Mendengar penjelasan Chairul Tanjung, Dahlan mengaku hatinya tersentuh dan mulai mempertimbangkan kembali tawaran untuk memimpin PLN. Ia mengatakan, saat itu Chairul menggambarkan kondisi kelistrikan yang berdampak besar pada dunia usaha.
“Itu saya terharu dan akhirnya saya mau. Dia bilang, pengusaha bisa mati semua kalau listriknya seperti ini,” ujar Dahlan.
Menurutnya, Chairul menekankan bahwa energi merupakan urat nadi perekonomian. Tanpa pasokan listrik yang memadai, aktivitas bisnis akan lumpuh. Bahkan, ia mencontohkan keluhan dari sektor properti yang terpaksa menanggung sendiri biaya infrastruktur dasar.
“Masa perusahaan real estate harus beli tiang sendiri, beli kabel sendiri, bangun gardu induk sendiri. Terus bagaimana ekonomi ini?” katanya.
Baca Juga: Dari Dahlan Iskan untuk Generasi Muda: Jangan Lembek, Kita Harus Tangguh
Dari situlah Dahlan semakin menyadari pentingnya peran listrik bagi pertumbuhan ekonomi. Ia mengibaratkan energi seperti darah dalam tubuh manusia. Tanpanya, roda perekonomian tak akan berjalan.
“Energi itu ibarat darah untuk menghidupkan ekonomi,” imbuhnya.
Seperti diketahui, sejak akhir 2009, Dahlan diangkat menjadi direktur utama PLN menggantikan Fahmi Mochtar.
Semenjak memimpin PLN, Dahlan membuat beberapa gebrakan di antaranya bebas byar pet se Indonesia dalam waktu 6 bulan, gerakan sehari sejuta sambungan. Pada 2010, PLN juga berhasil membangun PLTS di 5 pulau di Indonesia bagian Timur yaitu Pulau Banda, Bunaken Manado, Derawan Kalimantan Timur, Wakatobi Sulawesi Tenggara, dan Citrawangan.