Growthmates, ada buku yang menuntut waktu, dan ada buku yang menuntut perhatian. Filsafat, dalam bentuknya yang paling kuat, jarang datang sebagai ceramah panjang.
Ia hadir sebagai gangguan kecil yang tenang, cukup untuk membuat kita berhenti sejenak dan melihat ulang kehidupan sehari-hari yang sering berjalan otomatis.
Tiga buku berikut tergolong pendek jika dilihat dari jumlah halaman. Namun, dampaknya jauh melampaui ukurannya.
Mereka tidak menawarkan sistem atau resep hidup instan. Sebaliknya, ketiganya meninggalkan pertanyaan yang terus tinggal di kepala pembaca, tentang waktu, kematian, dan bagaimana kita menjalani hidup yang sudah berjalan ini.
1. The Death of Ivan Ilyich karya Leo Tolstoy
Novela karya Leo Tolstoy ini menjadi salah satu potret paling jujur tentang kehidupan yang dijalani tanpa benar-benar dipertanyakan.
Ivan Ilyich bukanlah sosok jahat. Ia seorang pria yang berhasil, dihormati, dan hidup sesuai standar sosial yang dianggap benar.
Namun, ketika penyakit datang dan rutinitas serta status sosialnya perlahan runtuh, ia mulai menyadari sesuatu yang mengganggu: apakah hidupnya benar-benar bermakna?
Tolstoy tidak memberi hiburan atau pelipur lara. Justru di situlah kekuatan cerita ini. Kematian menjadi cermin yang memaksa tokohnya dan pembacanya untuk bertanya 'apakah selama ini kita hidup sesuai harapan orang lain atau sesuai kebenaran yang kita yakini sendiri?'. Buku ini singkat, tetapi sulit dilupakan.
Baca Juga: 10 Pelajaran dari Buku 'The Comfort Crisis' tentang Bahaya Hidup Terlalu Nyaman
2. Phaedo karya Plato
Dialog Plato ini merekam jam-jam terakhir Socrates sebelum ia menjalani hukuman mati. Namun alih-alih dipenuhi kesedihan, percakapan yang terjadi justru terasa jernih dan penuh ketenangan intelektual.
Dalam dialog ini, Socrates dan murid-muridnya membahas jiwa, kematian, dan arti sebenarnya dari praktik filsafat. Socrates memandang kematian bukan sebagai tragedi, melainkan ujian terakhir terhadap keyakinan yang selama ini ia ajarkan.
Yang menarik, buku ini tidak memaksa pembaca untuk setuju. Argumen-argumen Socrates berkembang perlahan, membuka ruang diskusi dan perbedaan pendapat.
Bagi pembaca masa kini, gagasan bahwa memahami kematian justru dapat membuat kita hidup lebih jujur terasa mengejutkan sekaligus relevan.
3. On the Shortness karya Seneca
Esai filsuf Romawi Seneca terasa sangat modern, seolah ditulis untuk zaman yang sibuk seperti sekarang. Pesan utamanya sederhana, namun menohok, yakni hidup sebenarnya tidak singkat, kitalah yang membuatnya terasa singkat.
Seneca mengkritik kehidupan yang habis oleh kesibukan tanpa refleksi, ambisi tanpa arah, dan perhatian yang tercecer ke hal-hal sepele.
Ia tidak menggurui, melainkan mendiagnosis kebiasaan manusia membuang waktu.
Menurutnya, masalah terbesar bukan pada kesenangan, tetapi pada penundaan. Kita terus menunda hidup sampai suatu hari sadar bahwa waktu sudah habis.
Buku ini membuat pembaca mempertanyakan ulang arti produktivitas dan bagaimana kita menggunakan perhatian, sumber daya paling terbatas yang kita miliki.
Baca Juga: 10 Buku Bisnis yang Membuka Wawasan dan Strategi Baru di Dunia Usaha