Sementara itu, Ayubifood, bisnis makanan ringan berupa artisanal pasta snack asal Jakarta, memanfaatkan Advantage+ dan Meta Business Agent untuk menjangkau distributor produk halal di Malaysia.
Penggunaan AI membantu Ayubifood menurunkan biaya per percakapan hingga 85%. Waktu respons kepada calon pelanggan yang sebelumnya membutuhkan dua hingga tiga jam juga dapat dipangkas menjadi kurang dari lima menit. Selain meningkatkan efisiensi komunikasi, strategi tersebut turut menghasilkan penjualan dari Malaysia.
Ketiga pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa upaya menembus pasar global tidak hanya bergantung pada kualitas produk dan kesiapan ekspor. Kemampuan membangun visibilitas, menemukan audiens yang tepat, merespons calon pembeli dengan cepat, serta mengubah ketertarikan menjadi transaksi juga menjadi faktor penting.
Dalam program Gapai Pasar Global dengan AI, peserta mendapatkan pelatihan, pendampingan, dan kesempatan mempraktikkan penggunaan teknologi untuk mendukung aktivitas bisnis. Materi yang diberikan antara lain pemanfaatan Advantage+ untuk mengoptimalkan iklan serta Meta Business Agent untuk membantu mempercepat respons kepada calon pelanggan.
Kebutuhan terhadap keterampilan tersebut sejalan dengan temuan riset terbaru Meta bersama YouGov mengenai penggunaan AI oleh pelaku usaha kecil di Indonesia. Riset tersebut menunjukkan 86% pemilik usaha kecil yang disurvei menyatakan bisnis mereka telah menggunakan AI. Dari kelompok tersebut, 85% melaporkan dampak positif teknologi tersebut terhadap produktivitas dalam 12 bulan terakhir.
Meski adopsi AI terus berkembang, pendampingan masih dibutuhkan. Sebanyak 91% responden mengatakan UMKM masih memerlukan panduan untuk memperoleh manfaat maksimal dari teknologi tersebut.
Minat terhadap pemanfaatan AI untuk pemasaran juga terbilang tinggi. Sebanyak 98% pemilik usaha kecil di Indonesia berencana menggunakan AI untuk pemasaran dan pembuatan konten dalam 12 bulan ke depan. Sementara itu, 52% menilai pelatihan AI untuk pemasaran dan pembuatan konten akan bermanfaat bagi bisnis mereka.
Temuan lain menunjukkan 59% pemilik UMKM yang bisnisnya telah menggunakan AI memanfaatkannya untuk membuat atau mengedit konten, sedangkan 39% menggunakannya untuk menganalisis informasi bisnis atau pelanggan. Namun, biaya masih menjadi salah satu tantangan, dengan 47% responden menyebut biaya sebagai hambatan untuk mengikuti pelatihan AI.
Sebagai bagian dari upaya memperluas peluang ekspor, Meta dan Kementerian Perdagangan juga menyerahkan National Export-Ready Catalogue yang memuat profil serta produk unggulan peserta program yang dinilai siap menjangkau pasar internasional.
Katalog tersebut diharapkan dapat mendukung upaya memperkenalkan produk UMKM kepada calon pembeli dan memperkuat akses pelaku usaha ke pasar ekspor. Melalui kolaborasi ini, Meta menyatakan akan terus memperluas akses UMKM terhadap teknologi dan keterampilan AI untuk menemukan pelanggan baru serta membuka peluang pertumbuhan bisnis global.
Riset Meta bersama YouGov tersebut dilakukan secara daring terhadap 3.983 pemilik UMKM di sembilan pasar, yakni Australia, Singapura, Vietnam, Indonesia, Taiwan, India, Thailand, Jepang, dan Hong Kong, pada 6 Agustus hingga 2 September 2026. Survei menggunakan kuota berdasarkan ukuran bisnis, mulai dari usaha dengan satu hingga sembilan karyawan, 10–19 karyawan, dan 20–49 karyawan.
Meta dan YouGov menyatakan temuan tersebut memberikan gambaran dari berbagai kelompok usaha kecil di setiap pasar dan bukan merupakan representasi nasional populasi UMKM.
Baca Juga: Meta Perkuat Perlindungan Remaja, Orang Tua Bisa Pantau Topik yang Ditanyakan ke AI