi. Seseorang dapat merasa khawatir apabila sebuah file dihapus, meskipun pada saat yang sama justru merasa kewalahan karena terlalu banyak data yang tersimpan.

“Seseorang merasa cemas kalau tidak menyimpan, tetapi juga merasa kewalahan karena terlalu banyak menyimpan. Di sinilah muncul lingkaran psikologis yang sulit diputus,” jelasnya.

Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kondisi psikologis, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap produktivitas. Data yang menumpuk tanpa pengorganisasian yang baik dapat membuat seseorang menghabiskan lebih banyak waktu untuk mencari file yang sebenarnya dibutuhkan.

Terlalu banyak informasi yang tersimpan juga dapat meningkatkan risiko information overload, yakni kondisi ketika banyaknya informasi justru membuat seseorang kesulitan menentukan data mana yang relevan dan harus diprioritaskan.

Untuk membangun kebiasaan digital yang lebih sehat, Agung menyarankan masyarakat mulai menyadari alasan di balik keputusan menyimpan sebuah file. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah menyediakan waktu sekitar 10–15 menit setiap minggu untuk memilah data digital.

Masyarakat juga dapat membuat kriteria sederhana sebelum menyimpan sebuah file, misalnya dengan mempertimbangkan apakah data tersebut masih memiliki fungsi, nilai kenangan, atau kemungkinan benar-benar dibutuhkan di kemudian hari. Dengan begitu, keputusan menyimpan tidak semata-mata didasarkan pada rasa cemas atau kekhawatiran akan kehilangan sesuatu.

“Kekuatan sebuah kenangan tidak ditentukan oleh apakah file-nya masih ada di ponsel kita atau tidak. Yang lebih penting adalah membangun hubungan yang lebih sadar dengan informasi digital kita, tahu apa yang kita simpan, mengapa kita menyimpannya, dan berani melepaskan apa yang sudah tidak lagi kita butuhkan,” pungkasnya.

Baca Juga: Journaling Dianggap Lebay? Dokter Jelaskan Manfaatnya untuk Kesehatan Mental