Menurutnya, penyusunan strategi perawatan perlu mempertimbangkan sejumlah aspek, termasuk kualitas kulit, kebutuhan pengencangan, dan pembentukan kontur wajah. Pertimbangan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam rencana tindakan yang disesuaikan dengan hasil evaluasi pasien.

“Melalui pelatihan ini, kami ingin menunjukkan bagaimana rencana perawatan yang mempertimbangkan kualitas kulit, lifting, dan kontur wajah diterapkan secara langsung kepada pasien, sekaligus berbagi dasar pengambilan keputusan klinis tersebut dengan dokter dari berbagai negara,” lanjutnya.

Dalam demonstrasi tersebut, dokter menggunakan produk berbasis CaHA dari CGBIO. Produk dengan formulasi tersebut telah memperoleh izin edar di Indonesia dengan merek DCLASSY.

Adapun, produk yang digunakan dalam sesi live treatment memakai merek ekspor CGBIO Korea Selatan, yakni FACETEM. Keduanya disebut menggunakan formulasi yang sama.

Produk tersebut memiliki karakteristik berupa bentuk dan ukuran partikel yang seragam serta struktur partikel yang dikembangkan melalui teknologi Lattice Pore Formation (LPF).

Head of Aesthetic Department NULOOK Clinic, dr. Hadrian Deka, mengatakan, kegiatan ini memberikan kesempatan bagi dokter Indonesia untuk mempelajari secara langsung bagaimana hasil evaluasi pasien diterjemahkan menjadi strategi kombinasi perawatan.

“Dalam live training ini, kami berbagi pendekatan untuk peningkatan kualitas kulit wajah melalui CaHA dan HA, serta strategi lifting dan perbaikan kontur dengan mengintegrasikan thread lifting dalam perawatan pasien secara langsung,” papar dr. Hadrian Deka.

Ia menambahkan, pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya NULOOK untuk menghubungkan praktik perawatan pasien dengan edukasi tenaga medis. Kegiatan ini juga membuka ruang bagi para ahli dari berbagai negara untuk berbagi pengalaman dan mendiskusikan pendekatan klinis dalam bidang estetika medis.

“Melalui kegiatan ini, NULOOK menghubungkan praktik perawatan pasien dengan edukasi tenaga medis, sekaligus menjadi ruang bagi para ahli dari berbagai belahan dunia untuk bertukar pengalaman klinis. Ke depan, kami ingin terus menghadirkan kesempatan bagi dokter untuk bersama-sama mempelajari dan mendiskusikan seluruh proses, mulai dari evaluasi pasien, penyusunan rencana perawatan hingga tindakan, sehingga Bali dapat terus berkembang sebagai salah satu pusat pembelajaran dan pertukaran ilmu bagi tenaga medis internasional,” lanjutnya.

Setelah demonstrasi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Para peserta membahas berbagai pertimbangan dalam penerapan tindakan serta penyesuaian strategi perawatan dengan karakteristik pasien dan kondisi praktik klinis di masing-masing negara.

Baca Juga: Nulook Clinic Bali Resmi Jadi Pusat Edukasi Global K-Beauty dan Wisata Medis Asia Tenggara