Growthmates, perawatan kulit selama ini identik dengan pemilihan skincare dan upaya mengatasi berbagai masalah yang muncul. Padahal, menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang membutuhkan perhatian yang lebih menyeluruh. Konsep skin longevity menekankan bahwa kondisi kulit tidak hanya dipengaruhi oleh produk perawatan, tetapi juga oleh kebiasaan dan gaya hidup yang dijalani sehari-hari.

Skin Longevity Expert sekaligus Founder Dryd Clinic & Medical Lead Soulbox Recharge, dr. Yusri Dinuth, MM, ABAARM, menerangkan bahwa pemahaman mengenai longevity tidak dapat dilepaskan dari perbedaan antara lifespan dan healthspan.

Jika lifespan lebih berkaitan dengan panjangnya usia seseorang, kata dr. Yusri, healthspan berbicara tentang berapa lama seseorang dapat menjalani hidup dengan kondisi sehat dan kualitas hidup yang baik.

“Kalau kita dulu setiap ulang tahun selalu bilangnya ‘umur panjang’. Itu lifespan. Tapi kita juga enggak tahu, umur panjang tapi jadinya ke dokter mulu, pulang-pergi mengobatin sakit A, B, C, D. Enggak mau juga begitu,” terang dr. Yusri, saat acara Wardah Skin Longevity Clinic, yang diperkenalkan sebagai The First Wardah Skin Longevity Clinic by ParagonCorp in Southeast Asia, yang berlangsung di Spac8 Ashta, Jakarta, Jumat (1/10/2026).

Menurutnya, konsep healthspan hadir dari keinginan untuk tidak hanya hidup lebih lama, tetapi juga tetap sehat, aktif, dan memiliki kualitas hidup yang baik sepanjang perjalanan tersebut.

“Kalau aku bilang simpelnya adalah maunya itu hidup umur panjang dan berdaya. Kenapa berdaya? Karena kualitas hidupnya bagus. Misalnya dia fit, umur 35-45 masih marathon, masih bisa angkat koper, kalau pergi sama anak atau bahkan sama cucu. Itulah namanya berdaya,” jelasnya.

Perubahan cara pandang tersebut juga membuat upaya menjaga kesehatan semakin menekankan pencegahan, bukan sekadar pengobatan ketika masalah sudah muncul. Menurut dr. Yusri, perubahan gaya hidup menjadi salah satu fondasi penting dalam pendekatan longevity.

Dalam konteks kesehatan kulit, pendekatan tersebut berarti skincare dan gaya hidup seharusnya tidak dipandang sebagai dua hal yang terpisah. Keduanya justru dapat saling melengkapi untuk membantu mempertahankan kesehatan kulit dalam jangka panjang.

“Kalau ngomongin tentang longevity atau healthspan, keyword-nya adalah eat, move, rest. Gimana caranya supaya skin barrier juga jadi bagus. Lifestyle-nya diubah, paling basic itu gerak, makan, tidur,” tutur dr. Yusri.

dr. Yusri menilai, perawatan kulit yang dilakukan dari luar perlu berjalan beriringan dengan kebiasaan sehari-hari. Sebab, tujuan dari skin longevity bukan semata-mata mengatasi masalah ketika sudah muncul, melainkan menjaga kondisi kulit agar tetap sehat, aktif, dan mampu menjalankan fungsinya seiring waktu.

“Skincare dan lifestyle itu bukan sesuatu yang terpisah, tapi ini saling jadi komplement. Supaya tadi enggak cuma mengobatin, tapi bisa ngejagain kulitnya sehat terus, muda terus, dan aktif terus,” ujarnya.

Dalam acara Wardah Longevity Clinic, pendekatan tersebut kemudian diterjemahkan melalui konsep MER, yakni Move, Eat, dan Rest. dr. Yusri menjelaskan bahwa ketiganya merupakan bagian yang umum diperhatikan dalam pendekatan anti-aging dan longevity, tetapi penerapannya tidak bisa disamaratakan untuk setiap orang.

“Kalau dari angle dokter longevity anti-aging, ini adalah hal yang paling biasa kita lakukan di clinic. Menariknya, Wardah mengambil itu menjadi satu experience,” katanya.

