Growthmates, flu dan pneumonia sama-sama dapat menimbulkan gejala seperti batuk dan demam. Namun, keduanya merupakan kondisi yang berbeda dan perlu dipahami agar masyarakat dapat mengenali risiko infeksi saluran pernapasan serta melakukan pencegahan dengan tepat.

Flu umumnya disebabkan oleh virus influenza, sedangkan pneumonia merupakan infeksi yang menyerang jaringan paru-paru dan dapat disebabkan oleh bakteri, virus, maupun jamur.

Dalam kondisi tertentu, infeksi saluran pernapasan yang awalnya ringan dapat berkembang menjadi infeksi yang lebih serius, termasuk pneumonia.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Penyakit Tropik Infeksi, dr. Joyce Bratanata, Sp.PD-KPTI, FINASIM, memaparkan, pneumonia dapat terjadi ketika mikroorganisme menginfeksi saluran pernapasan bagian bawah hingga paru-paru. Kondisi ini dapat berkaitan dengan infeksi yang terjadi sebelumnya maupun penularan dari orang lain.

“Bisa bakteri yang menyebabkannya, bisa virus, bisa jamur. Nah, pneumonia ini kalau sudah benar-benar ke saluran napas bagian bawah,” papar dr. Joyce, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram @ibupedia_id, Senin(12/10/2026).

Lebih lanjut, dr. Joyce menerangkan, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dapat diawali oleh infeksi virus. Ketika pertahanan tubuh dan mekanisme perlindungan saluran pernapasan terganggu, bakteri berpeluang masuk dan menyebabkan infeksi lebih lanjut hingga ke paru-paru.

“Pada awalnya kita terserang virus dulu. Virus itu memperlemah sistem pertahanan tubuh dan membuka celah. Bakteri itu bisa masuk dari hidung, tenggorokan, masuk ke dalam paru-parunya. Kalau barrier kita terganggu, itu yang menjadi pneumonia,” ungkap dr. Joyce.

Meski demikian, tidak semua flu atau ISPA akan berkembang menjadi pneumonia. Risiko komplikasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk jenis mikroorganisme penyebab infeksi, kondisi kesehatan, usia, serta daya tahan tubuh seseorang. Pneumonia juga dapat terjadi akibat infeksi yang ditularkan oleh orang lain.

Baca Juga: Mengapa Batuk dan Pilek Bisa Berlangsung hingga Berminggu-minggu?

Menurut dr. Joyce, anak-anak termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pencegahan infeksi saluran pernapasan.

Anak berusia di bawah lima tahun lebih rentan mengalami infeksi, sementara anak usia sekolah juga berisiko terpapar karena mulai berinteraksi dengan lebih banyak orang di lingkungan pendidikan.

“Pada usia anak, memang di bawah lima tahun lebih rentan. Kemudian usia enam sampai tujuh tahun rentan lagi karena mulai bersekolah,” katanya.

dr. Joyce juga mengatakan, penularan melalui udara atau partikel pernapasan membuat infeksi seperti influenza dapat menyebar dengan mudah, terutama ketika seseorang beraktivitas di lingkungan yang ramai. Karena itu, gejala seperti demam, batuk kering, sakit tenggorokan, dan rasa tidak nyaman pada saluran pernapasan perlu diperhatikan.

Karenanya, dr. Joyce mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mengandalkan gejala untuk menentukan jenis infeksi yang dialami. Pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk membantu mengetahui penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang sesuai.

“Jadi, kalau misalnya kita ada infeksi saluran napas atas, sebenarnya tipenya itu apa? Tetap diperiksa,” tukasnya.

Selain mengenali gejala dan mencari pertolongan medis ketika diperlukan, kata dr. Joyce, vaksinasi menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko penyakit tertentu yang menyerang saluran pernapasan. Namun, masyarakat perlu memahami bahwa setiap vaksin memiliki sasaran perlindungan yang berbeda.

Kemudian, dr. Joyce menjelaskan bahwa vaksin influenza ditujukan untuk membantu melindungi tubuh dari infeksi virus influenza, sedangkan vaksin pneumokokus digunakan untuk membantu mencegah penyakit akibat bakteri Streptococcus pneumoniae.

Keduanya, lanjut dia, tidak dapat dipertukarkan karena memiliki sasaran perlindungan yang berbeda.

“Vaksin influenza itu trivalen yang sekarang beredar, influenza A dan influenza B. Dia itu cuma bisa buat influenza saja. Enggak bisa vaksin influenza itu meng-cover COVID, tidak bisa untuk meng-cover pneumokokal. Jadi, setiap vaksin itu harus dibaca peruntukannya, buat apa,” pungkas dr. Joyce.

Baca Juga: Kasus Influenza A Jadi Sorotan, Ini Bedanya dengan Flu Biasa dan Cara Mengurangi Risikonya