Massa otot, khususnya otot rangka seperti yang terdapat pada paha, memiliki sejumlah fungsi penting bagi tubuh. Otot berperan dalam penggunaan glukosa, menjaga sensitivitas insulin, membantu pengendalian gula darah, mendukung mobilitas dan keseimbangan, hingga menjadi cadangan protein ketika tubuh mengalami penyakit atau stres metabolik.

Selain massa otot, komposisi lemak juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. dr. Yunita juga menjelaskan bahwa lemak yang tersimpan di area paha dan bokong memiliki karakteristik berbeda dengan lemak visceral yang berada di sekitar organ dalam.

Lemak visceral lebih aktif secara metabolik dan berkaitan dengan sejumlah gangguan kesehatan, seperti resistensi insulin, perlemakan hati, diabetes tipe 2, gangguan kadar kolesterol, hipertensi, serta penyakit kardiovaskular.

Karena itu, ukuran lingkar paha tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya indikator untuk menentukan kondisi kesehatan seseorang. Menurut dr. Yunita, kesehatan secara menyeluruh dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pola hidup, aktivitas fisik, pola makan, kualitas tidur, kondisi kesehatan mental, faktor genetik, lingkungan, serta hasil pemeriksaan kesehatan secara berkala.

“Jadi, bukan sekadar seberapa besar pahanya, tetapi apa yang menyusun paha tersebut dan seberapa baik fungsinya,” tukas dr. Yunita.

Terakhir, dr. Yunita pun mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menganggap kondisi tubuhnya sehat hanya karena memiliki paha berukuran besar. Sebab, yang lebih penting bukan sekadar ukuran, melainkan komposisi dan fungsi tubuh.

“Ingat bukan besarnya paha, namun massa otot yang terbentuk dari besarnya paha,” tegas dr. Yunita.

Baca Juga: Ingin Awet Muda dan Tetap Kuat? Ini 3 Olahraga Pembentuk Otot untuk Panjang Umur