Menurut dr. Yusri, tidak ada satu pola hidup yang cocok untuk semua orang. Seseorang tidak harus selalu melakukan olahraga dengan intensitas tinggi, marathon, atau pilates untuk dikatakan menjalani gaya hidup sehat. Kebutuhan setiap individu perlu dilihat secara personal.

“Di anti-aging itu enggak ada one fit for all. Misalnya semua orang harus HIIT, semua orang harus marathon, semua orang harus pilates. Enggak juga. Karena kalau di anti-aging, angle-nya akan berbeda,” jelasnya.

dr. Yusri lantas memberikan contoh, seseorang mungkin sudah memiliki pola makan dan aktivitas fisik yang baik, tetapi masih mengalami masalah tidur. Dalam kondisi tersebut, aspek yang perlu mendapatkan perhatian lebih mungkin justru istirahat.

“Misalnya tadi Tasya sudah bilang duluan, ‘Oh, part aku tuh di tidurnya.’ Berarti mungkin Tasya akan dapat protokol tidur yang lebih personal sesuai dengan kebutuhannya,” ujarnya.

Begitu pula dengan orang yang sudah rutin berolahraga dan menjaga pola makan, tetapi tetap mengalami masalah tertentu. Bisa jadi, tubuh justru membutuhkan waktu istirahat yang lebih baik.

“Rest itu bukan selalu do nothing. Tetapi kita inhale, exhale, breathing exercise. Kita sauna, kita human connection, ngumpul keluarga, main di rumah. Itu part of rest,” kata dr. Yusri.

Baca Juga: Wardah Skin Longevity Clinic Hadir di Jakarta, Kenali Hubungan Lifestyle dan Kesehatan Kulit

Karena itu, dr. Yusri menilai penting bagi setiap orang untuk mengenali bagian mana dari gaya hidupnya yang masih perlu diperbaiki. Pendekatan personal tersebut diharapkan membuat seseorang tidak sekadar mengikuti tren kesehatan, tetapi memahami kebutuhan tubuhnya sendiri.

“Kita sudah membagikan itu menjadi section, eat, move, rest, supaya personally tahu, ‘Oh, kebutuhanku yang paling dominan ada di section yang mana.’ Lalu dengan expertise, kita sudah bikin protokol sesuai kebutuhan masing-masing,” jelasnya.

dr. Yusri menuturkan, pendekatan tersebut juga dapat membantu mengubah cara seseorang melihat masalah kulit. Alih-alih langsung menyalahkan produk ketika kulit mengalami masalah, seseorang perlu mengevaluasi kembali kebiasaan sehari-harinya.

“Harapannya teman-teman keluar dari skin longevity clinic bukan lagi selalu nyalahin produk. ‘Aku pakai A, B, C, D enggak cocok.’ Jangan-jangan lifestyle kamu yang enggak cocok,” tegasnya.

Ia mencontohkan seseorang yang menggunakan retinol secara rutin, tetapi masih sering tidur dini hari. Atau orang yang sudah menggunakan berbagai produk skincare, tetapi pola makannya kurang baik dan aktivitas fisiknya minim.

“Pakai retinol terus, tapi tidur jam dua. Atau makan tepung terus. Atau geraknya cuma pas long weekend, car free day, tapi weekday-nya rebahan. Kan bukan salah produk,” ujarnya.

Dikatakannya, kondisi tersebut menunjukkan adanya ‘healthy gap’, yaitu bagian dari gaya hidup yang masih perlu diperbaiki. Mengenali kebutuhan tersebut menjadi langkah penting sebelum seseorang terus menambah produk atau melakukan berbagai intervensi.

Hal serupa berlaku pada aktivitas fisik. Seseorang mungkin sudah rajin melakukan kardio, tetapi belum mendapatkan latihan kekuatan yang cukup. Padahal, komposisi dan kekuatan otot juga menjadi bagian dari kesehatan tubuh secara keseluruhan.

“Nah, sayapengennya teman-teman satu atau dua step lebih pintar dan lebih kenal sama diri sendiri. Jadi kita pengennya teman-teman akhirnya kenal, bukan dari angle kita lagi. Tapi, kita memfasilitasi teman-teman untuk lebih mengenali diri dan kebutuhan diri secara personal,” pungkas dr. Yusri.

Baca Juga: Pentingnya Skin Longevity, Dokter: Kulit Punya Banyak Fungsi Selain Menunjang Penampilan