Growthmates, memasuki usia 40 tahun menjadi salah satu momen yang membuat Public Figure sekaligus Entertainer, Adit Insomnia, mulai lebih memperhatikan kondisi tubuhnya. Kesadaran tersebut semakin kuat setelah ia merasakan aktivitas fisik mulai terasa lebih berat dan menyadari pentingnya menjaga kesehatan sebagai seorang ayah.

Adit mengaku, sebenarnya dirinya sudah cukup lama memiliki keinginan untuk berolahraga. Namun, memulai aktivitas fisik secara rutin bukan perkara mudah baginya. Ia bahkan sempat merasa olahraga seperti lari terlalu berat untuk dilakukan dengan kondisi tubuh saat itu.

“Banyak sekali (yang memicu), salah satunya usia sudah 40 tahun. Terus kalau malam tidur, badan sudah enggak enak. Saya juga mulai sadar sebagai ayah, ingin bertanggung jawab sama tubuh sendiri. Jadi kayaknya harus mulai dijaga,” ungkap Adit, saat media gathering dan talkshow bersama berjudul Halofit 1st Anniversary: Simplifying Obesity Care & Shaping a Healthier Indonesia, yang digelar di Habitate Glasshouse, Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Kesadaran tersebut semakin kuat setelah Adit kehilangan seorang teman dekat yang meninggal dunia di usia yang menurutnya masih tergolong muda. Peristiwa itu membuatnya kembali berpikir mengenai pentingnya menjaga kesehatan dan mulai berolahraga.

“Saya juga kebetulan baru kehilangan teman dekat, meninggal, dan usianya masih muda. Jadi kayaknya, ya sudah, langsung mulai olahraga,” katanya.

Namun, Adit menyadari bahwa olahraga bukan hal yang mudah dilakukan ketika kondisi tubuh belum mendukung. Karena itu, ia merasa perlu mengelola berat badan terlebih dahulu agar aktivitas fisik bisa dilakukan dengan lebih nyaman.

“Kalau sudah mulai lari, susah juga. Jadi menurut saya, hal pertama yang dimulai adalah menurunkan berat badan dulu, jadi mungkin lebih gampang untuk jalannya,” tuturnya.

Dari 72 Kg Naik ke 86 Kg

Perjalanan Adit dalam menjaga berat badan juga mengalami perubahan cukup signifikan. Pada 2021, berat badannya masih berada di sekitar 72 kilogram. Namun, memasuki 2025, berat badannya meningkat hingga 86 kilogram. Adit mengaku, peningkatan berat badan tersebut salah satunya berkaitan dengan kebiasaan makan dan kuran berolahraga.

Namun, seiring waktu, Adit menyadari bahwa berat badannya sudah mulai menjadi perhatian yang tidak bisa diabaikan. Ia kemudian memutuskan untuk mencari program yang dapat membantunya mengelola berat badan sekaligus sesuai dengan aktivitas sehari-hari.

“Di tahun 2025, akhirnya saya memutuskan, oke, saya enggak usah tinggal diam. Saya harus cari program yang oke dan cocok,” katanya.

Hingga akhirnya, Adit mengenal Halofit dan mulai menjalani program tersebut pada 2026. Dari berat sekitar 86 kilogram, berat badannya kemudian berada di angka 74 kilogram.

Bagi Adit, menjalani program pengelolaan berat badan bukan berarti harus menghilangkan makanan yang disukai atau menjalani pola makan secara ekstrem.

Ia justru belajar mengatur konsumsi makanan berdasarkan kondisi dan kebutuhannya. Menurutnya, edukasi dan pendampingan yang diterima membuatnya lebih memahami kapan harus mengontrol makanan tertentu.

“Kalau mau dapat hasil yang maksimal, sebenarnya prosesnya dinikmati saja. Bukan yang saya enggak makan atau makan terus. Cuma mungkin dikontrol,” ujar Adit.

Ia mencontohkan, ketika sebelumnya sudah mengonsumsi makanan tertentu, ia akan lebih memperhatikan asupan pada waktu berikutnya.

