Growthmates, ayam kampung kerap dianggap lebih sehat dibandingkan ayam broiler. Selain tekstur dagingnya yang lebih padat dan kenyal, ayam kampung juga dinilai lebih alami karena umumnya dipelihara dengan sistem umbaran.

Namun, jika dilihat dari kandungan gizinya, apakah ayam kampung benar-benar lebih unggul?

Dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University, Shabrina Dyah Wibawanti, SPt, MSi, menjelaskan perbedaan yang cukup konsisten antara ayam kampung dan broiler terletak pada kandungan lemaknya.

Dikatakannya, ayam broiler cenderung memiliki kadar lemak lebih tinggi karena dikembangkan untuk pertumbuhan yang cepat dengan dukungan pakan berenergi tinggi.

“Perbedaan kandungan lemak antara kedua jenis ayam ini merupakan hasil gabungan dari faktor genetik, formulasi pakan, tingkat aktivitas, dan umur panen,” jelas Shabrina, sebagaimana Olenka kutip dari laman IPB University, Sabtu (10/10/2026).

Sementara itu, ayam kampung umumnya dipelihara dalam waktu lebih lama dan memiliki kesempatan bergerak lebih luas, terutama jika menggunakan sistem umbaran atau free range.

Aktivitas fisik yang lebih tinggi membuat ayam menggunakan lebih banyak energi, sehingga pola penyimpanan lemaknya dapat berbeda dari ayam yang dipelihara secara intensif.

Meski demikian, kata Shabrina, perbedaan tersebut tidak serta-merta membuat ayam kampung lebih unggul dalam seluruh aspek gizi.

Salah satu anggapan yang perlu diluruskan adalah bahwa ayam kampung selalu memiliki kandungan protein lebih tinggi dibandingkan ayam broiler.

Menurut Shabrina, kandungan protein pada kedua jenis ayam tersebut relatif tidak jauh berbeda. Ayam kampung memang dapat memiliki kadar protein sedikit lebih tinggi, tetapi selisihnya tidak selalu signifikan dan hasil penelitian masih bervariasi.

“Ayam kampung memang dapat memiliki kandungan protein sedikit lebih tinggi, tetapi perbedaannya relatif kecil dan hasil penelitian bervariasi, sehingga secara praktis keduanya dapat dianggap setara sebagai sumber protein,” ungkapnya.

Dengan demikian, baik ayam kampung maupun broiler dapat menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan protein harian. Keduanya mengandung protein yang dibutuhkan tubuh untuk membangun dan memperbaiki jaringan, serta mendukung berbagai fungsi penting lainnya.

Lantas, bagaimana dengan tekstur daging yang selama ini menjadi salah satu pembeda utama?

Baca Juga: Chia Pudding Vs Overnight Oats, Mana Sarapan yang Lebih Sehat?

Dijelaskan Shabrina, daging ayam kampung umumnya terasa lebih padat dan kenyal dibandingkan daging ayam broiler. Namun, karakteristik tersebut tidak dapat dijadikan patokan langsung untuk menentukan kualitas maupun kandungan gizinya.

Shabrina melanjutkan, perbedaan tekstur daging antara keduanya lebih banyak dipengaruhi oleh struktur serat otot dan usia panen. Ayam kampung yang dipanen pada usia lebih tua cenderung memiliki ikatan silang kolagen yang lebih kuat pada jaringan dagingnya. Kondisi inilah yang membuat teksturnya terasa lebih padat dan kenyal ketika dikunyah.

Adapun, kandungan vitamin, mineral, serta asam lemak tertentu, termasuk omega-3 seperti DHA, juga dipengaruhi oleh komposisi pakan selama pemeliharaan. Karena itu, jenis ayam saja tidak cukup untuk menentukan kandungan gizi secara keseluruhan.

Selain jenis ayam, konsumen juga perlu memperhatikan bagian daging yang dipilih dan cara pengolahannya. Kedua faktor tersebut dapat memengaruhi jumlah lemak dan kalori yang masuk ke tubuh.

Sebagai contoh, dada ayam broiler tanpa kulit dapat memiliki kandungan lemak lebih rendah dibandingkan paha ayam kampung yang masih dilengkapi kulit. Sebaliknya, penggunaan minyak dalam proses penggorengan dapat meningkatkan kandungan lemak dan kalori pada hidangan ayam, terlepas dari jenis ayam yang digunakan.

“Penentuan pilihan ayam berdasarkan kandungan gizi tidak dapat semata-mata didasarkan pada jenis ayam, melainkan perlu mempertimbangkan faktor lainnya,” kata Shabrina.

Bagi konsumen yang ingin membatasi asupan lemak, memilih bagian dada tanpa kulit dan menggunakan metode pengolahan seperti merebus, mengukus, memanggang, atau memasak dengan sedikit minyak dapat menjadi alternatif. Pilihan ini bisa diterapkan pada ayam kampung maupun broiler sesuai selera dan kebutuhan gizi.

Baca Juga: Apel Vs Pir: Mana yang Lebih Baik untuk Mengontrol Gula Darah?