Berdasarkan The 2026 ECommerce Savvy Shopper Report: Southeast Asia (Laporan Konsumen Cerdas 2026: Asia Tenggara) yang disusun oleh Lazada bersama Cube, perusahaan eCommerce intelligence, sekitar 3 dari 10 konsumen eCommerce Indonesia dapat dikategorikan sebagai Konsumen Cerdas atau Savvy Shoppers yang menjadi penggerak pertumbuhan pasar. Studi ini juga menunjukkan bahwa Konsumen Cerdas tersebut memiliki tingkat belanja yang lebih tinggi dibandingkan Konsumen Biasa atau General Shoppers dengan selisih nilai belanja yang diperkirakan mencapai Rp65 triliun (US$3,6 miliar) pada 2026.

Studi ini adalah inisiatif dari Lazada yang dilaksanakan bersama Cube melalui survei terhadap 6.000 konsumen online berusia 18–61 tahun di enam negara di Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam. Dalam laporan tersebut, Lazada dan Cube mendefinisikan Konsumen Cerdas berdasarkan empat dimensi, atau aspek penilaian, yaitu:

  • Verifikasi: seberapa jeli konsumen menimbang produk, ulasan, penjual, dan indikator keaslian;
  • Optimasi Nilai Belanja: seberapa teliti konsumen membandingkan ragam penawaran, promosi, dan nilai keseluruhan;
  • Rasa Yakin & Aman: seberapa paham konsumen akan perlindungan, kebijakan pengembalian, dan kredibilitas penjual;
  • Kecakapan Digital: seberapa mahir konsumen memanfaatkan platform, informasi digital, social commerce, serta teknologi terkini seperti AI.

Baca Juga: Lazada 9.9 Sale, Konsumen Dorong Penjualan LazMall hingga 6 Kali Lipat

Studi ini menemukan bahwa seiring matangnya industri eCommerce Indonesia yang kini sudah berkembang melampaui fase adopsi, konsumen pun semakin menunjukkan kemampuan untuk berbelanja dengan cerdas.

"Gelombang pertumbuhan berikutnya bagi eCommerce Asia Tenggara, yang kini sudah berkembang melampaui fase adopsi, akan ditentukan oleh kemampuan platform membantu konsumen berbelanja secara lebih mendalam dan percaya diri,” ujar Carlos Otermin Barrera, CEO Lazada Indonesia, “Konsumen Cerdas pun menjadi gambaran masa depan eCommerce di mana para konsumen berinteraksi lebih dekat dengan platform, membelanjakan uang dengan yakin, serta mampu menakar dengan baik aspek-aspek seperti nilai belanja, rasa percaya, perlindungan konsumen, dan teknologi.”

Simon Torring, Co-Founder Cube, mengatakan, "Studi tahun ini menunjukkan bahwa kecerdasan konsumen menjadi indikator utama kematangan pasar. Ini dikarenakan konsumen cerdas mampu memastikan keaslian produk, menimbang nilai belanja, mengelola risiko, dan memanfaatkan teknologi secara optimal. Kesimpulan yang paling menarik adalah belanja cerdas bukan semata-mata tentang sensitivitas harga, melainkan juga tentang perilaku konsumen yang lebih terarah, mengambil keputusan berdasarkan informasi, dan merasa percaya diri dalam memanfaatkan ekosistem eCommerce.”

Temuan utama dari 2026 ECommerce Savvy Shopper Report: Southeast Asia meliputi:

  • 1 dari 4 konsumen di Asia Tenggara tergolong sebagai Konsumen Cerdas dengan skor di atas median regional pada keempat dimensi yang menjadi aspek penilaian utama;
  • 3 dari 10 (28%) konsumen online di Indonesia tergolong Konsumen Cerdas, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan persentase Konsumen Cerdas tertinggi kedua setelah Filipina (36%);
  • 19% konsumen online Indonesia lainnya hanya terpaut satu dimensi untuk digolongkan sebagai Savvy Shopper sehingga secara keseluruhan, proporsi Savvy dan near-Savvy Shoppers, atau calon Konsumen Cerdas, mencapai hampir setengah dari total pasar;
  • Di Indonesia, Konsumen Cerdas mengeluarkan 19% lebih banyak setiap bulannya dibanding Konsumen Biasa untuk berbelanja di eCommerce.

Apabila memperhitungkan skala pasar eCommerce Indonesia, selisih pengeluaran pembelanjaan eCommerce antara Konsumen Cerdas dengan Konsumen Biasa diperkirakan senilai Rp65 triliun (US$3,6 triliun) pada 2026. Angka ini mencerminkan potensi dan dampak besar Konsumen Cerdas bagi pasar eCommerce Indonesia.

Konsumen Cerdas Membuka Peluang Pasar Baru

Semakin matangnya sektor eCommerce di Indonesia membuka peluang bagi industri untuk membantu lebih banyak konsumen berbelanja dengan lebih percaya diri, seperti dengan memudahkan konsumen memastikan keaslian produk, mengoptimalkan nilai belanja, mengelola risiko, dan memakai berbagai fitur digital secara efektif. Di sini, brand dan seller perlu menghadirkan nilai terbaik sambil menjaga kepercayaan yang menjadi dasar dari keputusan pembelian.

Bagi Lazada, semua temuan ini semakin menegaskan fokusnya dalam membangun ekosistem eCommerce tepercaya dengan menghadirkan brand autentik, nilai lebih, perlindungan pembelian, dan teknologi cerdas yang bertujuan memberdayakan lebih banyak konsumen untuk menjadi pembelanja yang cerdas dan percaya diri. 

"Di Lazada, kami membangun ekosistem eCommerce tepercaya yang menawarkan produk autentik dari brand resmi, selain nilai terbaik, perlindungan di setiap tahap pembelian, serta berbagai teknologi cerdas. Tujuan kami adalah membantu konsumen mengambil keputusan belanja secara tepat dengan lebih yakin, sekaligus memungkinkan brand dan seller terhubung ke konsumen yang semakin cermat," tutup Carlos.