Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali bikin hubungan dengan negara tetangga ikut memanas. Kali ini, Malaysia terang-terangan melayangkan protes setelah pernyataan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Syahganda Nainggolan soal asap dan oksigen menuai sorotan.

Pemimpin Pengimbang Dewan Undangan Negeri (DUN) Johor, Andrew Chen Kah Eng, mendesak pemerintah Indonesia lebih serius menangani pencemaran udara lintas batas. Tak cuma itu, ia juga meminta Indonesia menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga di ASEAN yang ikut terdampak.

Andrew secara khusus mempersoalkan pernyataan Syahganda yang menyebut Indonesia bukan hanya mengirim asap ke negara tetangga, tetapi juga memasok oksigen bagi Malaysia dan Singapura melalui hutan-hutannya.

Baca Juga: Pakar IPB Ungkap Bahaya Asap Karhutla bagi Orang Utan di Kalimantan dan Sumatera

Menurut Andrew, pernyataan tersebut tidak pantas dilontarkan ketika masyarakat di negara tetangga harus berhadapan dengan dampak buruk pencemaran udara.

“Rakyat Malaysia menderita akibat pencemaran ini, tetapi pejabat Anda justru seolah mempermainkan kesehatan kami,” kata Andrew dalam keterangan resminya dikutip Rabu (14/10/2026).

Bagi Andrew, persoalan kabut asap bukan perkara sepele yang bisa dibalas dengan candaan atau adu pernyataan antarpejabat. Ada kesehatan masyarakat yang dipertaruhkan ketika kualitas udara memburuk akibat pencemaran lintas batas.

“Sikap seperti ini tidak dapat diterima. Kesehatan dan nyawa rakyat bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan bahan gurauan,” tegasnya.

Andrew kemudian mendesak pemerintah Indonesia berhenti bersikap acuh terhadap persoalan kabut asap lintas batas. Menurutnya, penderitaan masyarakat Malaysia seharusnya cukup menjadi alasan bagi pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah yang lebih serius.

Desakan tersebut bahkan dibawa lebih jauh. Anggota DUN yang mewakili kawasan Stulang itu meminta Indonesia menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga di ASEAN atas persoalan kabut asap yang dampaknya dirasakan hingga ke luar wilayah Indonesia.

Andrew juga mengingatkan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan ASEAN telah memiliki deklarasi bersama yang mengakui hak atas lingkungan yang bersih, aman, dan sehat sebagai hak asasi manusia universal.

Baca Juga: Karhutla Tak Kunjung Usai, Dokter Tirta Ingatkan Dampak Asap dan Pentingnya Kepedulian

Ia menggunakan prinsip tersebut untuk menegaskan bahwa persoalan kualitas udara tidak seharusnya diperlakukan sebagai bahan lelucon, terlebih ketika dampaknya menyentuh kesehatan masyarakat.

Kontroversi ini bermula dari pernyataan Syahganda ketika membahas kekhawatiran Malaysia dan Singapura terhadap polusi udara akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.

“Kita bukan hanya mengirim asap, tapi kalau asapnya enggak ada, kita mengirim oksigen. Oksigen Singapura dan Malaysia itu kan datang dari hutan-hutan kita,” kata Syahganda.

Pernyataan tersebut kemudian menjadi bumerang. Alih-alih meredakan kekhawatiran negara tetangga, ucapan mengenai pasokan oksigen dari hutan Indonesia justru dianggap Andrew mengabaikan kondisi masyarakat Malaysia yang harus menghadapi dampak pencemaran.

Padahal, Syahganda sebelumnya menyatakan pemerintah Indonesia memahami kekhawatiran Malaysia dan Singapura terkait polusi udara akibat asap kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia.

Di sinilah letak polemiknya. Ketika pemerintah Indonesia menyoroti kontribusi hutan dalam memasok oksigen, pihak Malaysia justru meminta hal yang lebih mendasar: jangan sampai warga mereka harus menghirup udara tercemar akibat karhutla.

Persoalan kabut asap pun kembali menyeret isu lingkungan ke dalam hubungan Indonesia dengan negara-negara ASEAN. Bukan hanya soal bagaimana karhutla ditangani, tetapi juga bagaimana pejabat pemerintah berkomunikasi ketika dampaknya sudah melewati batas negara.

Baca Juga: Ikut Terpapar Asap, Singapura Siap Bantu Indonesia Padamkan Karhutla

Sebab, bagi negara tetangga yang ikut terdampak, persoalannya bukan lagi soal siapa yang paling banyak menyumbang oksigen. Namun, yang mereka persoalkan adalah udara yang mereka hirup.

Hingga informasi dalam bahan ini disampaikan, Andrew telah menyampaikan keberatan sekaligus tuntutan permintaan maaf. Sementara itu, tanggapan khusus Syahganda atas kritik tersebut belum tercantum.