Founder Mayapada Group, Dato Sri Tahir, menyoroti tekanan psikologis yang memengaruhi sentimen pelaku pasar di Indonesia. Menurutnya, persepsi negatif yang berkembang belakangan ini berpotensi lebih besar daripada tekanan yang sebenarnya terjadi pada sektor riil.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya melihat kondisi ekonomi berdasarkan fakta dan indikator fundamental, bukan semata-mata sentimen pasar.

Tahir menilai, fundamental perekonomian Indonesia masih berada dalam kondisi yang baik. Sejumlah indikator, termasuk kenaikan harga komoditas dan konsumsi domestik yang tetap terjaga, menjadi faktor yang mendukung prospek ekonomi nasional di tengah dinamika global.

“Misalkan satu psikologis ya, kita akhir ini lebih banyak dimainkan psikologis. Saya merasa bahwa real sectornya dibanding sama psikologisnya, psikologisnya lebih besar,” tutur Tahir, saat wawancara eksklusif bersama Olenka, di Jakarta, belum lama ini.

Lebih jauh, Tahir pun mengajak pelaku pasar dan investor untuk menilai Indonesia berdasarkan fakta di lapangan. Menurutnya, penilaian terhadap prospek investasi seharusnya dilakukan dengan membandingkan kondisi Indonesia dengan negara lain, sekaligus mempertimbangkan peluang dan tantangan yang dihadapi masing-masing negara.

“Saya tanya sama investor, di luar Indonesia kira-kira sebut sama negara mana yang mau invest? Saya ingin tanya investor itu. You mau masuk mana? You harus jelaskan. Oh ini agak bagus, oke. Kalau agak bagus, yang bagus mana? Gak ada,” katanya.

Tahir menegaskan bahwa Indonesia memiliki sejumlah potensi ekonomi yang patut disyukuri. Salah satunya berasal dari kenaikan harga komoditas yang menjadi bagian penting dari aktivitas ekspor nasional.

Ia mencontohkan, timah, nikel, dan batu bara yang harganya terus meningkat di tengah dinamika geopolitik dan peperangan.

“Ekonomi kita betul-betul, kita bersyukur ya. Saya bersyukur menurut saya. Harga komodi naik terus nih. Dengan peperangan sekarang, kita bicara timah, kita bicara nikel, kita bicara batubara lah ya. Yang paling environment tidak friendly, itu naik terus harganya,” ungkapnya.

Kenaikan harga komoditas tersebut, menurut Tahir, membuka peluang bagi Indonesia untuk memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar. Namun, peluang itu juga perlu diimbangi dengan kebijakan yang mampu mengoptimalkan penerimaan negara, termasuk memastikan hasil ekspor memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian domestik.

Baca Juga: Dato Sri Tahir Sebut Ekonomi Indonesia Masih Bergerak Positif, Ini Indikatornya