Kabar duka datang dari dunia hiburan Tanah Air. Pesulap Merah, Marcel Radhival, mengumumkan kepergian sang istri tercinta, Tika Mega Lestari, yang meninggal dunia pada 27 Januari 2026 setelah berjuang melawan penyakit yang telah lama dideritanya.

Kepergian Tika membuka kembali perhatian publik terhadap Anemia Aplastik, penyakit langka yang menyerang sumsum tulang dan kerap luput dari kesadaran karena gejalanya yang beragam dan tidak spesifik. Berdasarkan keterangan keluarga dan pihak rumah sakit, Tika diketahui berjuang melawan penyakit tersebut dalam waktu yang tidak singkat.

Apa Itu Anemia Aplastik?

Anemia Aplastik merupakan salah satu jenis anemia normositik normokrom, yaitu kondisi ketika jumlah sel darah menurun tetapi ukuran dan kadar hemoglobin di dalam sel darah merah masih tampak normal. Namun, yang membedakan Anemia Aplastik dari anemia lain adalah sumber masalahnya yang berasal langsung dari sumsum tulang.

Baca Juga: Anemia Bisa Hambat Tumbuh Kembang Anak, Gimana Cara Terbaik Mencegahnya?

Dikutip dari keterangan dokter spesialis RSUP Dr. M. Djamil Padang, Anemia Aplastik terjadi akibat kegagalan sumsum tulang dalam memproduksi sel-sel darah, termasuk sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Kondisi ini ditandai dengan menurunnya atau bahkan tidak ditemukannya sel prekursor hematopoietik di dalam sumsum tulang.

Akibatnya, tubuh kehilangan kemampuan dasar untuk menjalankan fungsi vital, seperti membawa oksigen, melawan infeksi, dan menghentikan perdarahan.

Penyakit Langka dengan Risiko Tinggi

Meski tergolong penyakit langka, Anemia Aplastik bukanlah kondisi yang bisa dianggap sepele. Tanpa penanganan yang tepat, penyakit ini dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa.

Ironisnya, faktor risiko Anemia Aplastik justru kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari, namun jarang disadari. Paparan zat kimia tertentu, obat-obatan, infeksi virus, gangguan autoimun, hingga penyebab idiopatik (tidak diketahui secara pasti) dapat memicu kerusakan sumsum tulang.

Baca Juga: Anemia Defisiensi Besi Kian Meningkat, Ini Rekomendasi Makanan dan Cara Pencegahannya

Penyakit ini juga tidak mengenal batas usia maupun jenis kelamin. Anemia Aplastik dapat menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita, dan bisa muncul secara tiba-tiba maupun berkembang secara perlahan dalam jangka waktu panjang.

Gejala yang Kerap Tidak Disadari

Tantangan terbesar dalam mendeteksi Anemia Aplastik terletak pada gejalanya yang sangat bervariasi, tergantung pada jenis sel darah yang mengalami penurunan paling signifikan.

Beberapa keluhan yang umum ditemukan antara lain:

  • Mudah lelah dan pucat akibat rendahnya sel darah merah;
  • Mudah mengalami infeksi, demam berulang, dan daya tahan tubuh menurun karena rendahnya sel darah putih;
  • Mudah memar, mimisan, gusi berdarah, hingga BAB berdarah akibat rendahnya trombosit;
  • Sakit kepala, nyeri dada, jantung berdebar, dan sesak napas. 

Karena keluhannya sering menyerupai penyakit ringan atau kelelahan biasa, banyak pasien baru menyadari kondisinya saat penyakit sudah memasuki tahap berat.

Pentingnya Deteksi dan Penanganan Dini

Dokter menegaskan bahwa pemeriksaan medis sejak dini menjadi kunci utama dalam menangani Anemia Aplastik. Pemeriksaan darah lengkap hingga evaluasi sumsum tulang diperlukan untuk memastikan diagnosis.

Baca Juga: Inisiatif IBI sebagai Upaya Pencegahan Anemia Defisiensi Besi pada Ibu dan Anak Indonesia

Tanpa terapi yang tepat, Anemia Aplastik memiliki prognosis yang buruk. Risiko perdarahan hebat dan infeksi berat dapat meningkat drastis, terutama ketika jumlah trombosit dan sel darah putih turun ke level yang sangat rendah.

Pilihan terapi pun bervariasi, mulai dari transfusi darah, terapi imunosupresan, hingga transplantasi sumsum tulang, tergantung pada tingkat keparahan dan kondisi pasien.

Duka yang Menyisakan Pelajaran

Kepergian Tika Mega Lestari tidak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan orang terdekat, tetapi juga menjadi pengingat bagi publik akan pentingnya mengenali penyakit langka seperti Anemia Aplastik. Penyakit yang kerap datang tanpa peringatan ini menuntut kewaspadaan, deteksi dini, dan penanganan medis yang tepat.

Di balik kabar duka, kisah perjuangan ini menjadi refleksi bahwa kesehatan sumsum tulang memegang peranan krusial dalam keberlangsungan hidup manusia.