Tren fiber maxxing tengah ramai di media sosial. Tren ini mendorong masyarakat untuk meningkatkan konsumsi serat secara signifikan, bahkan hingga 50–100 gram per hari, dengan tujuan menjaga kesehatan saluran pencernaan. Namun, meningkatkan asupan serat secara berlebihan bukan berarti selalu lebih baik.

Pakar gizi masyarakat IPB University, Prof. Ali Khomsan, mengingatkan bahwa kebutuhan serat pada umumnya dapat dipenuhi melalui pola makan bergizi seimbang tanpa harus mengandalkan suplemen.

Menurutnya, yang lebih penting bukan sekadar mengejar jumlah serat sebanyak-banyaknya, melainkan memastikan asupannya sesuai kebutuhan tubuh.

“Suatu makanan atau sumber gizi apabila dikonsumsi secara berlebihan tentu saja bisa menimbulkan gangguan kesehatan. Serat yang dikonsumsi berlebihan juga dapat mengganggu serapan zat gizi lain,” tutur Prof. Ali, sebagaimana Olenka kutip dari laman IPB University, Rabu (30/9/2026).

Pada dasarnya, fiber maxxing merupakan upaya meningkatkan konsumsi serat karena zat gizi tersebut memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan, terutama saluran pencernaan.

Meski demikian, Prof. Ali menegaskan bahwa konsumsi serat tetap perlu mengikuti anjuran dan menjadi bagian dari pola makan yang beragam.

Untuk orang dewasa, kata dia, kebutuhan serat umumnya berada di kisaran 20–30 gram per hari. Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan rutin mengonsumsi berbagai sumber serat alami, seperti sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian utuh (whole grains).

Karena itu, orang yang sudah menerapkan pola makan sehat dan beragam pada dasarnya tidak perlu menambahkan suplemen serat.

Suplemen dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu, misalnya pada lansia yang mengalami penurunan nafsu makan, pasien dalam masa pemulihan, atau orang dengan kondisi kesehatan tertentu yang membuat kebutuhan gizinya sulit dipenuhi hanya dari makanan.

“Jadi, suplemen diperlukan dalam batas tertentu dan tergantung pada problem makan yang sedang dihadapi,” katanya.

Baca Juga: Kenali 5 Camilan Populer yang Ternyata Rendah Serat

Di sisi lain, persoalan konsumsi serat di Indonesia justru lebih banyak berkaitan dengan masih rendahnya konsumsi sayur dan buah.

Prof. Ali mengungkapkan, berdasarkan berbagai survei, sekitar 90 persen masyarakat belum memenuhi kebutuhan konsumsi sayur dan buah. Kondisi tersebut turut membuat asupan serat masyarakat menjadi rendah.

Padahal, sumber serat alami relatif mudah ditemukan dalam makanan sehari-hari. Beragam sayuran dan buah dapat menjadi pilihan, termasuk apel dan pir yang dapat dikonsumsi bersama kulitnya setelah dicuci hingga bersih.

“Pada kulit apel dan pir terdapat serat larut yang baik untuk membantu mengendalikan kolesterol sekaligus menjaga kesehatan saluran cerna,” jelasnya.

Prof. Ali juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mengikuti tren kesehatan yang hanya berfokus pada satu jenis zat gizi.

lih-alih mengejar asupan serat dalam jumlah sangat tinggi, pola makan beragam dan seimbang tetap menjadi dasar pemenuhan kebutuhan gizi.

Menurut Prof. Ali, pedoman Gizi Seimbang dan konsep “Isi Piringku” dari Kementerian Kesehatan dapat menjadi acuan dalam mengatur pola makan sehari-hari.

Dengan mengonsumsi sayur dan buah secara cukup serta memilih sumber makanan yang beragam, kebutuhan serat dapat dipenuhi tanpa harus bergantung pada suplemen.

“Minimal konsumsi lima porsi sayur dan buah setiap hari atau sekitar 400 gram sesuai anjuran WHO. Dengan pola makan yang beragam, kebutuhan serat akan lebih mudah terpenuhi dan kesehatan dapat terjaga secara berkelanjutan,” tutup Prof. Ali.

Baca Juga: 5 Olahan Plant-Based Kaya Protein dan Serat untuk Menu Harian Sehat