Nama Raden Ajeng Kartini dijadikan sebagai simbol emansipasi perempuan di Indonesia. Narasi yang beredar, terutama pada setiap 21 April, biasanya fokus pada perjuangannya untuk pendidikan perempuan dan kutipan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Di akhir abad ke-19, akses pendidikan perempuan pribumi sangat terbatas. Tidak banyak yang bisa sekolah, apalagi belajar bahasa asing. Kartini termasuk yang punya kesempatan itu, dan ia memanfaatkannya secara maksimal. Ia membaca buku dari Eropa, bertukar surat dengan orang Belanda, dan menuliskan pandangannya soal kondisi sosial saat itu.
Dari aktivitas itu, muncul gagasan yang kemudian berpengaruh besar terhadap pendidikan perempuan di Indonesia. Beberapa fakta berikut bisa memberi gambaran yang lebih utuh tentang siapa Kartini sebenarnya.
1. “Habis Gelap Terbitlah Terang” Bukan Buku yang Ia Tulis Langsung
Kartini tidak pernah menulis buku dalam bentuk jadi. Karya yang dikenal luas itu berasal dari kumpulan suratnya kepada teman-temannya di Belanda, seperti Rosa Abendanon.
Setelah Kartini wafat, J.H. Abendanon mengumpulkan surat-surat tersebut dan menerbitkannya pada 1911 dengan judul Door Duisternis tot Licht.
Isi suratnya membahas pendidikan, kebebasan berpikir, dan posisi perempuan Jawa. Dari sini terlihat bahwa Kartini menyampaikan gagasannya lewat tulisan.
2. Kemampuan Bahasa Jadi Kunci Utama
Kartini belajar di Europeesche Lagere School dan menguasai bahasa Belanda sejak kecil. Ini bukan hal umum pada masa itu.
Baca Juga: 5 Nilai Emansipasi R.A. Kartini yang Masih Relevan di Era Digital
Dengan kemampuan ini, ia bisa membaca buku, majalah, dan pemikiran dari luar negeri. Ia tidak hanya menerima informasi, tapi juga membandingkan dengan kondisi di sekitarnya.
Data dari KompasPedia menunjukkan bahwa akses literasi ini yang membentuk cara berpikir kritis Kartini.
3. Masa Pingitan Tidak Menghentikan Aktivitas Belajar
Kartini harus menjalani pingitan sejak usia sekitar 12 tahun. Ia tidak boleh keluar rumah sampai menikah, sehingga akses pendidikan formalnya terhenti.
Namun, ia tetap belajar secara mandiri. Ia membaca buku, majalah, dan surat kabar berbahasa Belanda yang ia dapat dari relasi keluarga. Kemampuan bahasa Belanda membuatnya tetap terhubung dengan pemikiran luar.
Kartini juga rutin menulis surat kepada sahabatnya di Belanda, seperti Rosa Abendanon. Dalam surat-surat itu, ia membahas kondisi perempuan Jawa dan pentingnya pendidikan.
Baca Juga: Cara Sederhana Mengapresiasi Perempuan di Hari Kartini
Dilansir dari Kompas, masa pingitan justru menjadi fase penting yang membentuk cara berpikir Kartini, terutama soal pendidikan sebagai alat perubahan.
4. Sempat Punya Rencana Kuliah ke Belanda
Kartini pernah mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan ke Belanda melalui dukungan pejabat kolonial dan jaringan sahabatnya di Eropa. Ia berencana mempelajari pendidikan modern lalu kembali ke Jawa untuk membuka sekolah bagi perempuan.
Namun, rencana ini batal karena ia harus menikah sesuai keputusan keluarga. Situasi sosial saat itu juga membatasi pilihan perempuan, termasuk bagi Kartini sendiri.
Meski tidak jadi berangkat, Kartini tetap menjalankan misinya. Ia membuka kelas dan mengajar perempuan di sekitar Jepara dan Rembang. Dari langkah ini, gagasannya mulai diterapkan secara langsung.
5. Wafat di Usia Muda, Dampaknya Tetap Besar
Kartini meninggal dunia pada 17 September 1904 dalam usia 25 tahun, empat hari setelah melahirkan putra pertamanya, Soesalit Djojoadhiningrat, pada 13 September 1904.
Penyebab wafatnya diduga kuat akibat komplikasi preeklampsia (tekanan darah tinggi saat kehamilan), dan ia dimakamkan di Desa Bulu, Rembang.
Setelah itu, gagasannya terus berkembang. Sekolah Kartini didirikan di beberapa kota pada awal abad ke-20.
Tanggal 21 April kemudian diperingati sebagai Hari Kartini.
Kartini menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal sederhana. Ia membaca, menulis, dan menyampaikan ide secara konsisten, meski ruang geraknya terbatas.
Dampaknya terlihat nyata. Pendidikan perempuan mulai mendapat perhatian, sekolah mulai dibuka, dan pemikiran tentang kesetaraan mulai berkembang.
Kisah ini masih relevan sampai sekarang. Akses belajar sudah jauh lebih mudah. Tantangannya tinggal bagaimana memanfaatkan itu secara serius dan konsisten.