Sulit tidur pada malam hari kerap dianggap sebagai masalah sepele, terutama ketika seseorang menghadapi banyak pekerjaan, tekanan akademik, atau aktivitas yang padat. Padahal, kebiasaan kurang tidur tidak hanya membuat tubuh terasa lelah, tetapi juga dapat memengaruhi suasana hati, konsentrasi, hingga kesehatan mental.

Tidur berperan penting dalam menjaga fungsi otak dan kesejahteraan emosional. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), tidur yang cukup dan berkualitas merupakan bagian penting dari kesehatan secara keseluruhan. Ketika kebutuhan tidur tidak terpenuhi, seseorang dapat lebih mudah merasa lelah, sulit berkonsentrasi, dan mengalami perubahan suasana hati.

Hubungan Kurang Tidur dengan Kesehatan Mental

Tidur dan kesehatan mental memiliki hubungan yang erat. Saat tidur, otak menjalankan berbagai proses penting yang mendukung fungsi kognitif, pengolahan emosi, serta kemampuan seseorang menghadapi aktivitas sehari-hari.

Ketika seseorang kurang tidur, kemampuan mengelola emosi dapat ikut terganggu. Akibatnya, seseorang mungkin menjadi lebih mudah tersinggung, merasa cemas, atau kesulitan menghadapi tekanan yang biasanya dapat diatasi dengan baik.

Baca Juga: Atasi Insomnia dan Overthinking, Ini Alasan Mengapa Suplemen Magnesium Bikin Tidur Makin Pulas

Kurang tidur juga dapat menurunkan konsentrasi dan memengaruhi kemampuan mengambil keputusan. Hal ini membuat pekerjaan maupun aktivitas sehari-hari terasa lebih berat.

Jika berlangsung dalam jangka panjang, masalah tidur juga berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan mental, termasuk depresi. Namun, hubungan tersebut tidak selalu berjalan satu arah. Gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi, juga dapat menyebabkan seseorang mengalami kesulitan tidur.

Karena itu, masalah tidur yang berkepanjangan perlu diperhatikan untuk membantu mengidentifikasi penyebabnya dan menentukan penanganan yang sesuai.

Berapa Lama Waktu Tidur yang Dibutuhkan?

Kebutuhan tidur setiap orang berbeda-beda, bergantung pada usia. CDC merekomendasikan orang dewasa berusia 18–60 tahun untuk tidur setidaknya tujuh jam setiap malam. Sementara itu, remaja berusia 13–17 tahun membutuhkan sekitar delapan hingga sepuluh jam tidur setiap malam.

Dalam laporan Short Sleep Duration and Sleep Difficulties Among Adults: United States, 2024 yang diterbitkan National Center for Health Statistics (NCHS), sebanyak 30,5% orang dewasa di Amerika Serikat dilaporkan tidur kurang dari tujuh jam dalam periode 24 jam pada 2024. Data tersebut menunjukkan bahwa durasi tidur yang kurang masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat.

Meski demikian, durasi tidur bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Kualitas tidur juga penting, termasuk seberapa mudah seseorang tertidur, seberapa sering ia terbangun pada malam hari, dan apakah tubuh terasa segar ketika bangun pada pagi hari.

Baca Juga: Ini 3 Metode Meditasi untuk Atasi Insomnia dan Tingkatkan Kualitas Tidur

Kebiasaan yang Dapat Membantu Memperbaiki Kualitas Tidur

Memperbaiki kualitas tidur dapat dimulai dengan membangun jadwal tidur yang konsisten. Membiasakan diri tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari dapat membantu menjaga ritme sirkadian, yaitu jam biologis tubuh yang mengatur siklus tidur dan bangun. Kebiasaan ini sebaiknya tetap diterapkan pada akhir pekan agar pola tidur tidak berubah terlalu jauh.

Selain itu, penggunaan ponsel menjelang waktu tidur sebaiknya dibatasi. Aktivitas seperti menonton video atau menjelajahi media sosial dapat membuat seseorang menunda waktu tidur.

CDC menyarankan untuk mematikan perangkat elektronik setidaknya 30 menit sebelum tidur. Waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan aktivitas yang lebih menenangkan, seperti membaca buku atau berlatih pernapasan.

Konsumsi kafein juga perlu diperhatikan, terutama pada sore dan malam hari. Kopi, teh, serta minuman energi mengandung kafein yang dapat membuat seseorang lebih sulit tertidur. Membatasi konsumsi minuman berkafein menjelang waktu tidur dapat membantu, meskipun pengaruhnya berbeda pada setiap orang.

Baca Juga: Jangan Sepelekan! Ini Sederet Efek Mengerikan Insomnia Kronis Bagi Kesehatan

Lingkungan tidur yang nyaman turut mendukung istirahat yang berkualitas. Kamar yang tenang, sejuk, dan minim cahaya dapat membantu tubuh bersiap untuk tidur. Selain itu, aktivitas fisik secara teratur dan pola makan seimbang dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari yang mendukung kesehatan tubuh.

Bagi seseorang yang sering terjaga karena memikirkan pekerjaan, tugas kuliah, atau persoalan pribadi, mengelola stres sebelum tidur juga penting. Menuliskan rencana kegiatan untuk keesokan hari, melakukan peregangan ringan, atau mempraktikkan teknik relaksasi dapat membantu menenangkan pikiran sebelum beristirahat.

Kapan Masalah Tidur Perlu Mendapat Perhatian?

Kesulitan tidur yang terjadi sesekali belum tentu menandakan adanya gangguan kesehatan. Namun, jika seseorang terus mengalami kesulitan untuk tertidur, sering terbangun pada malam hari, atau tetap merasa lelah meskipun sudah tidur cukup lama, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.

Berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu mengidentifikasi kemungkinan gangguan tidur maupun kondisi lain yang memengaruhi kualitas istirahat. Hal serupa berlaku ketika masalah tidur disertai perubahan suasana hati yang menetap, kecemasan berlebihan, atau gejala depresi yang mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Pada akhirnya, tidur yang cukup bukan sekadar cara menghilangkan rasa lelah setelah beraktivitas. Kebiasaan ini juga merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup.

Dengan membangun pola tidur yang teratur, mengelola stres, serta memperhatikan tanda-tanda gangguan tidur, seseorang dapat mengambil langkah awal untuk menjaga kesejahteraan fisik dan emosionalnya.