Warren Buffett selama lebih dari enam dekade konsisten mengajarkan satu prinsip penting kepada investor, yakni menghadapi gejolak pasar bukan soal menebak kapan badai akan datang, melainkan memastikan diri sudah siap ketika badai benar-benar terjadi.

Seiring dengan berakhirnya salah satu babak panjang kepemimpinan Buffett di Berkshire Hathaway, nasihat tersebut kembali relevan untuk dicermati.

Filosofi investasi Buffett tidak berpusat pada kemampuan memilih saham yang akan naik paling tinggi atau memprediksi kapan pasar akan jatuh. Sebaliknya, ia menekankan pentingnya membangun fondasi keuangan yang cukup kuat agar investor tidak mengambil keputusan dalam kondisi panik.

Salah satu ungkapan Buffett yang paling sering dikutip menggambarkan prinsip tersebut dengan sederhana adalah ‘Memprediksi hujan tidak ada gunanya. Membangun bahteralah yang penting’.

Dikutip dari The Motley Fool, pesan di balik ungkapan tersebut adalah bahwa mengenali risiko saja tidak cukup. Investor perlu melakukan persiapan sebelum risiko itu datang.

Dalam konteks keuangan pribadi, salah satu bentuk persiapan paling mendasar justru bukan strategi investasi yang rumit, melainkan memiliki dana darurat.

Secara umum, dana darurat idealnya dapat menutupi kebutuhan hidup pokok selama tiga hingga enam bulan. Bagi mereka yang memiliki tanggungan atau penghasilan yang tidak stabil, cadangan hingga enam bulan atau lebih dapat memberikan ruang bernapas yang lebih besar ketika kondisi ekonomi memburuk.

Dana tunai tersebut berfungsi sebagai semacam “bahtera” ketika pasar sedang dilanda badai. Ketika kebutuhan sehari-hari sudah tercukupi, investor tidak perlu menjual saham secara terpaksa hanya karena harga sedang jatuh.

Dengan demikian, penurunan pasar dapat dilihat sebagai kondisi yang harus dihadapi dengan tenang, bahkan berpotensi menjadi kesempatan bagi investor yang memiliki likuiditas.

Buffett sendiri telah menunjukkan bagaimana prinsip tersebut diterapkan dalam situasi nyata. Salah satu contoh paling terkenal terjadi ketika krisis keuangan global melanda pada 2008.

Dalam artikel opini yang diterbitkan The New York Times pada 2008, Buffett menulis bahwa investor sebaiknya ‘takut ketika orang lain serakah, dan serakah ketika orang lain takut’. Pernyataan tersebut disampaikan ketika krisis masih berlangsung, bukan setelah situasi kembali normal, seperti dikutip TheStreet.

Buffett kemudian membuktikan prinsip itu melalui keputusan investasi Berkshire Hathaway. Pada puncak krisis 2008, Berkshire menginvestasikan US$5 miliar di Goldman Sachs.

Berdasarkan laporan Goldman Sachs, investasi tersebut berbentuk saham preferen dengan dividen tahunan 10%, sekaligus disertai waran untuk membeli saham biasa Goldman Sachs senilai tambahan US$5 miliar dengan harga US$115 per saham.

Goldman Sachs bukan satu-satunya perusahaan besar yang mendapatkan suntikan modal dari Berkshire pada masa krisis tersebut. Berkshire juga menginvestasikan US$3 miliar di General Electric melalui saham preferen yang memberikan dividen 10%.

Kedua transaksi itu memperlihatkan bagaimana Buffett memanfaatkan situasi ketika banyak investor justru diliputi ketakutan. Ketika perusahaan-perusahaan besar membutuhkan modal dan valuasi berada di bawah tekanan, Berkshire memiliki likuiditas untuk bertindak.

Hasilnya pun signifikan. CNBC melaporkan bahwa Goldman Sachs pada 2011 membayar US$5,5 miliar kepada Berkshire untuk menebus saham preferen tersebut. Nilai itu terdiri dari pengembalian investasi awal US$5 miliar dan premi penebusan US$500 juta, belum termasuk dividen yang telah diterima Berkshire.

Pelajaran dari strategi tersebut bukan semata-mata bahwa investor harus membeli saham ketika pasar jatuh. Buffett justru menunjukkan pentingnya memiliki posisi keuangan yang memungkinkan seseorang untuk tetap rasional ketika mayoritas pasar sedang panik.

Baca Juga: Berapa Uang yang Dibawa Warren Buffett di Dompet?

Prinsip ‘membangun bahtera’ itu juga terasa semakin relevan ketika Berkshire Hathaway memasuki fase baru tanpa Buffett sebagai pemimpin utamanya.

Buffett melepaskan posisi chairman Berkshire pada 18 September, mengakhiri masa jabatannya sebagai ketua yang berlangsung sekitar 56 tahun. Dalam surat kepada para pemegang saham, Buffett menyinggung keterbatasan waktu dengan mengatakan, “Father Time always wins.”

Pergantian tersebut sebenarnya merupakan bagian dari proses suksesi yang telah dipersiapkan selama bertahun-tahun. Buffett sebelumnya telah menyerahkan posisi CEO kepada Greg Abel pada 1 Januari.

Dalam kesempatan tersebut, Buffett mengatakan kepada CNBC bahwa “Greg-lah yang akan menjadi pengambil keputusan”, menegaskan bahwa tanggung jawab atas keputusan operasional dan alokasi modal Berkshire kini berada di tangan Abel.

Peralihan kepemimpinan itu turut menjadi perhatian investor. Harga saham Berkshire sempat tertekan setelah pengumuman suksesi, sementara pasar mulai mencermati bagaimana gaya kepemimpinan Abel akan berbeda dari pendekatan Buffett yang telah membentuk Berkshire selama puluhan tahun.

Posisi chairman kemudian diberikan kepada putra Buffett, Howard Buffett. Perannya lebih diarahkan untuk menjaga budaya dan nilai-nilai Berkshire, bukan menjalankan operasional perusahaan sehari-hari yang kini menjadi tanggung jawab Abel.

Di tengah transisi tersebut, posisi keuangan Berkshire juga menunjukkan betapa pentingnya prinsip likuiditas yang selama ini menjadi bagian dari filosofi Buffett. Berkshire dilaporkan memiliki rekor cadangan kas dan Treasury bills jangka pendek senilai US$397,4 miliar.

Angka tersebut sekaligus menjadi gambaran nyata dari konsep ‘membangun bahtera’ yang telah lama digaungkan Buffett.

Daripada menghabiskan seluruh modal untuk mengejar peluang ketika pasar sedang tenang, Berkshire mempertahankan cadangan besar yang dapat digunakan ketika kesempatan muncul atau ketika kondisi pasar berubah drastis.

Baca Juga: Punya Kekayaan Miliaran Dolar, Warren Buffett Tetap Pakai Jam Tangan yang Sama Selama 40 Tahun, Ini Alasannya