Growthmates, memakai sunscreen setiap hari memang sudah jadi salah satu langkah wajib dalam rutinitas skincare. Tapi, pernahkah kamu memperhatikan apakah perlindungan sunscreen yang dipakai tetap merata setelah beberapa jam, bukan hanya sesaat setelah diaplikasikan?

Hal inilah yang disoroti Ricky, content creator di balik akun Instagram @skinoppa yang dikenal lewat review skincare dengan gaya lugas dan apa adanya.

Saat mencoba sunscreen PDRN terbaru dari Wardah, Ricky tak hanya melihat tekstur dan hasil akhirnya di kulit, tetapi juga memperhatikan bagaimana lapisan sunscreen tersebut terlihat ketika diuji menggunakan UV camera.

Menariknya, Ricky mengaku sudah lebih dulu mencoba produk tersebut sebelum resmi diluncurkan. Kesan pertamanya justru datang dari tekstur yang menurutnya terasa lebih seperti moisturizer dibandingkan sunscreen pada umumnya.

“Jujur sebenarnya aku udah pernah pakai duluan sebelum launching, jadi honest review. Ini physical sunscreen lokal yang rasanya kayak moisturizer. Aku kira dari Korea, taunya dari Paragon,” ungkap Ricky, saat talkshow ‘Can Sunscreen Do More Than Protect?’, yang menjadi bagian dari Wardah Skin Longevity Clinic di SPAC8 ASHTA, Jakarta, Sabtu (3/10/2026).

Menurut Ricky, tekstur yang ringan menjadi salah satu hal yang membuat sunscreen lebih nyaman digunakan sehari-hari. Terlebih bagi mereka yang tidak ingin sunscreen terasa berat atau mengganggu makeup.

“Apalagi cewek-cewek mau makeup kan, nggak mau sunscreen yang ganggu makeup. Nah, ini teksturnya benar-benar mendukung makeup,” katanya.

Selain terasa ringan, Ricky juga menyoroti hasil akhirnya yang menurutnya tidak meninggalkan white cast. Alih-alih membuat kulit terlihat keputihan, sunscreen tersebut justru memberikan efek tone-up pada kulit.

“Finish-nya itu dia nggak white cast, tapi ke-tone up,” lanjutnya.

Namun, bagi Ricky, urusan sunscreen tidak berhenti pada tekstur yang nyaman atau hasil akhir yang terlihat bagus. Salah satu hal yang justru menurutnya penting untuk diperhatikan adalah apakah perlindungan sunscreen tetap merata setelah beberapa waktu.

Ia melihat hasil aplikasi sunscreen melalui UV camera dan menilai lapisan perlindungannya terlihat rapat serta solid. Menurutnya, kondisi tersebut menarik untuk diperhatikan karena tampilan sunscreen di UV camera pada awal pemakaian belum tentu menggambarkan kondisinya setelah digunakan selama beberapa jam.

“Secara tekstur, secara proteksinya itu solid. Tadi udah dibuktiin under UV camera. Kalau proteksi sunscreen Wardah terbaru ini nggak bolong-bolong, jadi nggak patchy, terus dia tetap rapet, solid gitu. Itu salah satu kriteria sunscreen yang harus diperhatiin,” jelas Ricky.

Baca Juga: Dokter Ungkap Pentingnya Sunscreen untuk Skin Resilience dan Skin Longevity

Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan sunscreen yang ‘patchy’ atau terlihat bolong-bolong?

Ricky menjelaskan, kondisi tersebut bisa terlihat ketika lapisan sunscreen yang awalnya tampak merata melalui UV camera mulai terlihat pecah setelah beberapa waktu. Hal ini bisa terjadi ketika seseorang berkeringat ataupun berada di ruangan ber-AC.

“Jadi kalau di UV cam dia pecah gitu. Awalnya pada saat kita aplikasikan, ada beberapa sunscreen memang rapet, kelihatan rata. Nah, pada saat satu jam kemudian, pada saat keringetan contohnya, atau kayak kita di ruangan ber-AC aja, dia bisa kayak melar, kayak pecah,” jelasnya.

Karena itu, Ricky mengingatkan agar pengguna tidak buru-buru menyimpulkan sebuah sunscreen memiliki perlindungan yang baik hanya berdasarkan tampilan beberapa menit setelah pemakaian.

“Banyak yang ngira, ‘Oh, di UV camera menit pertama udah rapet nih, udah bagus nih.’ Ternyata satu jam, satu setengah jam kemudian dia patchy, dia bolong-bolong. Itu yang harus diperhatiin,” tambahnya.

Di luar urusan produk, Ricky juga mengajak pengguna untuk melihat sunscreen sebagai kebiasaan jangka panjang. Baginya, menggunakan sunscreen bukan sekadar mengikuti tren skincare yang sedang ramai, melainkan bagian dari upaya menjaga kulit dari paparan UV secara konsisten.

“When it comes to sun protection, itu sebenarnya bukan investasi jangka pendek. Itu jangka panjang. So, your skin will thank you later lah,” tukas Ricky.

Ia bahkan mengibaratkan penggunaan sunscreen seperti menabung. Kebiasaan yang dilakukan sejak sekarang akan menjadi bagian dari investasi untuk kondisi kulit di kemudian hari.

“Jadi kayak nabung lah ya. Kamu dari sekarang aware sama paparan UV berlebih setiap harinya. At least bare minimum banget, pakailah sunscreen,” tuturnya.

Dengan pilihan sunscreen yang semakin beragam, mulai dari physical, chemical hingga hybrid, Ricky menilai, pengguna kini sebenarnya memiliki banyak opsi untuk menyesuaikan produk dengan kebutuhan masing-masing.

Namun, ia mengingatkan agar keputusan memilih sunscreen tidak semata-mata didasarkan pada tren atau popularitas sebuah produk.

“Make sure sunscreen yang kalian pakai itu dari brand yang trusted, brand yang udah berpengalaman bikin sunscreen. Itu paling penting sih dalam manusia sekarang. Harus jadi kebiasaan ya, di tengah trend-trend, bukan sekadar mengikuti trend dan viral aja,” pungkas Ricky.

Baca Juga: Yuki Kato Ungkap Cara Menjaga Kesehatan Kulit, dari Sunscreen hingga Hidrasi untuk Skin Longevity