“Misalnya, kalau tadi siang sudah makan atau minggu ini sudah makan tepung, ya jangan makan lagi. Bukannya enggak boleh, tapi dikontrol,” katanya.

Menurut Adit, pendekatan tersebut membuat proses menjaga berat badan terasa lebih realistis karena ia tetap bisa menjalani aktivitas dan menikmati makanan, tetapi dengan kesadaran terhadap kondisi tubuh.

Baca Juga: Halofit Ungkap Tren Pengelolaan Berat Badan di Indonesia, Seperti Apa?

Dapat Pendampingan Dokter hingga ke Kantor

Salah satu hal yang dirasakan Adit membantu selama menjalani program diet adalah fleksibilitas layanan Halofit. Sebagai entertainer yang memiliki aktivitas padat dan tidak selalu berada di rumah, ia merasa konsultasi secara digital membuat program lebih mudah dijalankan.

Adit juga sempat mendapatkan kunjungan tenaga medis untuk melakukan pemeriksaan secara langsung. Pemeriksaan tersebut mencakup pengukuran berat badan dan kondisi tubuh lainnya.

“Dokter dari Halofit bisa nyamperin kita di mana saja. Akhirnya datang, diukur berat badan, diukur body mass index dan segala macam,” jelas Adit.

Menurutnya, pola pendampingan seperti itu membuat program tidak hanya terasa diperuntukkan bagi figur publik dengan jadwal fleksibel, tetapi juga memungkinkan diterapkan oleh masyarakat dengan aktivitas kerja yang padat.

Selain konsultasi dan pemeriksaan, Adit juga mendapatkan arahan mengenai pola makan dan aktivitas fisik. Ia belajar memperhatikan komposisi makanan, termasuk asupan protein, karbohidrat, serta buah-buahan.

“Jadi itu sampai akhirnya programnya tetap tertanam di otak. Harus begini, harus begini. Pola hidup pun jadi ikut berubah, jadi lebih baik,” ujar Adit.

Adit juga menyadari bahwa aktivitas olahraga tidak selalu bisa langsung dilakukan oleh orang dengan kondisi berat badan tertentu. Ia menilai, pemilihan aktivitas perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing untuk mengurangi risiko cedera.

Karena itu, menurut Adit, pengelolaan berat badan dapat menjadi salah satu langkah awal sebelum seseorang meningkatkan aktivitas fisiknya secara bertahap.

Perubahan tersebut mulai ia rasakan dalam aktivitas sehari-hari. Salah satu pengalaman yang paling berkesan terjadi ketika Adit kembali mengikuti Fuji Rock Festival di Jepang.

Dikatakannya, setiap tahun, Adit mengikuti open trip ke festival tersebut dan biasanya harus berjalan cukup jauh, termasuk melalui jalur naik-turun menuju area camping. Pada 2024, ia mengaku perjalanan tersebut terasa cukup berat.

“Waktu 2024 itu tanjakannya sama turunnya terasa banget. Awal-awal 2025 saya sampai pakai sandal begitu, dan kayaknya ini sudah mulai harus jadi alarm buat diri sendiri. Badan ini sudah mulai berat banget,” tuturnya.

Setelah menjalani program dan mengalami penurunan berat badan, Adit pun kembali mencoba jalur tersebut pada tahun berikutnya.

“Alhamdulillah tahun ini coba tes jalan dulu, aman. Enggak ngos-ngosan lagi,” kata Adit.

Bagi Adit, pengalaman tersebut menjadi salah satu bukti perubahan yang paling terasa dalam kesehariannya. Ia pun berharap perjalanan yang dijalaninya dapat menjadi pengalaman yang membantu orang lain untuk mulai lebih memperhatikan kesehatan.

“Progress-nya ini semoga bisa membantu juga teman-teman yang lainnya,” pungkasnya.

Baca Juga: Halofit Genap Setahun, Konsultasi Pengelolaan Berat Badan Melonjak 37 Kali Lipat