Meski demikian, Sabrina menegaskan bahwa kemampuan menyampaikan sesuatu dengan baik tidak berarti seseorang tersebut tidak kompeten. Menurutnya, komunikasi yang baik tetap merupakan kemampuan penting.
Namun, lanjut dia, masyarakat perlu berhati-hati ketika menjadikan kemampuan komunikasi sebagai satu-satunya indikator kebenaran sebuah informasi.
“Ini nggak bilang semua expert yang bisa menyampaikan dengan baik itu nggak valid ya. Sama sekali nggak,” tegas Sabrina.
Karena itu, ketika menemukan informasi yang terdengar sangat meyakinkan, ia menyarankan agar masyarakat tidak langsung menerimanya sebagai sebuah kebenaran.
Salah satu langkah paling sederhana adalah mempertanyakan dasar dari informasi tersebut, mulai dari data yang digunakan hingga sumber yang mendukung argumen.
“Selama mungkin evidence-nya kurang jelas, kita mungkin bisa memfilter dengan coba juga bertanya ke diri sendiri: apa mungkin data yang mendukung pendapatnya? Apa buktinya? Where's the source? I think as simple as that,” ujar Sabrina.
Menurut Sabrina, proses tersebut dapat dilanjutkan dengan melihat bagaimana sebuah kesimpulan dibangun.
Bukan hanya apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana seseorang memperoleh informasi, melakukan riset, mengolah data, hingga akhirnya menarik sebuah kesimpulan.
Ia melihat, confidence dan competence sebagai dua kemampuan yang sama-sama penting, tetapi dibangun melalui proses yang berbeda.
Menurut Sabrina, kepercayaan diri dapat berkembang melalui kemampuan komunikasi, seperti public speaking dan menulis. Sementara itu, kompetensi dibentuk melalui pengalaman, proses belajar, pemahaman terhadap suatu topik, membaca, melakukan riset, serta kemampuan menarik kesimpulan berdasarkan sumber yang kredibel.
“Confidence dan juga competence itu kayak dua skill set yang sama-sama penting, dia saling melengkapi, tapi dibangun dengan perjalanan yang beda-beda,” beber Sabrina.
Sabrina menambahkan, kemampuan seseorang dalam menyampaikan sebuah ide memang dapat membuat argumen lebih mudah dipahami. Namun, kualitas informasi yang menjadi dasar argumen tersebut tetap menjadi faktor penting dalam menentukan apakah sebuah gagasan layak dipercaya.
“Seseorang bisa sangat hebat dalam menyampaikan sebuah ide, tapi benar-benar dari ahli. Karena ya, komunikasi yang baik membuat sebuah argumen itu mudah dipahami, tapi informasi yang tersintesis dengan baik itu membuat argumen itu lebih layak dipercaya,” ujarnya.
Di era AI, kemampuan tersebut dinilai Sabrina akan semakin relevan. Kehadiran AI membuat produksi dan penyebaran informasi menjadi semakin cepat.
Di sisi lain, kata dia, teknologi tersebut juga memungkinkan informasi yang salah atau tidak akurat dikemas dengan cara yang semakin meyakinkan.
Karena itu, kemampuan berpikir kritis bukan lagi sekadar kemampuan tambahan, melainkan salah satu keterampilan yang penting untuk menghadapi derasnya informasi di era digital.
“And I think, di era AI, kemampuan ini adalah one critical thinking skill yang akan jadi hal yang penting,” pungkas Sabrina.
Baca Juga: Dian Sastrowardoyo Soroti Pentingnya Etika Digital Sejak Dini di Era Kecerdasan Buatan