Di tengah dinamika pasar modal Indonesia yang terus berlanjut hingga membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbang, perhatian investor juga tertuju pada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), bank swasta terbesar di Indonesia. 

Setelah rumor akuisisi BCA oleh Haji Isam pada September 2026 yang telah dibantah oleh manajemen BCA, kini publik kembali dihebohkan dengan spekulasi mengenai kemungkinan transaksi strategis yang melibatkan BBCA dan DBS Group. Namun, hingga saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai transaksi tersebut. 

Kondisi demikian tak ayal membuat investor bertanya-tanya mengenai seberapa besar kemungkinan transaksi merger BCA-DBS tersebut akan terwujud? Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nurkholis Syafruddin, menjelaskan bahwa penurunan valuasi BBCA di tengah ketidakpastian terkait MSCI secara teoritis dapat meningkatkan daya tarik saham tersebut bagi investor strategis.

Baca Juga: Mirae Asset Sekuritas Waspadai Tekanan Arus Modal Asing akibat Usulan Reklasifikasi MSCI

Namun, realisasi transaksi akuisisi tetap bergantung pada kesediaan pemegang saham, kapasitas pendanaan, serta persetujuan regulator. PT Dwimuria Investama Andalan masih menjadi pemegang saham pengendali BBCA dengan kepemilikan 54,94%, tanpa adanya rencana divestasi yang diumumkan secara terbuka.

Baca Juga: Gelombang Kasus Hukum Hantam PT Djarum

"Meski penurunan valuasi dapat membuka peluang bagi investor strategis, belum ada bukti yang cukup untuk menilai kemungkinan terjadinya transaksi. Karena itu, kami tidak melihat dasar yang kuat untuk memasukkan premi akuisisi ke dalam valuasi BBCA atau memperkirakan perubahan pengendalian dalam waktu dekat,” jelas Nurkholis dalam keterangan resmi yang diterima Olenka pada Kamis (29/10/2026).

Ia menambahkan, pengalaman DBS Group dalam mengakuisisi Bank Danamon pada 2012 menjadi salah satu contoh tantangan regulasi dalam transaksi perbankan lintas negara. Saat itu, rencana akuisisi 67,37% saham Danamon senilai Rp45,2 triliun tidak berlanjut pada 2013 setelah regulator membatasi kepemilikan yang dapat diakuisisi. Oleh karena itu, spekulasi perubahan kepemilikan BBCA belum cukup menjadi dasar untuk memperkirakan transaksi dalam waktu dekat atau memasukkan premi akuisisi ke dalam valuasinya.

Mirae Asset menilai daya tarik investasi BBCA tetap perlu didasarkan pada kekuatan basis pendanaan, kualitas aset, profitabilitas, dan valuasi saham.

"Investor juga perlu membedakan informasi yang telah dikonfirmasi secara resmi dari spekulasi serta mencermati perkembangan arus dana asing dan kondisi makroekonomi yang memengaruhi pasar," tegas Nurkholis lagi.