Growthmates, sushi dan sashimi menjadi pilihan kuliner yang digemari karena menawarkan cita rasa ikan segar dengan penyajian yang khas.
Namun, di balik kenikmatan menyantap ikan mentah, ada risiko kesehatan yang perlu diperhatikan, terutama jika bahan makanan tidak ditangani dan diolah sesuai standar keamanan pangan.
Beberapa waktu lalu, beredar video yang memperlihatkan dugaan parasit keluar dari potongan sashimi di salah satu restoran sushi di Hong Kong.
Dalam video tersebut, seorang pelanggan mengaku menemukan cacing berbentuk linear yang merayap keluar dari ikan kinmedai ketika hendak memotret makanannya sebelum disantap. Kejadian tersebut kemudian dilaporkan kepada otoritas keamanan pangan setempat.
Menanggapi insiden tersebut, Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, mengingatkan masyarakat agar lebih selektif ketika memilih tempat makan, khususnya jika ingin mengonsumsi ikan mentah.
Menurut dr. Karina, ikan mentah memiliki risiko mengandung berbagai jenis parasit, mulai dari cacing pita (Diphyllobothrium spp.), nematoda, trematoda, hingga protozoa.
Jika masuk ke dalam tubuh, parasit tersebut dapat menyebabkan infeksi dengan gejala yang tingkat dan waktunya dapat berbeda-beda.
Gangguan saluran cerna akibat infeksi parasit dapat muncul mulai dari sekitar 1–2 jam hingga 14 hari setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Beberapa gejala yang dapat dirasakan antara lain mual, muntah, diare yang terkadang disertai darah, nyeri perut, pusing, demam, hingga menggigil.
“Dalam kasus kronis, infeksi ini dapat menyebabkan anemia, penurunan berat badan, defisiensi vitamin B12, serta peradangan pada saluran empedu (kolangitis) atau pankreas (pankreatitis),” tutur dr. Karina, sebagaimana Olenka kutip dari laman IPB University, Senin (5/10/2026).
Meski demikian, risiko tersebut dapat ditekan apabila ikan ditangani dengan prosedur keamanan pangan yang tepat.
Baca Juga: Jangan Asal Makan, Ikan Kakap Bisa Berbahaya dalam Kondisi Ini
Menurut dr. Karina, proses penyimpanan hingga pengolahan menjadi bagian penting untuk membantu mematikan larva parasit yang mungkin terdapat pada ikan.
Salah satu metode yang dapat digunakan adalah memasak ikan pada suhu 55 derajat Celsius selama lima menit.
Metode lainnya adalah pembekuan pada suhu ekstrem, yakni -20 derajat Celsius selama tujuh hari atau -35 derajat Celsius selama 15 jam untuk daging ikan dengan ketebalan kurang dari 15 sentimeter.
Penerapan standar tersebut bukan hanya menjadi tanggung jawab konsumen, tetapi juga restoran. Pengelola restoran perlu memastikan ikan disimpan pada suhu dan durasi yang sesuai, serta menerapkan prosedur keamanan pangan secara konsisten sejak bahan baku diterima hingga disajikan kepada pelanggan.
Sementara bagi konsumen, terutama kelompok yang lebih rentan seperti anak-anak dan lansia, memilih menu sushi atau hidangan berbahan ikan yang telah dimasak dapat menjadi langkah pencegahan yang lebih aman.
Konsumen juga perlu mempertimbangkan reputasi dan penerapan standar kebersihan serta keamanan pangan di restoran sebelum memilih makanan berbahan ikan mentah.
Upaya pencegahan pun tidak berhenti pada proses pengolahan makanan. dr. Karina menekankan bahwa sanitasi lingkungan juga memiliki peran penting dalam memutus siklus hidup parasit.
Pengelolaan limbah feses yang baik, termasuk penggunaan septic tank yang memenuhi standar, diperlukan agar telur parasit tidak mencemari lingkungan dan ekosistem perairan.
Dengan demikian, menikmati sushi dan sashimi tetap dapat dilakukan dengan lebih bijak selama aspek keamanan pangan dan kebersihan diperhatikan. Mulai dari pemilihan restoran, penanganan ikan, hingga menjaga sanitasi lingkungan, setiap tahapan memiliki peran dalam mengurangi risiko paparan parasit dari ikan mentah.
Baca Juga: Dokter Ahli Mikrobiologi Klinis Ungkap Bahaya Mencuci Ayam Mentah Sebelum Dimasak, Apa Risikonya?