Pengamat politik Tony Rosyid mengatakan pemakzulan Gibran Rakabuming Raka dari posisi Wakil Presiden bakal berimbas pada peta politik nasional, sebab pelengseran Gibran bakal ikut menyeret Presiden Prabowo Subianto dalam pusaran masalah politik.
Untuk itu Prabowo diminta menghitung seluruh dampak itu secara cermat sebelum mengaminkan pemakzulan Gibran lewat langkah politik di DPR RI.
“Prabowo perlu menghitung dengan cermat bola liar ini. Ketika impeach kepada dia dibuka, maka bola liar bisa juga digiring untuk menyasar Prabowo,” kata Tony, dikutip Jumat (16/10/2026).
Ketika Gibran benar-benar diseret keluar istana, Joko Widodo (Jokowi) bersama aliansi politiknya tak mungkin diam saja atau pasrah melihat Gibran ditelanjangi.
Bagi Tony, Jokowi bakal menjadi tokoh sentral yang memimpin perlawan terhadap Prabowo ketik Gibran benar digulingkan. Jokowi diperkirakan bakal menyatukan semua musuh-musuh Prabowo untuk melakukan serangan balik.
“Jokowi bisa menjadi faktor konsolidasi bagi semua musuh presiden untuk meningkatkan perlawanan. Perlawanan Jokowi dipastikan akan sangat masif dan 'at all cost',” ujarnya.
Pemakzulan Gibran lanjut Tony juga menjadi momentum menggaet simpati publik, Jokowi bersama aliansinya piawai memainkan hal itu, jadi jangan sampai dukungan publik justru berbalik pada Jokowi dan keluarganya saat Gibran benar ditumbangkan.
Simpati tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat konsolidasi kelompok oposisi, termasuk pihak-pihak yang merasa berseberangan dengan pemerintahan Prabowo.
“Ini bisa menjadi faktor penambah energi bagi dia untuk memasifkan perlawanan,” ujarnya.
Nasib Gibran saat ini berada di tangan DPR setelah Mahkamah Konstitusi menyatakan Gibran tak punya ijazah SMA/SLTA yang menjadi syarat pendaftaran calon presiden dan calon wakil presiden pada Pilpres 2024 lalu.
Prabowo bisa saja mendorong partainya Gerindra untuk memulai hak angket pemakzulan Gibran yang diperkirakan bakal berjalan mulus mengingat mayoritas penghuni DPR adalah partai koalisi pemerintah.