Growthmates, mengubah hidup tidak selalu harus dimulai dengan keputusan besar. Terkadang, perubahan justru berawal dari langkah-langkah sederhana, seperti memahami pola pikir sendiri, memperbaiki hubungan dengan orang lain, mengurangi waktu di dunia digital, berani menghadapi ketakutan, hingga belajar berdamai dengan luka emosional.
Buku pengembangan diri pun tidak harus selalu menawarkan janji tentang kehidupan yang sempurna. Buku yang baik justru membantu pembaca melihat kehidupan sehari-hari dengan cara yang berbeda, mengenali kebiasaan atau pola yang selama ini menghambat, kemudian menemukan langkah sederhana untuk memperbaikinya.
Dan, dikutip dari Times Now News, Rabu (7/10/2026), ada sejumlah buku pengembangan diri yang menawarkan perspektif berbeda dan tidak sekadar mengikuti daftar bacaan populer pada umumnya.
Kelima buku berikut, misalnya, membahas perubahan diri melalui berbagai tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari persahabatan, kecemasan, dan kehidupan digital hingga keberanian serta pemulihan emosional.
1. The Art of Showing Up karya Rachel Wilkerson Miller
Persahabatan di usia dewasa sering dianggap sebagai sesuatu yang akan terbentuk dengan sendirinya. Padahal, menjaga hubungan yang bermakna membutuhkan waktu, perhatian, komunikasi, dan kemauan untuk benar-benar hadir.
Dalam The Art of Showing Up, Rachel Wilkerson Miller membahas arti penting ‘hadir’ bagi diri sendiri maupun orang lain. Buku yang diterbitkan pada 2020 ini mengeksplorasi berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan modern, mulai dari kesepian, batasan diri, komunikasi, hingga bagaimana mempertahankan persahabatan di tengah kesibukan.
Pesannya terasa semakin relevan ketika kehidupan digital membuat orang mudah terhubung, tetapi tidak selalu membuat mereka merasa dekat. Buku ini mengingatkan bahwa hubungan yang kuat tidak hanya membutuhkan percakapan, tetapi juga tindakan nyata untuk menunjukkan kepedulian.
2. Your Daily Reset karya Seth J. Gillihan
Keinginan untuk mengubah hidup terkadang justru membuat seseorang kewalahan. Kita membayangkan bahwa perubahan harus dimulai dengan keputusan besar, padahal perubahan yang bertahan lama sering kali dibangun melalui langkah-langkah kecil.
Psikolog klinis Seth J. Gillihan menawarkan pendekatan tersebut melalui Your Daily Reset. Buku ini berisi 366 latihan yang berlandaskan prinsip terapi perilaku kognitif atau CBT untuk membantu pembaca mengenali pola pikir negatif, mengelola stres, serta membangun perspektif yang lebih sehat.
Daripada mendorong perubahan drastis, buku ini menekankan pentingnya konsistensi. Latihan sederhana yang dilakukan berulang kali dapat membantu seseorang memahami pikirannya sendiri dan perlahan mengubah cara menghadapi berbagai situasi sehari-hari.
Baca Juga: 10 Buku Feminis Paling Berpengaruh yang Tak Boleh Dilewatkan
3. Offline Humans karya Natalie Alzate
Hampir semua orang menyadari bahwa terlalu banyak waktu dihabiskan di depan layar. Namun, persoalan yang lebih sulit muncul ketika ponsel sudah diletakkan, yakni bagaimana sebenarnya kita ingin menjalani waktu yang tersisa?
Offline Humans karya Natalie Alzate mengajak pembaca membangun kembali kehidupan di luar dunia digital. Melalui jurnal, latihan refleksi, dan berbagai aktivitas praktis, buku ini menawarkan cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap teknologi sekaligus menciptakan pengalaman dunia nyata yang lebih bermakna.
Menariknya, Alzate sendiri memahami dunia digital dari dalam sebagai seorang kreator dengan banyak pengikut daring.
Kontradiksi tersebut justru membuat gagasan dalam bukunya menarik, yaitu memahami daya tarik internet secara mendalam dapat menjadi langkah awal untuk menentukan kapan kita perlu benar-benar terhubung dan kapan harus memilih untuk keluar dari dunia maya.
4. The Courage Gap karya Margie Warrell
Ketakutan tidak selalu terlihat seperti rasa takut. Dalam kehidupan sehari-hari, ketakutan bisa muncul sebagai kebiasaan menunda, perfeksionisme, terlalu banyak mempersiapkan diri, atau terus menunggu waktu yang dianggap tepat.
Dalam The Courage Gap, Margie Warrell menyebut jarak antara mengetahui apa yang ingin dilakukan dan benar-benar melakukannya sebagai ‘kesenjangan keberanian’.
Buku ini membahas berbagai hambatan yang membuat seseorang sulit mengambil langkah, termasuk ketakutan akan kegagalan, penolakan, impostor syndrome, dan keraguan terhadap kemampuan diri sendiri. Dengan mengacu pada psikologi dan penelitian perilaku, Warrell menunjukkan bahwa keberanian bukan semata-mata sifat bawaan.
Keberanian dapat dilatih. Seseorang tidak harus menunggu rasa takut menghilang sebelum bertindak. Justru, keberanian sering kali terbentuk ketika seseorang belajar bergerak meskipun rasa takut masih ada.
5. Beyond the Pain karya Madhur-Nain Webster
Banyak buku pengembangan diri berbicara tentang pencapaian, produktivitas, dan menjadi versi diri yang lebih baik. Namun, tidak semuanya nyaman membahas sisi kehidupan yang lebih menyakitkan seperti patah hati, kehilangan, duka, dan kekecewaan.
Beyond the Pain karya Madhur-Nain Webster mengambil pendekatan yang berbeda dengan mengajak pembaca menghadapi rasa sakit emosional melalui mindfulness, refleksi, dan latihan yang terstruktur.
Buku ini mendorong pembaca untuk mengubah cara memandang pengalaman yang telah terjadi. Rasa sakit tidak selalu harus dihapuskan,terkadang, kita perlu memahaminya agar dapat melanjutkan hidup dengan perspektif yang berbeda.
Baca Juga: 10 Buku Wajib Dibaca agar Karier Melesat dan Hidup Lebih Sukses